Khutbah Jumat: Persatuan dan Kesatuan Atasi Problematika Umat (Oleh: Dudin Shobaruddin)

Oleh: Dudin Shobaruddin, Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISQABM)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه،

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا،

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً، أَمَّا بَعْد .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Hadirin yang berbahagia

Segala puji bagi Allah, kepada-Nya kita memuji, kita memohon pertolongan, kita memohon ampunan. Kita berlindung kepada Allah, dari kejahatan jiwa ini, dari keburukan segala perbuatan kita.

Siapa yang dikehendaki Allah mendapat petunjuk, tiada siapapun dapat menyesatkannya. Sebaliknya siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada satupun yang dapat memberinya hidayah.

Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Kita pun bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya

Sidang Jumat yang berbahagia

Sebagai khatib berwasiat kepada diri dan keluarga dan juga hadirin semua, agar senantiasa bertakwa kepada Allah dengan selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Menurut  Sahabat Abdullah bin Masu’d yang terkenal sebagai mufassir Al-Quran, takwa berarti mentauhidkan Allah dengan tidak mempersekutukan-Nya, mengimani Allah dengan tidak mengkafiri-Nya, mensyukuri nikmat Allah dengan tidak mengkufuri-Nya.

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia

Hari datang silih berganti, pekan dan bulan terus berputar. Hari ini tidak terasa kita sudah berada di Jumat pekan pertama tanggal 7 January 2022 M. / 4 JumadilAkhir 1443 H. Mudah-mudahan tahun ini membawa berkah buat kehidupan kita bersama.

Secara statistik, pada tahun 2021, jumlah penganut agama Islam terus meningkat. Terutama di benua Eropa dan Amerika. Peningkatan mu’allaf terus menjadi hangat diberitakan. Ini sekaligus membuktikan bahwa Islam terus menjadi solusi utama bagi kehidupan umat manusia.

Menurut sensus terakhir diperkirakan jumlah umat Islam mencapai 1,8 miliar atau 24% dari penduduk dunia, dan merupakan penganut agama kedua terbesar setelah umat Kristiani. Walaupun jumlah itu masih belum menujukkan kekuatan dan power yang sesungguhnya.

Fakta di lapangan kita masih melihat Palestina hari ini masih dalam pendudukan dan penjajahan Zionis Israel. Masjidil Aqsa yang merupakan hak umat Islam juga masih dikuasai oleh mereka. Masih belum ada titik temu untuk mereka hengkang kaki dari bumi Allah yang penuh keberkahan itu. Bahkan justru semakin bertapak.

Mereka terus berdatangan dari berbagai pelosok dunia, sementara pemilik awal, muslim Palestina, diusir, rumah-rumahnya dibongkar, tanah mereka dirampas. Jika melawan dianggap memberontak, dan nasib mereka akan malang. Banyak yang  dibui atau dipenjara, bahkan banyak yang syahid.

Itulah hakikat kenyataan yang terus diterima oleh rakyat Palestina pemilik tanah pusaka dari nenek moyang mereka.

Kejahatan Zionis Israel itu terus saja berjalan sampai hari ini di tengah kesenyapan mata dunia internasional. Bagaimana seorang anak menyaksikan rumahnya dibuldoser, diusir keluar rumah. Fenomena ini masih terus mewarnai kehidupan rakyat Palestina.

Walaupun jumlah penduduk Muslim  begitu besar, mencapai sekitar 24% dari penduduk dunia. Namun masih mendapat ujian, belum mampu menghadapi penduduk Israel yang hanya 9,3 jt jiwa.

Dalam hal seperti ini, persis seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, umat Islam ibarat buih di lautan. Disebutkan di dalam hadits:

عن أبي عبد السلام، عن ثوبان، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها»، فقال قائل: ومِن قلة نحن يومئذ؟ قال: «بل أنتم يومئذٍ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السيل، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم، وليقذفن في قلوبكم الوهن»، فقال قائل: يا رسول الله وما الوهن ؟ قال: «حب الدنيا، وكراهية الموت )).

Artinya: Dari Abi Abdus Salam, dari Tsauban, berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih di lautan. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Nabi Shallallahu ’Alaih Wasallam menjawab: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745).

Dari hadits tersebut kita dapat ambil pelajaran:

Pertama, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam  memprediksi adanya umat Islam akan dijadikan rebutan kaum lain, umpama makanan di atas meja yang dilahap oleh orang-orang lapar. Akan terjadi terhadap umat Islam ini dengan jumlah yang banyak tapi tidak berkualitas, umpama buih di lautan, umpama tumpukan pasir yang diterjang angin akan hancur luluh beterbangan. Umat ini berporak poranda, berpecah belah.

Kedua, Allah akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh-musuh umat ini, mereka berani berbuat apa saja terhadap umat Islam, pelecehan, pengusiran dari tanah hak dan kepunyaannya,  penyiksaan, pembunuhan dll.

Ketiga, umat ini akan ditimpa penyakit Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati. Dalam konteks ini, bukan maknanya Islam anti dunia, justru Islam menggalakkan umat kaya (kaya harta dan jiwa), sebab perjuangan memerlukan keuangan. Uang itu bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang.

Apa yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara materil dan moril, antara ruh dan jasad. Kita memerlukan Sayidina Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Afan, Abdurrahman bin Auf versi baru, yang kaya harta dan kaya jiwa.

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah

Lalu, bagaimanakah solusi yang perlu kita kerjakan mengatasi problematika umat seperti itu?

Dalam keadaan umat seperti buih di lautan, seperti pasir yang berterbangan, itu karena umat berpecah menjadi bergolong-golongan. Maka solusinya tidak lain adalah kita kibarkan bendera persatuan dan kesatuan. Bendera satu jamaah dan satu imaamah, yang akan membawa satu kekuatan baru yang disegani kawan dan lawan.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْن

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran/3: 103).

Begitulah, dengan satu jama’ah seperti jama’ahnya kaum Muslimin pada zaman Kenabian, zaman Khilafah yang mengikut jejak kenabian, zaman Shalahudddin Al-Ayyubi yang mampu menerobos pintu gerbang solibiyuun, yang mampu membuka kunci Masjidil Aqsa dengan penuh kekuatan baru.

Itulah insya-Allah, Jama’ah Muslimin dan Imaamnya, tampil ke depan akan membawa udara baru bagi umat Islam, untuk mambawa rahmat sehingga dengan izin Allah terbukanya kembali Masjidil Aqsa hak umat Islam sepenuhnya dikuasai,

Peace Masjidil Aqsa peace in the world, damai dan aman di Masjidil Aqsa damai dan aman dunia ini.

Inilah harapan baru akan bangkitnya peradaban dunia Islam melalui persatuan dan kesatuan umat Islam, secara terpimpin, bil jama’ah. Insya Allah. (A/Sob/RS2/P1)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُم

Mi’raj News Agency (MINA)