Khutbah Jumat : Muhasabah Satu Tahun Pandemi Covid 19

Oleh : Taufiqurrahman, Lc

إنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَـغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله ِمِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا  وَ مِنْ سَـيِّأَتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن واله

أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ) يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا( )يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (  )  أمـّا بعد

فَـإِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا

Setahun sudah Allah uji kita, umat manusia, dengan musibah pandemi covid 19. Selain memakan korban jiwa, pandemi berdampak pula pada persoalan pelik di bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan politik. Resesi, jumlah pengangguran meningkat, renggangnya hubungan sosial, ketimpangan pendidikan bahkan ancaman disintegrasi bangsa.

Berbagai persoalan umat datang silih berganti. Belum usai satu persoalan, sudah datang persoalan lain. Rasa-rasanya kehidupan kita tak pernah lepas dari persoalan.

{ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ }

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al Baqarah : 155)

Tapi itulah sunnatullah.

{ سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا }

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al Fath : 23)

Tentu Allah datangkan cobaan itu bukan tanpa sebab dan tujuan. Segala kejadian tak mungkin berakhir sia-sia. Selalu ada hikmah di balik musibah. Tugas kitalah menemukan hikmat itu.

{ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ }

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al Ankabut : 2)

{ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ }

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran : 191)

Hadirin sidang Jum’ah rahimakumullah

Musibah duniawi ini sebenarnya kecil. Kita tak perlu khawatir. Asalkan yang kecil itu tidak berdampak buruk pada kehidupan ukhrawi kita.

Justru kita khawatir jika karena cobaan itu kita lalai mengurusi nasib akhirat. Takutlah kita, saat kita makin jauh dari Rabbina, Allah Ta’ala. Itulah seburuk-buruk fitnah.

Untuk itu kita perlu waspada. Nyawa sanak yang hilang atau harta yang berkurang jangan sampai membuat hubungan kita dengan Rabb jadi renggang.

Diriwayatkan dalam Kitab at-Tirmidzi, dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْمُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ لأَصْحَابِهِ: اللّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اللّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا.

“Jarang sekali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam langsung berdiri meninggalkan majelis hingga beliau berdoa untuk para sahabatnya dengan doa ini (yang artinya), ‘Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepadaMu). Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepadamu yang dapat menyampaikan kami kepada surgamu. Jadikanlah untuk kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, jadikanlah ia tetap ada pada kami, jadikanlah pembalasan kami kepada orang yang menzhalimi kami, berilah kami kemenangan atas orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau jadikan musibah (yang menimpa) kami mempengaruhi agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan puncak ilmu kami, dan janganlah Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir dan orang zhalim) sebagai orang yang menguasai kami’.”

Lalu bagaimana agar kita bisa tegar dalam keimanan saat menghadapi ujian ini ?

Hadirin, sidang Jum’at rahimakumullah

Manusia itu makhluk lemah. Tidak mungkin kita bisa kuat menghadapi cobaan-cobaan ini  tanpa pertolongan Allah. Dia yang mendatangkan musibah ini, Dia pula yang berkuasa mengangkatnya.

Maka kita butuh Allah. Berhajat pada pertolongan-Nya. Mendekati-Nya dengan memaksimalkan kualitas ibadah kita. Dengan tetap sabar.

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah

Pandemi memaksa kita melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam kehidupan kita. Termasuk pada kebiasaan ibadah kita.

Ada beberapa jenis ibadah berikut yang perlu kita tingkatkan kualitasnya di tengah penyesuaian-penyesuaian itu. Sehingga dengan itu kita tetap dekat-Nya. Diantaranya :

Pertama, ibadah tahajjud dan shalat-shalat sunnah.

روى عمرو بن عبسة رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (أقرب ما يكون الرب من العبد في جوف الليل الآخر فإن استطعت أن تكون ممن يذكر الله في تلك الساعة فكن) رواه الترمذي.

“Saat terdekat Rabb dengan hamba ada pada sepertiga akhir malam. Jika kau bisa seperti orang-orang yang berdzikir kepada Allah di waktu itu, lakukanlah !”(HR At Tirmidzi)

Kedua, ibadah puasa

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“فِتْنَةُ الرَّجُلِ في أهْلِهِ ومالِهِ ووَلَدِهِ وجارِهِ، تُكَفِّرُها الصَّلاةُ والصَّوْمُ والصَّدَقَةُ”

“Ujian seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya dapat dihapuskan dengan shalat, puasa dan sedekah,” (HR Bukhari)

Ketiga, dzikir

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi :

“من شغله القرآن وذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين. و فضل كلام الله علي سائر الكلام كفضل الله علي خلقه” (رواه الترمذي(

“Barangsiapa disibukkan oleh Al-Quran dan berdzikir kepada-Ku dalam rangka memohon kepada-Ku niscaya akan Ku berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Kuberikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah (Al-Quran) dibandingkan dengan seluruh kalam selainnya adalah bagaikan keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR Tirmidzi)

Keempat, ibadah sosial seperti sedekah, tarbiyah keluarga.

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 11-14).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa manfaat sedekah begitu banyak, hanya Allah yang bisa menghitungnya, di antara manfaatnya adalah:

““Sungguh bersedekah itu mencegah kematian yang jelek, mencegah malapetaka (bala), sampai sedekah itu melindungi dari orang yang zalim. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, ‘Orang-orang dahulu memandang bahwa sedekah akan melindungi dari orang yang suka berbuat zalim.’ Sedekah juga akan menghapus dosa, menjaga harta, mendatangkan rezeki, membuat gembira hati, serta menyebabkan hati yakin dan berbaik sangka kepada Allah.” (‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 313)

Kelima, ibadah fikriyah seperti membaca buku-buku Islami atau mendengarkan ceramah-ceramah.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ”

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)

Semoga Allah jaga kita dari dampak buruk musibah bagi agama kita.