Khutbah Jumat: Kebenaran Al-Jama’ah Bukan Karena Jumlah

 

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Senior MINA

 

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَّالَهُ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*

Hadirin Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah memerintahkan kita umat Islam untuk bersatu padu dalam satu Al-jama’ah, dan melarang kita untuk berfirqah-firqah.

Marilah kita menjaga, memelihara dan meningkatkan takwa kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah masing-masing diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS Al-Hasyr: 18).

Hadirin yang Dirahmati Allah

Bahwa Al-Jama’ah sebagai kebenaran dari Allah, adalah mutlak karena berdasarkan dalil-dalil qath’i Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa kebenaran tidak memandang jumlah.

Allah menyatakan bahwa keadaan umum manusia justru adalah berada dalam kesesatan, kejahilan dan jauh dari iman yang benar. Seperti firman-Nya:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS Al-An’am: 116).

Pada ayat lain Allah menyebutkan:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS Yusuf: 103).

Bahkan ada Nabi utusan Allah yang memiliki sedikit pengikut, ada yang hanya sekelompok orang, ada pula yang hanya beberapa orang. Bahkan ada yang tidak memiliki pengikut.

Andai kebenaran (al-haq) itu berdasarkan jumlah, maka mereka para Nabi itu dianggap salah.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menyebutkan bahwa Islam itu sendiri awalnya asing, dan akan kembali menjadi asing kelak. Nabi malah memuji orang-orang yang masih mengamalkan ajaran Islam ketika itu. walaupun jumlahnya sedikit tidak sebanyak mereka yang ingkar kepada Allah.

Seperti disebutkan di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Artinya:Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.(HR Muslim).

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah

Demikian halnya, dalam mengamalkan Al-Jama’ah, wadah kesatuan kaum Muslimin yang dipimpin oleh seorang Imaamul Muslimin, semuanya adalah berdasarkan dalil-dalil yang kuat.

Allah menyebutkan di dalam ayat:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah dengan berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103).

Imam Al-Qurthubi menjelaskan tentang ayat ini, sesungguhnya Allah memerintahkan supaya kaum Muslimin bersatu padu dalam Al-Jama’ah dan melarang berfirqah-firqah, karena perpecahan itu adalah kerusakan dan Al-Jama’ah itu adalah keselamatan.

Tentang pengamal Al-Jama’ah itu kalaupun jumlahnya sedikit, tetapi ia tetap haq. Seperti dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:

اِنَّ جُمْهُوْر النَّاسِ فَارِقُوْا الْجَمَاعَة ،وَانَّ اَلْجَمَاعَة مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَاِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ.

Artinya: “Sesungguhnya kebanyakan manusia akan meninggalkan Al-Jama’ah, dan sesungguhnya Al-Jama’ah ialah apabila mengikuti kebenaran sekalipun engkau hanya seorang diri.”

Sebab kebenaran itu berdasarkan wahyu dari Allah, bukan berdasarkan pemikiran manusia.

Di dalam ayat Allah menegaskan:

اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.

Artinya: “Kebenaran itu dari Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al-Baqarah: 147).

Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang iman dan istiqamah dalam mengamalkan Al-Jama’ah. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)