Khutbah Jumat: Nasihat di Bulan Syawal

Oleh: Widi Kusnadi, Da’i Ponpes Al-Fatah, Cileungsi, Kab. Bogor

 

Khutbah Pertama:

اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيْدًا

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَاَيُّهَا الإِخْوَان، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰه وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن، قَالَ اللّٰه تَعَالَى فِي اْلقُرْانِ الْكَرِيْم: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمَ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰه وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللّٰهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. وَقَالَ تَعَالَى: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Marilah kita bersama sama meningkatkan Iman dan Taqwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada-Nya. Jalan taqwa diantaranya adalah memenuhi apa yang telah Allah perintahkan dan menjauhi segala bentuk dosa dan kemaksiatan.

Sebelum Ramadhan datang, kita menantinya dengan penuh kerinduan. Setelah Ramadhan pergi, maka saatnya kita memelihara dan menjaga amalan-amalan Ramadhan untuk tetap kita laksanakan.

Amalan-amalan baik selama Ramadhan, marilah kita pertahankan. Sementara peluang-peluang kemaksiatan, marilah kita kita jauhi. Semangat Ramadhan jangan sampai luntur bersamaan dengan lebaran yang kita rayakan.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Ramadhan sejatinya adalah bulan pelatihan. Artinya nilai-nilai Ramadhan haruslan bisa kita terapkan di bulan-bulan selanjutnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (هود : ١١٢)

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 112)

Pakar tafsir dan fiqih, Prof Wahbah Zuhaili menjelaskan ayat di atas, agar umat Islam beristiqamah dalam mengerjakan perintah-perintah Allah. Karena istiqamah sendiri juga merupakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Istiqamah dalam hal ini juga termasuk dalam hal menjauhi dosa dan kemaksiatan, utama menjauhi kesyirikan dan kekufuran. Kesyirikan dan kekufuran bisa muncul pada diri seseorang jika ia kurang ilmu, sehingga ia ragu-ragu dengan ajaran Islam.

Kekufuran dan kesyirikan juga bisa terjadi pada diri seseorang karena pergaulan dan lingkungan. Oleh karenanya, membiasakan diri bergaul dengan orang shaleh, menempatkan diri berada di lingkungan Islami merupakan hal penting untuk menjaga aqidah dan keimana kita.

Selanjutnya, ayat di atas juga melarang kita melakukan hal-hal yang melampaui batas. Maksudnya di sini adalah berlebih-lebihan dalam memunaikan perintah dan menjauhi larangan. Orang yang melampaui batas dalam istilah sekarang disebut ekstrem, saklek, tidak mau menerima perbedaan, menyalahkan yang tidak sependapat dengannya, mengafirkan yang berbeda madzhab dengannya, menganggap syirik orang-orang yang berbeda amalan dengan dia.

Kemudian, di akhir ayat disebutkan, Sesungguhnya Allah Maha Melihat amal kalian, dan Allah akan memberi balasan, berupa pahala atau siksa sesuai dengan kadar dan ketentuan dalam syariatnya.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Orang yang istiqomah akan selalu dilapangkan rezekinya, selalu diberi rasa aman dan diangkat segala ketakutan dan kesedihannya. Orang yang istiqomah akan diberi jaminan surga, sebagaimana dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hambanya yang senantiasa istiqamah. Meski perbuatan itu kecil dan sepele, bila dilakukan terus-menerus, maka akan lebih bisa memberi keberkahan dan kemanfaatan, baik kepada pelakunya, juga kepada orang lain di sekitarnya.

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi Wasalam bersabda:

“Berbuatlah kalian dengan amal yang tepat dan benar dan amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus menerus, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari).

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Puasa tidak hanya diperintahkan pada bulan Ramadhan saja, tapi puasa juga tetap disunnahkan di bulan-bulan berikutnya. Shalat malam tidak hanya dikerjakan pada bulan Ramadhan saja, tetapi bulan-bulan yang lain juga tetap dianjurkan.

