Khutbah Jumat: Persatuan Ciri Terpenting Umat Islam

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Marilah senantiasa kita bertahmid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Selanjutnya, kami sampaikan wasiat untuk diri kami khususnya dan hadirin sekalian dengan wasiat takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim berserah diri kepada Allah.” (QS Ali Imran/3: 102).

Di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ هُوَ ابْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَوْدِيُّ

Artinya : Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang penyebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Maka beliau menjawab, “Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik”. Dan beliau ditanya tentang penyebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Beliau menjawab, “Mulut dan Kemaluan.” (HR At-Tirmidzi).

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Pada khutbah yang singkat ini, khatib ingin mengingatkan bahwa ciri terpenting dari umat Islam adalah bahwa mereka merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya :

وَاِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ

Artinya: “Dan sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS Al-Mu’minun/23: 53).

Pada ayat ini Allah menerangkan agama para Rasul itu adalah agama yang satu, yaitu agama tauhid yang menyembah Allah yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada seorang Rasul pun yang menyimpang dari prinsip ini.

Meskipun syari’at dan peraturan-peraturan yang dibawa para Nabi dan Rasul berbeda-beda, sesuai dengan masa dan tempat di mana mereka diutus. Namun mengenai dasar tauhid tidak ada sedikit pun perbedaan antara mereka. Dalam hal ini Allah menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam, dan hendaknya semua manusia menyembah dan bertakwa hanya kepada-Nya dan sekali-kali jangan menyekutukan-Nya dengan siapa pun dan sesuatu apapun.

Begitulah, maka dengan kalimat tauhid itulah, umat Islam bersatu, berjama’ah, dan menjauhi perpecahan.

Bersatu atau berjama’ah di antara umat Islam adalah wajib hukumnya, menurut nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka sebaliknya, akan berdosalah seseorang bila ia memecah belah umat Islam.

Wajibnya umat Islam bersatu, di antaranya Allah perintahkan di dalam ayat:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran/3: 103).

Hadirin yang berbahagia

Pada Surat Ali Imran ayat 103 tersebut, Allah memerintahkan kaum Mukminin menjaga persatuan dan kesatuan, dan agar berpegang teguh serta berusaha sekuat tenaga agar  bantu-membantu untuk menyatukan diripada tali (agama) seraya berjama’ah,  agar kamu tidak tergelincir dari agama Islam. 

Sebaliknya, kaum Mukminin agar jangan sampai bercerai-berai, jangan saling bermusuhan dan jangan saling mendengki, karena semua itu hanya akan menjadikan kaum Mukminin lemah dan mudah dihancurkan.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah lah yang mempersatukan hati kaum Mukminin dengan tujuan yang sama yaitu memperoleh ridha-Nya. Sehingga dengan karunia-Nya itulah, yaitu dengan agama Islam, kaum Mukminin menjadi bersaudara dalam satu keuarga besar orang-orang beriman.

Berkaitan dengan ayat ini, Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Allah Yang Maha Tinggi, memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, karena perpecahan itu binasa, dan persatuan adalah keselamatan.”

  فإن الفرقة هلكة، والجماعة نجاة

Karena itu hadirin yang berhagia

Marilah kita kedepankan persatuan dan persaudaraan, serta jauhi perselisihan dan pertikaian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita di dalam hadits-Nya:

عَنْ زَكَرِيَاابْنِ سَلاَّمٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ رَجُلٍ قَالَ اِنْتَهَيْتُ اِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُوْلُ أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَاِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ ! أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَاِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ ! ثَلاَثَ مِرَارٍ (رواه أحمد


Artinya: “Wahai manusia wajib atas kamu melaksanakan Al-Jama’ah dan jauhilah oleh kalian berfirqah-firqah! Wahai manusia wajib atas kamu melaksanakan Al-Jama’ah dan jauhilah oleh kalian berfirqah-firqah ! Tiga kali”. (HR Ahmad).

Sejarah menjadi saksi bahwa salah satu alasan terpenting jatuhnya negeri-negeri Muslimin, terlepas dari keyakinan mereka, adalah akibat perpecahan dan pertikaian dari dalam tubuh umat Islam sendiri.

Bani Abbasiyah pernah jatuh setelah negeri-negeri Muslim bertikai saat itu. Wilayah Islam di Andalusia runtuh akibat pertentangan.

Demikian pula, kekuatan Turki Utsmani pada masa akhir kepemimpinan kaum Muslimin di dunia, pun dibuat terpecah-belah oleh musuh-musuh Islam, karena mereka mengetahui bahwa kekluatan kaum Muslimin ada pada persatuan dan kesatuannya.

Begitulah kondisi kaum Muslimin yang kemudian terbagi menjadi negara-negara yang terpisah secara geografi dan politik. Masing-masing dibuat untuk memikirkan negerinya sendiri-sendiri, dengan memisahkan negeri Muslim lainnya, akibat tidak adanya sentral tali persatuan dunia Islam.

Untuk itu saudara-saudaraku kaum Muslimin

Marilah, kini adalah waktunya untuk persatuan, bukan waktu untuk perselisihan. Saat ini kita kaum Muslimin berada di zaman pertemuan yang diikat dengan kalimat Allah, Tauhidullah. Sehingga dengan kalimat tauhidullah itu dapat saling menguatkan dan melindungi satu dengan yang lainnya.

Marilah kaum Muslimin kita jadikan perubahan ini sebagai awal dari era baru dengan kata kunci bersatu, dan kita semua berkegiatan untuk mencapai tujuan mulia ini. Sehingga dengan persatuan dan kesatuan yang kokoh inil;ah, kita dapat menolong dan melindungi saudara-saudara kita yang terdzalimi, seperti di Rohingya (Myanmar), Uyghur (China), Kashmir (India), dan Palestina.

Semoga kita dapat mengamalkan dan menjaga kehidupan berjama’ah sebagai suatu hal terpenting dalam agama Islam, serta menjauhi perpecahan dan pertikaian. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin. (A/RS2/RI-1)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

الحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ الله فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ. وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ ، أَمَرَكُمْ بِالصَلاَةِ وَالسَلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ الكَرِيْمِ فَقَالَ الله ُتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. وَقَالَ إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا. اللّـهُمَّ صَلّ على محمَّدٍ وعلى ءالِ محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على إبراهيمَ وعلى ءالِ إبراهيم وبارِكْ على محمَّدٍ وعلى ءالِ محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على إبراهيمَ وعلى ءالِ إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ يَاقَضِيَ الحَاجَاتِ،

اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ،

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عبادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ والبَغي ، يعظُكُمْ لعلَّكُمْ تذَكَّرون. وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Mi’raj News Agency (MINA)