Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Memaknai Tahun Baru 1446 Hijriyah, Optimisme Perjuangan

Ali Farkhan Tsani Editor : Zaenal Muttaqin - Jumat, 5 Juli 2024 - 08:11 WIB

Jumat, 5 Juli 2024 - 08:11 WIB

154 Views

Ali Farkhan Tsani (Dokpri)

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Dalam hitungan hari kita akan memasuki bulan Muharram tahun baru Islam 1446 Hijriyah. Untuk lebih memaknai kehadiran Tahun Baru Islam itu, berikut Khutbah Jumat Memaknai Tahun Baru 1446 H.

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ

 وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ،

Baca Juga: Khutbah Jumat: Al-Wala wal Bara'(Kesetiaan Kepada Sesama Muslim)

صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.  أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ   اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, yang telah mempertemukan kita kembali dengan Sayyidul Ayyam, induknya hari dalam sepekan, yaitu hari Jumat ini. Hari Jumat juga menjadi hari ketika pahala sedekah dilipatgandakan oleh Allah, serta hari ketika doa-doa dikabulkan Allah Ta’ala.

Shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengantarkan manusia dari jaman jahiliyah menuju jaman yang penuh dengan keimanan dan keilmuan, minadz dzulumati ilan nuur.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Makna Hijrah  

Selanjutnya, melalui mimbar ini, khatib menyampaikan wasiat kepada diri dan keluarga serta hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah, agar kita senantiasa hidup bahagia, selamat dan sejahtera, di dunia hingga di akhirat kelak.

Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim (berserah diri kepada Allah)”. (QS Ali Imran [3] : 102).

Baca Juga: Khutbah Jumat: Membangun Persaudaraan, Mewujudkan Perdamaian

Ayat ini mengandung perintah Allah kepada orang-orang beriman agar mensyukuri nikmat-nikmat-Nya yang besar, dengan cara bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, menaati-Nya dan meninggalkan kemaksiatan secara ikhlas karena Allah.

Pada ayat lain Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلاً۬ سَدِيدً۬ا (٧٠) يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا (٧١)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS Al-Ahzab [33]: 70-71).

Baca Juga: Khutbah Idul Fitri: Menuju Kemenangan, Istiqamah dengan Amaliah Ramadhan

Melalui ayat ini Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dalam seluruh kondisi, baik lahir maupun batin. Dari takwa itu Allah mengarahkan orang-orang beriman untuk berkata benar, yaitu perkataan yang sejalan kebenaran berupa bacaan dzikir, ucapan amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta mempelajari ilmu Al-Quran dan mengajarkannya.

Termasuk perkataan yang benar adalah berkata secara lembut, santun dan penuh kasih sayang dalam berbicara kepada orang lain, serta perkataan yang mengandung nasihat dan bimbingan kepada apa yang lebih maslahat.

Karenanya, takwa itu menjadi wasiat abadi sebab mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Takwa merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan takwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah Ta’ala.

Allah menyebutkan di dalam ayat:

Baca Juga: Khutbah Idul Fitri 1445H: Hari Raya Momen Peningkatan Ketakwaan Setelah Ramadhan

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 128).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan selalu membersamai orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik, yakni mereka yang menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, dengan turunnya pertolongan, bantuan, dan taufik dari Allah kepada mereka.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Baca Juga: Khutbah Jumat : Keutamaan Bulan Sya’ban Persiapan Jelang Ramadhan

Memaknai tahun baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriyah, mengingatkan kita pada suatu kisah spektakuler dalam sejarah perjuangan Islam, yaitu peristiwa Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah pada tahun 1 Hijriyah, bertepatan dengan tahun 622 Masehi.

Banyak makna dan hikmah berharga tentunya yang dapat kita ambil dari peristiwa Hijrah Nabi tersebut, di antaranya :

Pertama, Hijrah merupakan tonggak monumental perjuangan dakwah dan juang Islam dan Muslimin.

Fase hijrah merupakan kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi tidak kondusif, penuh ketakutan dan intimidasi, di Makkah menuju suasana prospektif, penuh persaudaraan dan kemajuan dakwah Islam di Madinah, dan terus berkembang ke seluruh penjuru dunia.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Ajarkan Pendidikan Keimanan pada Anak

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebut hijrah Nabi sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah (hijrah sejati). Alasannya, hijrah fisik sekaligus refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya ke Madinah.

