Khutbah Jumat: Hikmah Keteladanan Keluarga Ibrahim, (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

بســــــــــــــــــم الله الرحمن الرحيم

Khutbah pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَوِيِّ الْمَتِيْنِ. سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ. وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيْهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ. بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ وَعَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ صَالِحِ الْعَبِيْدِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ،أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Bulan Dzulhijjah adalah bulan istimewa bagi umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan bulan ini karena di dalamnya Dia memerintahkan umat Islam untuk melakanakan ibadah haji. Hari ini, para tamu-tamu Allah sedang menjalankan puncak haji, yakni wukuf di Arafah, dan bagi yang belum mampu, Allah perintahkan berpuasa, melaksanakan Shalat Idul Adha di hari berikutnya, dan menyembelih qurban sampai berakhirnya hari Tasyrik.

Teruntuk saudara-saudara kita yang sedang berhaji, menjadi tamu Allah Subhanahu wa Ta’ala, mari kita doakan, mudah-mudahan diberikan kesehatan dalam melaksanakan ibadahnya dengan penuh khidmat dan khusyu’.

Setelah kembali dari Tanah Suci, semoga mereka semua menjadi haji mabrur, yang mengantarkan mereka menjadi pribadi yang shaleh dan muslih, yang membawa dan menebarkan kebaikan, kepada masyarakat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pada khutbah ini, marilah kita merenungkan Al-Qur’an Surah Ibrahim [14]: ayat ke 37:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابرهيم [١٤]: ٣٧)

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan, Nabi Ibrahim Alaihis Salam berdoa kepada Allah Ta’ala agar anak keturunannya menjadi orang-orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Kemudian Allah mengabulkan doa beliau dengan lahirnya Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi Wasalam dari keturunan Nabi Ismail Alaihi salam yang melanjutkan risalah kenabian, memurnikan tauhid dan mendirikan shalat.

Setelah itu, Nabi Ibrahim Alaihis Salam melanjutkan doanya, agar keturunannya kelak menyambut seruan dengan menuniakan haji di Baitullah dan memiliki kerinduan untuk dapat kembali ke tempat itu. Maka, semakin sering seseorang menjalankan haji dan umrah, semakin tinggi rasa kerinduan, dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk dapat ke sana lagi. Inilah rahasia kenapa lafazh “bait (rumah)” dinisbatkan kepada Dzat-Nya yang suci menjadi Baitullah (artinya rumah Allah).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Sebuah kisah menarik tentang keluarga Nabi Ibrahim Alaihis Salam, ditulis dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah. Siti Hajar ketika hendak ditinggal pergi oleh Nabi Ibrahim, ia bertanya, “Akan kemana engkau wahai Suamiku?”

Pertanyaan itu diulang tiga kali tanpa mendapat jawaban. Sampai akhirnya, Hajar bertanya kembali, “Apakah ini merupakan perintah Tuhanmu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”

Mendengar jawaban dari Sang Suami, Siti Hajar berkesimpulan, dengan berucap, “Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.” Itulah letak kepasrahan total dari Siti Hajar atas keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika persediaan air yang ditinggalkan Nabi Ibrahim Alaihis Salam sudah habis, Siti Hajar mencari air untuk putranya, yang terkenal dengan peristiwa Shafa dan Marwa. Hajar melakukan sa’i (lari-lari kecil hingga tujuh kali pulang pergi).

Hal ini mengisyaratkan bahwa setiap pekerjaan harus dimulai dengan niat yang bersih karena Shafa berarti bersih, sehingga bisa mencapai Marwa yang berarti menuai atau memanen.

Pengulang-ulangan dalam menjalankan ikhtiar mengandung hikmah agar manusia tidak mudah putus asa, dan selalu berharap pertolongan Allah. Air yang dicari oleh Siti Hajar, ternyata keluar dari kaki Ismail mengandung isyarat bahwa, terkadang orang tua yang berusaha, namun Allah berikan rejeki melalui anaknya. Itulah kisah air zam- zam yang sangat fenomenal.

Dalam konteks perjuangan para ulama kontemporer, bisa kita saksikan, anak cucu dan keturunan para ulama merasakan buah perjuangan orang tua dan kakek-neneknya, hingga mereka merasakan keberkahan yang terus menerus mengalir.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim Alaihis Salam adalah mampu membangun komunikasi yang baik kepada orang tua, istri, dan anaknya.