Demikian pula membaca Al-Quran, memakmurkan masjid, i’tikaf, berzakat, infak dan sedekah, tidak hanya dilakukan pada Ramadhan saja, tetapi tolak ukur suksesnya Ramadhan dan ciri-ciri ibadah Ramadhan diterima adalah Ketika seseorang mampu mendawamkan, merutinkan, tetap melaksanakan amalan-amalan baik tersebut di bulan-bulan selanjutnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menganjurkan kepada kita untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal sebagaimana sabdanya:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)ـ  

 “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun” (HR Muslim).

Di samping itu, ada juga puasa sunnah Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (tiga hari setiap bulan) dan puasa sunnah yang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga menganjurkan agar kita melakukan shalat malam sepanjang tahun, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:   “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam, kemudian ia shalat dan membangunkan istrinya, jika istrinya menolak ia percikkah air ke wajahnya, dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, kemudian ia shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya menolak ia percikkan air ke wajahnya” (HR. Abu Dawud).

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Mari tekadkan dalam diri kita untuk terus berbuat baik dan melakukan berbagai ketaatan. Mumpung kita masih muda, kita manfaatkan masa muda kita untuk berbuat baik sebelum kita tua. Senyampang masih sehat, kita manfaatkan masa sehat untuk untuk berbuat baik sebelum kita sakit. Selagi punya kesempatan, kita manfaatkan masa sempat kita untuk berbuat baik sebelum datang kesibukan dan kesempitan. Selagi kita hidup, kita manfaatkan masa hidup kita untuk beribadah dan beramal shalih sebelum ajal menjemput kita.

Dunia adalah tempat untuk beramal dan akhirat adalah waktu untuk mempertanggungjawabkan amal. Penyesalan di akhirat tiada guna dan tiada manfaat. Ada orang yang di akhirat nanti ia berkata:

  يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ الله (الزمر: ٥٦)ـ  

 “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban kepada Allah” (QS Az-Zumar: 56).

Atau dalam ayat lain digambarkan:

  لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (الزمر: ٥٨)ـ  

 “Seandainya aku dapat kembali ke dunia, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik” (QS Az-Zumar: 58).

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Karena bisa jadi hal itu yang menyebabkan Allah ridaha dan mengampuni kita. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menjaga diri kita dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh dari satu biji kurma.

Atau dalam sabdanya yang lain, diceritakan seorang perempuan pezina yang menemukan jalan taubat dan diampuni dosa-dosanya karena memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan?

Pun, jangan pula sekali-kali meremehkan dosa dan maksiat lalu kita melakukannya dengan dalih ini hanya dosa kecil. Karena dosa kecil yang dilakukan terus menerus dapat membuka jalan menuju dosa besar. Dan dosa besar adalah perantara dan jalan menuju kekufuran. Seseorang yang melakukan dosa besar terus menerus dikhawatirkan nantinya akan mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzu billahi min dzalik.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Setelah Ramadhan, marilah kita terus perkuat iman dengan tetap istiqamah menjalankan ibadah dan berbuat kebaikan. Iman akan menguat, seiring semakin banyaknya amal ibadah dan kebaikan yang dilakukan. Sebaliknya, iman akan melemah, seiring dengan semakin banyaknya maksiat yang dikerjakan. Sedikit yang dilakukan secara istiqamah lebih baik daripada banyak yang dikerjakan hanya sekali dan tidak terulang lagi.

Terakhir, jangan pernah bosan dan puas dengan ilmu agama yang telah kita miliki dan kita pelajari. Setelah Ramadhan, mari tetap kita lanjutkan bermajelis ilmu. Kita tetap bersemangat mengkaji Al-Quran, membaca buku dan hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian agar ilmu, iman dan taqwa kita terus meningkat.

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Seorang mukmin tidak semestinya merasa puas dengan kebaikan, hingga kehidupannya berujung ke dalam surga” (HR At-Tirmidzi).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kita untuk terus merawat iman dan taqwa ini, semoga Allah Ta’ala memudahkan langkah kita untuk terus belajar, menambah ilmu agama dan pengetahuan, senantiasa berkumpul dengan orang-orang shaleh, terus berada dalam bi’ah, lingkungan yang islami, dan semoga Allah menggolongkan kita semua yang hadir di sini, orang-orang yang layak mendapat rahmat dan ampunannya, dan memasukkan kita semua ke dalam Jannah-Nya, Aamiin Ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ،  فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(A/P2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)