Secara makani (fisik), Nabi dan para sahabat Nabi, harus berjalan kaki dari Mekkah ke Madinah, menempuh padang pasir sejauh kurang lebih 450 km.

Secara maknawi juga jelas, mereka berhijrah demi terjaganya misi Islam.

Dalam mengembangkan dakwah menyeru ke jalan Allah, para Nabi utusan Allah, selalin Nabi Muhammad shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga melakukan hijrah perpindahan secara dinamis dari satu tempat ke tempat lain.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Ikhlas Amalan Mulia Antarkan Manusia Masuk Surga

Seperti di antaranya adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang terkenal dalam sejarah karena perjalanan hidupnya yang penuh dengan ujian dan tantangan, harus hijrah dari kampong halamannya, Kota Ur, Babilonia (Irak sekarang) menuju wilayah Ardhu Kan’an (Palestina sekarang).

Allah menyebutnya di dalam ayat:

 فَـَٔامَنَ لَهُۥ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّى مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّىٓ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya: Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 26).

Baca Juga: Khutbah: Mari Bersatu Membela Palestina

Selanjutnya, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam juga melakukan hijrah beberapa kali, dari Palestina ke Mesir, dari Mesir kembali Palestina lagi. Termasuk, hijrah beliau dari Palestina menuju Mekkah yang dalam perkembangannya menjadi syariat haji. Kembali lagi ke Palestina, dilanjutkan kembali ke Mekkah.

Ada pula Nabi Musa ‘Alaihis Salam yang juga mendapatkan perintah dari Allah untuk berhijrah dari penindasan di negeri Fir’aun, Mesir menuju Perbatasan Palestina, melalui Yordania.

Allah mengadikannya di dalam ayat:

وَجَآءَ رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَا ٱلْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ ٱلْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَٱخْرُجْ إِنِّى لَكَ مِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menangkal Bahaya LGBT, Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Artinya: Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. (Q.S. Al-Qashash [28]:20).

فَخَرَجَ مِنْهَا خَآئِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”. (Q.S. Al-Qashash [28]: 21).

Begituah, hijrah adalah sebuah perjalanan membangun peradaban atas semangat loyalitas, kesetiaan, keimanan, dan ketha’atan yang berujung pada sesuatu lebih baik atas ridha Allah.

Kitapun dituntut untuk berhijrah dari sistem jahiliyah menuju sistem Islam secara keseluruhan (kaffah). Mulai dari sistem pendidikan, ekonomi, kemasyarakatan, kepemimpinan,dan lain sebagainya ke dalam kesempurnaan Islam berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

Hijrah pula dari hal-hal yang dilarang Allah menuju hal-hal yang diperintahkan-Nya. Hijrah dari perbuatan yang mubadzir dan mafsadat (merusak), menuju amal sholih yang lebih bermanfaat.

Intinya hijrah meningalkan segala yang dilarang Allah menuju yang Allah perintahkan.

Seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Artinya : “Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah”. (HR Muttafaqun ‘Alaih).

Hadirin yang dimuliakan Allah

Selanjutnya, Makna Kedua, adalah bahwa hijrah mengandung semangat optimisme perjuangan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman, sanak saudara dan harta benda yang dicintainya. Namun, Allah, Rasul-Nya, dan jihad fi sabilillah lebih dicintai dari semua daya pikat dunia.

Mereka sangat menikmati bagaimana mengamalkan ayat :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya : ”Katakanlah : jika bapa-bapa,anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (Q.S. At-taubah [9] : 24 ).

Ketiga, memaknai hijrah mengandung arti semangat persaudaraan Islam, ukhuwwah Islamiyyah.

Ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dalam ikatan satu kesatuan umat secara terpimpin (jama’ah) berlandaskan takwa kepada Allah.

Karenanya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhijrah dari Mekkah ke Madinah, langkah awal yang dilakukan beliau setelah membangun masjid sebagai sentral perjuangan kaum Muslimin, adalah mempersaudarakan kaum pendatang (Muhajirin) dengan kaum pribumi (Anshar).

