Khutbah Jumat: Keutamaan Syukur dan Sabar

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ, إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Sidang Jumat rahimakumullah,

Segala puji hanya milik Allah Tuhan alam semesta dan seisinya. Marilah kita jaga dan tingkatkan takwa kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya.

Takwa dalam artian, selalu berusaha menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, mentaati-Nya dan tidak memaksiati-Nya, berdzikir kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya, serta senantiasa mensyukuri-Nya dan tidak mengingkari-Nya.

Hadirin yang berbahagia,

Hidup bagai roda kendaraan, kadang di atas, sesekali di bawah. Suka dan duka saling bertautan, sedih dan gembira silih berganti. Dan begitulah, bagi orang beriman, semia itu merupakan bagian dari ibadah. Dan ia akan tetap beribadah kepadanya baik dalam keadaan kekurangan maka ia bersabar, atau dalam berkecukupan ia pun bersyukur.

Rasulullah Sahallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutnya di dalam sabdanya:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ رواه مسلم

Artinya: “Sungguh mengagumkan perihal seorang yang beriman. Semua urusannya menjadi baik, dan hal itu tidak terjadi pada seorangpun kecuali orang beriman. Jika mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur, dan hal itu adalah suatu kebaikan baginya. Dan jika mendapatkan musibah, ia bersabar, dan hal itu pun adalah suatu kebaikan baginya”. (H.R. Muslim)

Sifat mukmin pertama di sini adalah apabila ia pandai bersyukur kepada Allah, maka ia akan memperoleh kebaikan, yakni ditambahkannya nikmat-Nya.

Allah menyebut di dalam ayat-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim: 7).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menguraikan, syukur pada hakikatnya adalah terlihatnya bekas dari nikmat Allah pada lisan seorang hamba yang berwujud pujian dan pengakuan, pada hatinya yang berwujud kesaksian dan kecintaan, serta pada anggota badannya yang berwujud ketundukan dan ketaatan”.

Teladan kita dalam hal ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lisan beliau senantiasa basah dengan dzikir dan puji-pujian kepada Allah, hati beliau penuh dengan keimanan dan kecintaan yang besar kepada Allah, serta fisik beliau tidak pernah berhenti beribadah kepada Allah meski dalam keadaan lelah dan sakit. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah menuturkan, ”Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu melakukan shalat tahajud sampai bengkak kedua kakinya. Lalu aku bertanya,” Apakah engkau melakukan semua ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik pada masa lalu maupun yang akan datang?”. Beliau hanya menjawab:

أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Artinya: “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kaum Muslimin yang Allah muliakan,

Sifat yang kedua dari orang beriman adalah dia bersabar atas segala ujian dan musibah yang menimpanya.

Allah menyebut di dalam ayat-Nya:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 35).

Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ujian. Allah uji manusia dengan kebaikan dan keburukan. Orang yang diuji dengan kejelekan ia bersabar dan ketika diuji dengan kenikmatan ia bersyukur, inilah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan.

Pada ayat lain Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ* الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, yang artinya “Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami kepada-Nya kembali.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-156).

Kemudian Allah lanjutkan firman-Nya, memuji orang-orang yang berlaku sabar demikian.

أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 157).

Hadirin rahimakumullah,

Justru kalau kita perhatikan, musibah kepada para hamba-Nya sebagai ujian, yang paling besar dan paling berat adalah musibah yang menimpa para Nabi kemudian orang-orang shalih.

Allah menyebut di dalam ayat:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمْ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 214).

Begitulah, maka yang terpenting sekarang adalah marilah kita segera bertaubat, menemui ampunan Allah, sebagaimana perintah-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imran [3]: 133).

Dan, marilah kira senantiasa memohon pertolongan Allah dengan penuh kesabaran dan dengan tetap menjaga shalat. Sebagaimana firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar . (Q.S. Al-Baqarah [2]: 153). (P4/P2)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)