Khutbah Jumat: Masjidil Aqsa Jiwa dan Ruh Kami (Oleh: Sakuri)

Oleh: Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah shalat Jumat yang mengharap ridho dan ampunan Allah.

Mengawali khutbah Jumat siang hari ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah shalat Jumat untuk memuji Allah dengan sebaik-baik pujian, sebagaimana perintah Allah dalam Surat Al-Isra ayat 111:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (Al-Isra ayat 111).

Khatib juga mengajak kepada seluruh Jamaah shalat Jumat untuk menyampaikan sholawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai perwujudan pengamalan perintah Allah dalam Surat Al-Ahzab 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab 56)

Selanjutnya dari mimbar ini, khatib mewasiatkan untuk dirinya dan seluruh Jamaah shalat Jumat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.

Wasiat takwa adalah perintah Allah untuk seluruh umat manusia dari zaman ke zaman, baik umat terdahulu maupun sekarang.

Namun bila sudah diperingatkan dengan wasiat tetapi tetap dalam kekafiran, maka ketahuilah, sesungguhnya, kata Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Cukuplah Allah sebagai pemelihara terhadap apa-apa yang dimiliki-Nya, baik apa yang ada di langit maupun apa yang ada di bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nisaa 131 dan 132:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (An-Nisaa 131)

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisaa 132)

Jamaah shalat Jumat yang mengharap ridho dan ampunan Allah

Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump beberapa waktu lalu yang mengusulkan “Kesepakatan Abad Ini”, dengan skema menjadikan daerah pinggiran Yerusalem sebagai ibu kota Palestina, sementara Kota Tua Yerusalem akan menjadi ibu kota Israel, sontak memicu kemarahan umat Islam dan publik dunia international.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menentang usulan itu dengan mengatakan Yerusalem tidak untuk dijual dan tidak untuk tawar-menawar, semua hak bangsa Palestina. Dan gelombang unjuk rasa menentang rencana itu digelar di seantro kota-kota besar di dunia.

Di kota tua Yerussalem adalah tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa, tempat suci ke tiga setelah Masjidil Haram di Makkah Al Mukarromah dan Masjid Nabawi di Madinatul Munawwarah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ﻻ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣﺎﻝُ ﺇﻻ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔِ ﻣﺴﺎﺟﺪَ : ﺍﻟﻤﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺤَﺮﺍﻡِ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠَّﻢ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻷﻗﺼﻰ

“Janganlah kamu mengembara (jauh) dalam perjalanan/safar kecuali menuju ke ketiga masjid, Masjid al Haram, masjid ar Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan masjid al Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, Kota Tua Yerussalem di Palestina yang di dalamnya ada Masjid Al-Aqsa dan di Hebron di dalamnya berdiri Masjid Ibrahim Al Khalil, kini dicaplok Zionis Israel dan menjadikan Yerussalem sebagai Ibu kota penjajah yang sebelumnya di Tel Aviv.

Jamaah shalat Jumat yang mengharap ridho dan ampunan Allah.

Masjid Al-Aqsa adalah ruh kita, akidah kita dan syariat agama kita, jadi bukan masalah tanah, bukan masalah tempat atau teritorial.
Mengapa? Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa Masjid Al-Aqsa adalah ruh kita, akidah kita dan syariat agama kita, jadi bukan masalah tanah, bukan masalah tempat atau teritorial.

Pertama, Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama kaum muslimin sebelum Ka’bah di Makkah.

Tiga tahun Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya di Makkah shalatnya berkiblat ke Al-Aqsa, kemudian 16 sampai dengan 17 bulan di Madinah beliau masih berkiblat ke Al-Aqsa. Jadi, bila ada pertanyaan berapa lama umat Islam berkiblat ke Al-Aqsa, maka jawabannya empat tahun dan empat bulan.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam merasakan kegelisahan berkiblat ke Al-Aqsa karena orang-orang Yahudi di Madinah satu dan lainnya berbicara mengejek, “Lihatlah Muhammad itu bersama pengikutnya, mereka tidak mau dengan agama Yahudi tapi berkiblat kepada kiblat atau tempat kita ke Al-Aqsa.”

Lalu Nabi Muhammad meminta kepada Allah agar kiblat dapat dirubah dan akhirnya Allah tetapkan kiblat berubah dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Harapan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ini dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firman-Nya:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Q.S. Al-Baqarah 144)

Kedua, Masjid Al-Aqsa menjadi tujuan isra’ Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ini diterangkan di dalam firman Allah Azza wa Jalla:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al Isra 1).

