Khutbah Jumat: Memenuhi Seruan Allah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA, Dai Ponpes Al-Fatah Bogor

 

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَّالَهُ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hadirin sidang Jumat yang mulia

Marilah kita selalu bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya atas semua kenikmatan dari Allah. Bersyukur dengan hati yang merasa ridha, lisan yang selalu bertahmid memuji-Nya serta anggota badan yang selalu berbuat yang diridhai-Nya.

Bersyukur dalam keseharian yakni menggunakan anggota badan kita ini untuk taat kepada-Nya, dengan bertakwa kepada-Nya secara sebenar-benar takwa kepada-Nya.

Takwa sebagai wujud syukur merupakan hal pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Kemuliaan dan kehormatan kita sebagai orang beriman, ditentukan oleh kadar takwanya.

Sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya,  dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102).

Berkaitan dengan ayat tersebut, Ibnu Mas’ud menambahkan, maksud sebenar-benar takwa pada ayat ini adalah senantiasa menaati Allah dengan tidak bermaksiat kepada-Nya, senantiasa mengingat Allah dengan tidak melupakan-Nya, serta bersyukur kepada-Nya tanpa mengingkari-Nya.

Imam az-Zuhri  menegaskan tentang ayat ini, adalah agar orang-orang beriman itu mengerjakan perintah Allah dengan sungguh-sungguh. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan umat Islam juga telah mengerjakan hal tersebut.

Semoga setelah Jumat ini, ada peningkatan takwa kita kepada Allah, sehingga Allah berkenan menghapus dosa-dosa kita sepekan lalu. Aamiin.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Selanjutnya, dengan keimanan yang kokoh di dalam jiwa, maka kita akan dengan segera memenuhi sertuan Allah, manakala Allah menyeru kita.

Ini seperti Allah menyatakan di dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُ ۥ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allâh membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (QS Al-Anfal [8]:24).

Pada ayat ini, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya orang-orang beriman untuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Yakni, hendaknya mereka tunduk terhadap perkara yang diperintahkan dan bersegera menjalankannya dan mendakwahkannya, serta menjauhi perkara yang dilarang Allah dan Rasul-Nya serta menahan diri dari perkara itu.

Dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka akan dapat memperbaiki keadaan kita serta dapat menghidupkan jiwa. Hal ini karena hidupnya jiwa adalah dengan penghambaan diri kepada Allah, selalu taat kepada-Nya, dan taat kepada Rasul-Nya secara kontinyu.

Maka, jika seseorang berpaling dari seruan Allah, padahal kondisinya sangat mendukung, maka Allah akan menghalangi hatinya. Sehingga ia tidak memperoleh petunjuk untuk menyambut seruan Allah, meskipun menginginkannya.

Pada ayat lain Allah menyebutkan:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

Artinya: “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”. (QS Ash-Shaf [61]:5).

Hadirin rahimakumullah

Memenuhi seruan Allah, atau menjadi generasi sami’na wa atho’na, adalah kewajiban kita orang-orang beriman. Seperti Allah sebutkan di dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab [33]: 36).

Hal ini menunjukkan, bahwa bentuk pengakuan sebagai seorang Muslim adalah kewajiban mengikuti semua keputusan Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh memiliki pilihan lain dalam perkara yang telah diputuskan-Nya.

Karena itu, marilah kita penuhi seruan itu dan kita jalankan semaksimal mungkin. Mulai dari seruan aza untuk shalat berjamaah, seruan mengeluarkan Zakat Infak dan sedekah, seruan mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, hingga seruan jihad di jalan Allah dan seruan hidup berjama’ah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menganjurkan, agar jiwa kita tetap istiqamah di dalam menyambut seruan Allah, sering membaca doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Artinya: “Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan kalbu, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.

Juga doa:

يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ اصْرِفْ قَلْبِيْ إِلَى طَاعَتِكَ

Artinya: “Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan kalbu, condongkahlah hatiku kepada ketaatan kepada-Mu”.

Semoga Allah selalu memberikan kita hidayah untuk tetap mentaati-Nya dan memenuhi seruan-Nya. Aamiin. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)