Orang tua Nabi Ibrahim Alaihis Salam bernama Azar profesinya sebagai pembuat berhala. Akan tetapi, Nabi Ibrahim mampu menyampaikan dakwahnya dengan santun, tanpa menyakiti hati orang tuanya. Bahkan Nabi Ibrahim Alaihis Salam terus mendoakan orang tuanya agar diberi hidayah, kembali kepada jalan tauhid.

Kepada istrinya, Siti Hajar, Nabi Ibrahim Alaihis Salam juga berhasil mendidik dan membangun komunikasi yang bagus. Puncaknya, ketika Sang Suami mendapat perintah untuk meninggalkan diri dan anaknya di padang tandus, Siti Hajar merelakan kepergiannya dengan tawakkal yang penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kepada putranya tercinta, Nabi Ibrahim Alaihis Salam sukses menanamkan tauhid yang kokoh dan akhlak mulia kepada Nabi Ismail Alaihi Salam. Kisah tersebut termaktub dalam Al-Quran, tentang bagaimana Nabi Ibrahim Alaihis Salam berkomunikasi dengan putra tercinta ketika mendapat wahyu untuk menyembelihnya, sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya dalam surah As-Shaffat [37] ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Sang putra menunjukkan kekokohan aqidah, keluhuran dan kemuliaan akhlaknya. Dengan tanpa reserve, tanpa alasan, dan tanpa penundaan waktu, Ismail muda menyatakan siap melaksanakan perintah Allah, siap berkorban, meskipun dirinya sendiri yang menjadi korbannya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pendidikan merupakan pemberian terbaik orang tua kepada anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda:

 مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ (رواه الترمذى)

 Tidak ada pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anak, melainkan pendidikan yang baik.” (HR Tirmidzi).

Pendidikan tauhid dan akhlak dalam keluarga merupakan landasan utama dalam pembentukan karakter menuju pribadi yang siap menghadapi masa depan penuh tantangan.

Dengan tauhid yang kokoh dan akhlak mulia, seseorang tidak akan mudah mengalami goncangan jiwa. Apalagi di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, tantangan dan godaan semakin berat bagi generasi muda kita.

Tauhid yang kokoh dan akhlak mulia akan senantiasa memberikan ketentraman dalam hati, selalu berpikir dan berperilaku positif, serta menjadi sumber motivasi dalam segala kondisi untuk tetap berbuat yang terbaik, karena hanya kepada Allah lah segala amal dipersembahkan.

Dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai tauhid dan akhlak juga memiliki peranan penting. Kekuatan tauhid dan akhlak akan menjadikan ikatan dan norma dalam bermasyarakat menjadi kuat, kokoh dan tidak lapuk oleh terpaan filsafat dan teori-teori tokoh kontemporer yang nisbi.

Kelangsungan pembangunan suatu masyarakat dan kemajuan peradaban suatu bangsa tercermin dari bagaimana kegigihan masyarakat dalam memegang teguh nilai-nilai akhlak di antara mereka. Nilai akhlak yang luhur berawal dari kekuatan tauhid yang kokoh.

Selain itu, sumber daya manusia (SDM) berkualitas, yang tercermin dalam keimanan, ketaqwaan, serta serta keluhuran akhlak akan membentengi masyarakat dari segala perbuatan maksiat dan permusuhan yang dapat merongrong keutuhan dan kerukunan mereka, sebagaimana disebutkan oleh sastrawan, Syauqi Bey dalam syairnya:

اِنَّمَآلْاُمَمُ الْاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ  .وَاِنْ هُمُّ ذَهَبَتْ اَخلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

Hidup dan bangunnya suatu bangsa bergantung pada akhlaknya, jika akhlak itu menghilang, bangsa itu hilang bersamaannya.”

Jika nilai-nilai tauhid sudah hadir dalam hati setiap anggota masyarakat dan terimplementasi dalam akhlak mulia, maka pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa menyertai dalam setiap perjalanan kehidupan. Karena tauhid bukan sekadar teori, tetapi ia merupakan kesatuan antara keyakinan yang diimplementasikan dalam setiap gerak langkah dalam bingkai akhlak mulia menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2:

اَلحَمْدُ لِلّٰهِ حَقَّ حَمْدِهِ. وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَالصَّلاَةُ وَاسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِعَبْدِهِ، مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ لِقَاَرَبّهِ. أَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الُمسْلِمِيْنَ إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ لنّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

(A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)