Peristiwa isra’ dan mi’raj adalah dua jenis perjalanan, yaitu ufuqiyah (perjalanan datar) dan amutiyah (perjalanan lurus ke atas).
Ufuqiyah yaitu dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa dan amutiyah adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa ke langit yang ketujuh, yaitu Sidratul Muntaha.
Pertanyaanya kenapa tidak langsung dari Makkah ke langit yang ke tujuh?
Maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah Allah ingin mengikat antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam satu ikatan.
Allah ingin memuliakan Masjid Al-Aqsa semulia Masjidil Haram. Allah ingin bila Masjidil Haram dicintai oleh Muslimin maka Allah juga ingin agar Masjidil Aqsa dicintai sebagaimana muslimin mencintai Masjidil Haram.

Kalau Masjidil Haram benar-benar berada di hati umat Islam, maka Allah juga ingin Masjid Al-Aqsa berada di hati umat Islam.
Tetapi ini belum menjadi realita karena banyak Muslimin bila ditanyakan tentang Al Aqsa saja tidak mengerti, di kota mana, di negeri mana tidak tahu, bahkan nama Al Aqsa ada yang baru mendengar.
Ketiga, Al Quds adalah Al Barokaat, yaitu bumi yang diberkahi-diberkahi, ditulis dengan kata jamak.

Keberkahan bumi Al Quds disebutkan pada lima ayat di dalam Al Quran, firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

1. سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“…..dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi sekelilingnya …..“. (QS Al-Isra [17]: 1).

2. وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”. (QS Al-Anbiya 71).

3. وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

 

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al Anbiya 81).

4. وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

 

“Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman”. (QS Saba 18).
5.وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS Al Araf 137).

Jamaah shalat Jumat yang mengharap ridho dan ampunan Allah.

Keberkahan berlaku juga di Gaza karena Gaza bagian dari Negeri Syam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kafalaha mencukupkannya bahwa Allah menjadi kifal (penanggung rezeki) dari penduduk Syam sekalipun hisyar (blokade) diterapkan di Gaza sedemikian rupa dari 2007 hingga saat ini atau 13 tahun lamanya. Ditutup pintu-pintu masuk darat laut dan udara.

Seorang ulama Gaza Syeikh ‘Aathof dalam suatu kesempatan taushiahnya di Gaza dihadapan para relawan Pembangunan Rumah Sakit Indonesia Tahap II, mengisahkan dahulu saat masih muda menggarap sawah ladang miliknya, namun sekarang propertinya itu di bawah penguasaan zionis. Dahulu masih bisa pulang balik dari Gaza ke sawah ladangnya itu. Kini tidak bisa lagi karena akses untuk ke sana ditutup Zionis.

Namun, ia tetap optimis dengan mengatakan, “Silahkan semua pintu ditutup, darat laut dan udara, akan tetapi tidak akan bisa menutup pintu keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Keyakinannya terhadap rahmat Allah seratus persen. Nyatanya bisa dibuktikan ia tidak pernah ketika akan tidur malam tidak makan.

Itu artinya rezeki itu Allah yang mengatur. Dengan diblokade sedemikian rupa oleh musuh-musuh Allah akan tetapi pintu dari Allah tetap terbuka.

Keempat, Al Quds disebut juga Ardlu Anbiya (bumi para nabi), sebagaimana kita ketahui Nabi Yakub dan anak-anaknya hidupnya di Palestina, sebagaimana juga Nabi Sulaiman, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim. Bahkan Nabi Ibrahim kuburannya ada di kota Al Khalil yang penamaan kota itu berasal dari gelar Nabi Ibrahim, beliau bergelar Khalilul Rohman atau kekasih Allah.

Disebut sebagai bumi para nabi karena Nabi Muhammad pernah sewaktu kecil diajak pamannya Abu Thalib untuk berdagang di Al Quds.

Pernah satu hari Abu Thalib masih mengurus urusannya sedang Muhammad kecil ditinggal bersama barang-barang dagangan milik pamannya itu.

Lalu ada pendeta yang mendatanginya dan saat melihat wajah Muhammad kecil lalu dia berkata sesungguhnya dia (Muhammad) adalah calon nabi. Itu dikenali betul oleh mereka para pendeta.

Jadi Nabi Muhammad pernah dua kali ke Al Quds yang pertama saat masih kecil ketika dibawa berdagang oleh pamannya dan yang kedua adalah di saat isra.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين

Ya Allah, tolonglah kaum Muslimin dan Mujahidin di Palestina

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ

Ya Allah, teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di
dalam hati mereka dan satukanlah barisan mereka

اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ

Ya Allah, hancurkanlah kaum kuffar dan kaum musyrikin

اللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ

Ya Allah, binasakanlah kaum Yahudi dan cerai-beraikanlah kesatuan mereka

اللَّهُمَّ انْصُرْ المُجَاهِدِينَ عَلَى أَعْدَائِنَا أَعْدَاءَالدِّين

Ya Allah, menangkanlah kaum Mujahidin atas musuh kami musuh agama

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

(A/RS5/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)