Adapun maksud beliau mengadakan persaudaraan itu adalah, untuk: (1) melenyapkan rasa asing pada diri sahabat muhajir di daerah yang baru yaitu kota Madinah, (2) membangun rasa persaudaraan antara satu sama lain di dalam agama Allah, (3) agar satu sama lain saling tolong-menolong, yang kuat menolong yang lemah, yang mampu menolong yang kekurangan, dan sebagainya.

Semangat persaudaraan sesama orang-orang beriman Allah tegaskan di dalam Al-Quran :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat [49] : 10).

Semangat persaudaraan sebagai inti dari kehidupan berjamaah, sebagaimana Allah nyatakan di dalam ayat:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya : “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali [agama] Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk”. (Q.S. Ali Imran [3]: 102-103).

Di antara puncak persaudaraan saat ini adalah mempertautkan hati, jiwa, pikiran dan raga kita dengan perjuangan saudara-saudara kita di negeri penuh bekah, Baitul Maqdis, Palestina.

Dengan semangat persaudaraan itu, kita berikan apa yang bisa hadiahkan kepada perjuangan bangsa Palestina dalam meaih kemerdekaannya dari penjajahan Zionis. Sehingga saudara-saudara kita bisa merdeka dari kelayakan hidup sehari-hari, dari pendidikan yang terjangkau, dan lebih khusus lagi dari memakmurkan Masjidl Aqsa tanpa hambatan.

Marilah kita menjadi bagian dari pembebas Baitul Maqdis, seperti digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الدِّينِ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ “. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَأَيْنَ هُمْ ؟ قَالَ: ” بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

Artinya: “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menang memperjuangkan agama ini, berhasil menekan musuh mereka. Tidaklah merugikan mereka para penyelisih, kecuali sekedar tekanan hidup sampai datang kepada mereka keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” Mereka bertanya, “Di mana mereka nanti wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Di Baitul Maqdis atau pinggir-pinggir (sekitar) Baitul Maqdis.” (H.R. Ahmad).

Mengomentari hadits ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, hadits ini adalah hadits yang kuat dan berulang dalam hal argumennya yang luas di antara para imam Hadits ini berisi peringatan bahwa umat Islam akan terpecah belah dan berselisih paham mengenai pokok-pokok agama, tapi akan ada kelompok yang selamat dan jaya. sampai hari kiamat, yaitu mereka yang mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.

At-Tabari mengatakan, tempat tersebut, yang mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, tidak selalu harus berada di Syam atau di Baitul Maqdis.  Namun mungkin juga berada di tempat lain pada suatu waktu, yaitu mereka orang-orang seperti mereka di Syam yang senantiasa menyerukan kebenaran dan mengikuti Sunnah.

Fakta yang mendukung hal tersebut adalah bahwa orang-orang yang benar dan menegakkan sunnah pada masa empat Imam serta ketersediaan ulama pada masa itu, tidak berada di satu tempat, melainkan berada di berbagai wilayah. Ada yang di Syam, di Hijaz, di Mesir, di Irak, dan di Yaman, dan mereka semua berada pada kebenaran. Mereka semua memiliki karya-karya kitab yang menjadi tuntunan dalam melaksanakna sunnah.

Termasuk adalah mereka yang berjuang membela Masjid Al-Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina keseluruhan, suatu saat adalah mereka yang berada di sekitar Baitul Maqdis. Demikian halnya ketika Kekhalifahan berada di sana. Namun suatu masa pula, ketika umat Islam sekitar Baitul Maqdis, negeri-negeri yang bertetangga dengan Baitul Maqdis tidak segera dan malah enggan membantu Palestina. Maka, secara luas ada kelompok umat Islam yang tetap membelanya, walaupun tidak berada di sekitar Baitul Maqdis secara fisik.

Demikian halnya, pengamal Kekhalifahan, manakala umat Islam sekitar Baitul Maqdis dan sekitarnya tidak lagi mengamalkannya, akan ada sekelompok umat Islam yang akan tetap mengamalkan dan memperjuangkan syariat ini, hingga berhasil menekan musuh.

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah

Demikianlah secercah rasa optimis kita dengan memaknai kehadiran Tahun Baru Islam 1446 Hijriyah ini. Semoga dapat menumbuhkan optimisme perjuangan membangun peradaban insani, keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia, dengan berlandaskan nilai-nilai ukhuwwah Islamiyah, rahmatan lil ‘alamin. Aamiin.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda