Khutbah Jumat: Muhasabah Akhir Tahun

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Shana’a-Yaman.

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ

وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ

وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.  أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ   اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Sidang Jumat yang berbahagia

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Yang Maha Kuasa. Kita dapat berjumpa kembali dengan “Sayyidul Ayyam” (induk dari segala hari), yakni hari Jumat ini. Bukan hanya usia yang bertambah, Allah juga telah memberikan nikmat kesehatan, pekerjaan, keluarga dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak dapat kita hitung satu demi satu. Wabil khusus adalah nikmat istiqamah dalam Islam dan Iman yang bersemayam di dalam jiwa kita.

Dengan nikmat Iman dan Islam itulah kita merasa ringan untuk melangkahkan kaki menyambut seruan azan, datang memenuhi panggilan Allah, menunaikan shalat fardhu berjamaah. Dengan nikmat Iman dan Islam itu pula, kita gemar melakukan amal kebajikan, bersedekah di jalan Allah dan menolong sesama yang membutuhkan.

Untuk itulah marilah kita terus tingkatkan rasa syukur kita kepada Allah dengan senantiasa istiqamah dalam takwa, dalam melaksanakan segala perintah Allah dan sunnah-sunah Nabi-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya dan hal-hal yang tidak disukai Nabi-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Waktu berjalan begitu sangat cepat berlalu. Baru tahun kemarin berjalan, sekarang sudah akan berganti tahun lagi. Seolah baru saja kita kecil, masa sekolah, sekarang sudah bekerja, berkeluarga dan punya anak kecil.

Kita pun sebenarnya kesempatan waktu yang sama dari Allah, 24 jam dalam sehari semalam, 7 hari dalam sepekan, dan 12 bulan dalam setahun.

Hanya pertanyaannya adalah apakah hari-hari yang kita lalui itu membawa perubahan yang lebih baik pada diri kita? Ataukah justru semakin hari malah semakin buruk, terutama dalam amal ibadah. Sementara umur terus bertambah, batas jatah usia justru semakin berkurang.

Maka, akhir yang baik, atau Husnul Khotimah adalah menjadi harapan terbesar kita. Kita ingin mengakhiri hidup sementara di dunia ini dalam keadaan bartauhid kepada Allah, dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun.

Untuk itu marilah kita melakukan muhasabah menghadapi masa-masa di hadapan.

Hadirin rahimakumullah

Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ () وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.(QS Al-Hasyr : 18-19).

Tentang pentingnya muhasabah atau evaluasi diri ini, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata:

حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

Artinya: “Hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (oleh Allah)”.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulûmuddîn menyamakan Muhasabah diri dengan pedagang yang menghitung kerugian dan laba yang dihasilkan dalam satu rentang waktu tertentu. Ketika keuntungan yang didapat, ia mensyukuri dan berusaha meningkatkannya. Demikian pun ketika merugi, ia akan mencari penyebabnya dan berusaha untuk tidak mengulanginya pada masa yang akan datang.

Begitulah, mukmin yang berakal seharusnya melakukan hal yang sama terhadap amal perbuatannya di dunia selama ini.

Hal ini diingatkan oleh baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ

Artinya: “Orang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah akalnya adalah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR At-Tirmidzi).

Jamaah yang berbahagia

Setidaknya ada dua garis besar yang perlu kita jadikan bahan muhasabah yang sangat menentukan kehidupan kita. Pertama muhasabah hubungan kita dengan Allah (hablum minallaah). Kedua muhasabah hubungan kita dengan sesama manusia (hablum minannaas).

Allah menyebutkan di dalam ayat-Nya:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS Ali Imran : 112).

Inilah ajaran Islam yang membentangkan dua bentuk hubungan  harmonis yang akan membawa kemuliaan dan keselamatan manusia di sisi Allah, yaitu tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan Tuhannya dalam hal ibadah (ubudiyah) dan tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan makhluk yang lainnya dalam wujud amaliyah sosial.

Hablum minallah dalam pengertian syariah sebagaimana dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah “Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat”.

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa untuk membangun hubungan kita kepada Allah, kita mempunyai kewajiban untuk menunaikan hak-hak Allah. Hak-hak Allah ialah mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Hak Allah adalah menjalankan syariat Allah, beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas.

Kita tulus, ikhlas, ridha dan senang, bergembira menyambut seruan azan untu shalat fardhu. Kita pun merasa ringan untuk menambah ama-amal sunnah, mulai dari shalat qabliyah dan ba’diyah, shalat Dhuha hingga shalat Tahajud. Kita pun gemar bertadarus Al-Quran, khusyu dalam dzikir dan doa, serta selalu membahasi lisan kita dengan kalimah istighfar dan shalawat.

Itu semua hak Allah yang pahala, manfaat dan hasilnya adalah untuk kita sendiri. Sebagaimana Allah menegaskan tentang diciptakannya kita manusia untuk beribadah, di dalam ayat-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ 

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS Adz-Dzariyat: 56-57).

Adapun hablum minannaas dilakukan mengingat kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa peran, bantuan dan kerjasama dengan orang lain.

Maka, di dalam Al-Quran acapkali terdapat ayat-ayat yang menyebutkan tentang perintah mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan hablum minallaah, sekaligus diiringi juga dengan hablum minannaas. Di antaranya:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا(21

إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24

Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (19), Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (20), Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (21), Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat (22), Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (23), Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu (24)“. (QS Al-Ma’arij : 19-24)

Juga pada ayat lain disebutkan:

وَاعْبُدُواْ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS An-Nisa: 36).

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa hablum minallah dan hablum minannas adalah bagai dua sisi mata uang yang tidak boleh dipisahkan. Itulah kepribadian seorang mukmin sejati.

Untuk itu, marilah kita adakan musahabah dri sejauh mana hubungan baik kita dengan Allah, dan hubungan baik kita dengan sesama manusia.

Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak cinta”. Koreksinya adalah jika hubungan kita dengan Allah masih renggang, shalat berjamaah masih belum rutin, bertadarus Al-Quran belum terbiasa, shalat Dhuha dan Tahajud belum terbiasa. Itu tandanya kita belum kenal Allah, belum paham pahalanya, dan belum menghayati hakikatnya. Dan itu bermakna pula kita belum cinta kepada Allah.

Koreksi hubungan kita dengan sesama manusia juga adalah bermakna, mari perbaiki hubungan bakti kita kepadaorang tua, kita sambungikatan silaturrahim yang terputus, kita bantu yang memerlukan, dan kita doakan kebaikan semuanya.

Saling memaafkan, saling menguatkan dan hidup berjamaah di antara kaum Muslimin, bagai satu anggota badan yang saling melengkapi, bagai bangunan yang kokoh tak tergoyahkan. Allah menyebutnya dengan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kalian berpecah-belah”(QS. Al-Baqarah 103).

 بَارَكَاللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَات

وَالذِكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

(A/RS2/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)