Khutbah Jumat: Menjaga Kewaspadaan di Zaman Penuh Fitnah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Khatib Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Senior Mi’raj News Agency (MINA)

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا  

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji tentu hanya milik Allah Tuhan alam semesta dan seisinya. Marilah kita jaga dan tingkatkan takwa kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.

Takwa dalam artian, selalu berusaha menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, mentaati segala arahan-Nya dan tidak memaksiati-Nya, berdzikir ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya, serta senantiasa mensyukuri-Nya dan tidak mengkufuri-Nya.

Hadirin yang berbahagia

Saat ini kita kaum Muslimin sedang menghadapi fitnah besar yang bertujuan memecah belah kekuatan umat Islam. Musuh-musuh Allah melalui berbagai cara saling menguatkan untuk menimbulkan keresahan di antara umat. Baik melalui ideologi kapitalisme, liberalisme, femininisme, pluralisme, zionisme hingga komunisme, yang itu semua bertentangan dengan syariat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Untuk itu, marilah terus menguatkan aqidah umat, membangun sikap yang penuh waspada dan tidak dilemahkan oleh situasi saat ini serta bersabar dan tidak ikut terpengaruh dengan situasi yang bisa dimanfaatkan oleh sementara pihak untuk kepentingan tertentu.

Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siagalah dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran/3: 200).

Ayat ini mengarahkan agar orang-orang beriman senantiasa bersikap sabar dan tabah melakukan segala macam perintah Allah, mengatasi semua gangguan dan cobaan, menghindari segala larangan-Nya, terutama bersabar dan tabah menghadapi lawan-lawan dan musuh agama. Jangan sampai musuh-musuh agama itu lebih sabar dan tabah dari kita sehingga kemenangan berada di pihak mereka.

Hendaklah orang-orang beriman juga  untuk selalu bersiap siaga dengan segala macam cara dan upaya, berjihad menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan mengurangi kewibawaan dan kemurnian serta keagungan agama Islam.

Kemudian agar orang-orang beriman  agar benar-benar menjaga takwa kepada Allah dengan sebenar-benar  takwa di mana saja mereka berada, karena dengan bekal takwa itulah segala sesuatu dapat dilaksanakan dengan baik, diberkahi, dan diridai oleh Allah. Maka, barang siapa di antara orang-orang yang beriman melaksanakan hal-hal tersebut, yaitu beriman, bersabar, saling menyabarkan, waspada dan bertakwa, pasti akan mendapat kemenangan dan kebahagiaan, di dunia dan akhirat.

Ribath (rabithu) waspada di sini bermakna yakni bersiagalah di perbatasan negeri dan ikatlah kuda-kuda kalian di sana.  Termasuk di antara ribath juga adalah menjaga shalat ke shalat berikutnya. Seperti disebutkan di dalam hadits Shahih Bukhari dan lainnya, sabda dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Maukah kalian aku tunjukkan pada amalan yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan dengannya mengangkat derajat-derajat. Yaitu : menyempurnakan wudhu saat suasana yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid-masjid, dan menunggu didirikannya shalat selanjutnya setelah mengerjakan shalat, maka itulah ribath, maka itulah ribath, maka itulah ribath.”

Hadirin rahimakumullah

Selanjutnya, sebagai bagian dari sikap orang beriman juga adalah memegang teguh aqidah dan penuh kendali diri serta tidak mudah terpengaruh apalagi terpancing dan hanyut terbawa situasi yang memang diciptakan oleh kaum kuffar untuk memperdaya umat Islam.

Allah mengingatkan kita di dalam Al-Quran:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ

Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.” (QS Ali Imrn/3: 196).

melalui ayat ini, Allah mengigatkan agar Rasul dan orang-orang beriman tidak tertipu dengan apa yang terjadi kepada orang-orang yang kafir kepada Allah. Mereka seolah-olah mendapatkan kenyamanan dalam hidup dan keluasan dalam rezki, seta perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat lain untuk berbagai macam perniagaan, mencari keuntungan dan kekayaan. Namun, sebentar lagi semua itu akan lenyap dari mereka. Kelak mereka akan tergadai oleh perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Bahkan mereka akan kembali ke tempat terburuk, yatu neraka, seperti lanjutan ayat:

 مَتَٰعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ

Artinya: “Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali Imran/3: 197).

berkaitan dengan yat ini, Imam As-Sa’di menjelaskan, maksud dari ayat ini adalah sebagai hiburan tentang apa yang dicapai oleh orang-orang kafir dari kenikmatan dunia ini, dan keasyikan mereka di dalamnya, juga kesenangan mereka ketika berkunjung ke berbagai negara untuk urusan bisnis. Bahwa sesungguhnya semua itu hanyalah sedikit.

Sungguh kekayaan mereka tidak akan bertahan lama, dan mereka juga hanya menikmati kekayaan yang amat sangat sedikit itu. Hingga mereka akan mendapat siksaan yang jauh lebih panjang masanya.

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia

Inilah jaman yang pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebutkan, sebagai akhir jaman yang disebut dengan zaman fitnah ‘dakhon’ (kekeruhan). Ciri-cirinya antara lain munculnya orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi dan adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu neraka jahannam.

Menghadapi situasi koalisi dan konspirasi kaum yang mencoba menjauhkan kaum Muslimin dari nilai-nilai agung syariat Islam, terutama yang berkaitan dengan pentingnya menjalin ukhuwah, persaudaraan dan persatuan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan solusi dengan kesatuan umat Islam yang terpimpin (Jama’ah Muslimin wa Imaamahum). Sehingga dengan kesatupaduan itu, umat Islam tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah diadudomba.

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

“Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka !” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Allah pun mengingatkan kita di dalam ayat:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ‌ۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِىٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ

Artinya : “Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Ad-Dien, apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah Ad-Dien dan janganlah kamu berpecah-belah di tentangnya.” Berat bagi musyrikin menerima apa yang engkau serukan kepada mereka itu. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petun juk kepada (Ad-Dien)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS. Asy-Syura / 42 : 13).

Untuk itu, marilah kita terus bangun bingkai persatuan dan kesatuan umat Islam, serta menjauhi sikap saling curiga di antara sesama komponen umat Islam. Musuh-musuh Islam terus berusaha keras untuk melemahkan umat Islam dengan cara melemparkan isu-isu, rumor dan berita-berita bohong (hoax) yang bisa mengadu domba sesama umat Islam, dan antara umat Islam dengan pihak Pemerintah atau aparat terutama TNI dan POLRI.

Adalah kewajiban umat Islam untuk saling mengingatkan dan menasehati dalam semangat ukhuwah Islamiyah dan saling melindungi sesama umatnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Temasuk menjaga ukhuwah wathaniyah, persaudaraan kebangsaan, dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga berbagai fitnah yang menimpa kaum muslimin zaman ‘dakhon’ akhir-akhir ini menjadi ibrah (pelajaran) bagi terjalinnya kebutuhan akan persatuan dan kesatuan umat Islam secara terpimpin berdasar Al-Quran dan As-Sunnah. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهِ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

(A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)