Khutbah Jumat: Memaknai Tahun Baru Islam, Beramal Lebih Baik Lagi

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA (Mi’raj News Agency), Pembina Sekolah Tahfidz DTI (Daarut Tarbiyah Indonesia)

 

الْـحَمْدُ لِلهِ الَّذِي خَلَقَ كُلَّ شَيْء فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا وَأَتْقَنَ مَا شَرَعَهُ وَصَنَعَهُ حِكْمَةً وَتَدْبِيْرًا،

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا،

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ إِلَى الْـخَلْقِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا،

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.

أمَّا بَعْدُ: عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ. فقال تعالى : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

Hadirin sidang Jumah yang dimuliakan Allah

Perjalanan waktu seolah begitu cepatnya berjalan. Hari ke pekan, minggu ke bulan, bergerak ke tahun. Seperti hitungan detik. Seolah baru kemarin kita anak-anak, sekolah, remaja, berumah tangga. Dan kini tahu-tahu sudah punya anak bahkan cucu.

Akselerasi tahun lama ke tahun baru berikutnya sedemikian cepatnya. Sehingga kita sekarang berada di penghujung tahun1441 Hijriyah, dan memasuki tahun baru 1442 Hijriyah.

Hal ini menunjukkan semakin berkurangnya waktu hidup kita di dunia dan mengingatkan semakin dekatnya usia kita menuju alam akhirat. Maka, menjadi waktu terbaik untuk selalu introspeksi diri atas segala amal yang telah kita kerjakan, agar selalu semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (١٨)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat], dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Haysr [59]: 18)

Kita harus selalu berprinsip bahwa semakin tambah umur, harus semakin baik pula amal kebaikannya. Seperti Rasulullah sebutkan di dalam haditsnya:

خَيْرُالنَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّالنَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَعَمَلُهُ.

Artinya: “Sebaik- baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan bagus amalnya dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Hakim).

Hadirin yang berbahagia

Karunia waktu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita seorang Muslim. Bahkan lebih berharga daripada harta dunia yang kita miliki. Karena harta dunia apabila hilang maka masih bisa kita cari. Sementara waktu apabila telah berlalu tidak mungkin untuk kembali lagi.

Sehingga tidak ada yang tersisa dari waktu yang telah lewat kecuali apa yang telah dicatat oleh malaikat. Baik buruk, besar kecil, semua tercatat sebagai amal kita.

Maka sungguh betapa ruginya orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk selalu menambah amal kebajikan, apalagi jika kemudian malah dipenuhi dengan kemaksiatan demi kemaksiatan.

Rugilah kita jika tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya melalui ibadah, amal shgalih dan brbagai kegiatan manfaat.

Allah mengingatkan kita tentang waktu dalam Surat Al-Ashr.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya: ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Hadirin rahimakumullah

Momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau Tahun Baru Hijriyah, mengandung makna yang sangat dalam.

Hijrah mengandung makna tekad untuk terus maju dalam kebaikan, semangat perjuangan menegakkan kalimah Allah, perencanaan yang matang, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas, ridha Allah.

Tujuan akhir ridha Allah, harus dimulai dengan niat awal karena Allah pula. Itulah maka, hadits yang berkaitan dengan hijrah disandingkan dengan niat.

Dari niat ikhlas semata karena Allah itu, akan terus terpelihara perjuangan,  ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keistiqamahan. Program yang kita proyeksikan selalu dikaitkan dengan Allah, dengan akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan di dalam hadits:

 إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Hadirin yang Allah muliakan

Peristiwa hijrah merupakan tonggak perjuangan umat Islam untuk selanjutnya mereka tidak hanya dikagumi oleh kawan tapi juga disegani oleh lawan. Dengan totalitas hijrah ini, umat Islam tampil kokoh dan solid, teguh tapi sekaligus kasih sayang, tegar sekaligus lembut.

Mereka dipersaudarakan karena Allah dalam satu komunitas berjamaah, perjuangan jihad dan dakwah, nasihat dan tarbiyah.

Mereka kuat dan solid karena berkumpul bukan sebab harta, usaha, bisnis, apalagi kepentingan politik. Namun berkumpulnya semata-mata karena panggilan jihad, panggilan tarbiyah sekaligus panggilan untuk sama-sama beribadah.

Itulah teladan “Assabiquunal awwalun” yang Allah gambarkan pada ayat:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: “Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah [9]: 100).

Untuk itu, marilah kita jadikan Tahun Baru Hijriyah 1442 ini sebagai momentum perbaikan terus-menerus dalam amal ibadah kita, baik yang bersifat individu maupun sosial. Terlebih jika itu menyangkut juang umat, tarbiyah, dakwah dan jihad.

Maka marilah kita koreksi diri kita, sudahkah kita berkontribusi lebih maksimal lagi, sesuai apa yang Allah karuniakan kepada kita. Sebab semua akan ada pertanyaan dan pertanggungjawabannya atas apa-apa yang kita miliki.

Harta, ilmu, fasilitas, makanan, kendaraan dan semua yang kita akui sebagai milik kita, akan ada konsekwensinya di hadapan Allah. Dan Allah tidak menulis apa-apa yang kita hayalkan, ingin ini ingin begitu, tetapi wujud nyata amal sholehnya. Itulah hakikat amal kita.

Hijrah dari Dunia Oriented menjadi Akhirat Oriented, itulah hijrah kita. Hijrah dari haram dan riba menuju yang halalal thayyiban. Hijrah dari segala keburukan menuju kebaikan. Hijrah dari perpecahan menuju persatuan umat atau berjama’ah.

Kalau kita arahkan untuk akhirat, untuk ridha Allah, insya-Allah segala urusan dunia Allah bereskan. Seperti digariskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan menceraiberaikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (H.R. At-Tirmidzi).

Semoga seiring tahun baru Hijriyah ini, Allah perbaiki amal-amal kita, agama kita, urusan dunia dan akhirat kita. Hingga mendapatkan ridha dan ampunan-Nya. Aamiin.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

(A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)