Khutbah Jumat: Perusak Ukhuwah Islamiyah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Redaktur Senior MINA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ibaadallaah yang dirahmati Allah

Persaudaraan atau ukhuwah merupakan sesuatu yang istimewa karena diikat dalam kecintaan kepada Allah.

Ukhuwah dalam kecintaan pada Allah ini merupakan nikmat agung dari Allah.

Dengan ukhuwah inilah akan memiliki banyak manfaat bagi umat. Betapa indahnya, jika umat Islam senantaisa menjaga ukhuwah ini.

Karena ini kegiatan mulia, maka syaitan pun terus menggoda bagaimana merusak ukhuwah di antara kaum Muslimin.

Untuk itu, kami ingin mengingatkan pentingnya masalah ini.

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah

Perusak ukhuwah Islamiyah itu Allah ingatkan di dalam ayat:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٌ۬ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرً۬ا مِّنۡہُمۡ وَلَا نِسَآءٌ۬ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرً۬ا مِّنۡہُنَّ‌ۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَـٰبِ‌ۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَـٰنِ‌ۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain [karena] boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik dari mereka [yang mengolok-olok] dan jangan pula wanita-wanita [mengolok-olok] wanita-wanita lain [karena] boleh jadi wanita-wanita [yang diperolok-olokkan] lebih baik dari wanita [yang mengolok-olok] dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah [panggilan] yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Hujurat [49]:11).

Dari ayat di atas, ada tiga hal yang harus kita hindari agar ukhuwah Islamiyah tetap terpelihara, yaitu :

Pertama, memperolok-olokan antarsesama, karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan.

Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu.

Selanjutnya pada ayat berikutnya dilanjutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat [49]:12).

Pada ayat ini ada tiga hal lainnya yang menjadi perusak ukhuwah, yaitu: keempat, kecurigaan atau su’udzan terhadap sesama, kelima mencari-cari keburukan orang lain, dan keenam menggunjing satu sama lain atau ghibah.

Terutama tentang ghibah atau menggunjing ini bermakna seseorang menyebut keburukan saudaranya yang tidak ada di hadapannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita di dalam haditsnya:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيْلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Artinya: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kalian menyebut saudaramu dengan apa yang dia tidak sukai”. Dikatakan, “Apa pendapat Anda jika apa yang aku sebutkan ada pada saudaraku?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika apa yang engkau katakan ada padanya, sungguh engkau telah men-ghibah-nya, jika yang kau katakan tidak benar sungguh engkau berdusta dan mengada-ada”. (HR Muslim).

Ahli tafsir Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa janganlah seorang Muslim memeriksa rahasia Muslim, dan janganlah mencari-cari kesalahannya. Karena hak-hal itu hanya akan menyebabkan kedengkian dan permusuhan di masyarakat.

Hadirin yang berbahagia

Justru Al-Quran menyebutkan bahwa sesama orang beriman adalah bersaudara. Maka, jika ada perselisihan di antara orang-orang beriman, damaikanlah. Seperti firman-Nya:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengingatkan kita dalam sabdanya:

وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

Artinya: ”Dan jadilah hamba Allah yang bersaudara, seorang Muslim merupakan saudara bagi Muslim yang lainnya, dia tidak boleh mendzaliminya, dan tidak boleh membiarkannya jika minta tolong, dan tidak boleh menghinanya”. (HR Muslim).

Begitulah, merawat ukhuwah Islamiyah dan merekatkan hati-hati kaum Muslimin merupakan hal yang sangat penting. Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

Artinya: ”Dan (Allah) menyatukan hati-hati mereka (kaum muslimin), jika engkau infakkan seluruh yang ada di muka bumi ini, maka engkau tidak akan mampu untuk menyatukan hati-hati mereka, namun Allah bisa menyatukan”. (QS Al-Anfal [8]: 62).

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita seluruh kaum Muslimin untuk menghindari semaksimal mungkin perusak ukhuwah dan penghancur persatuan.

Kita terus mengajak kaum Muslimin untuk kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah secara totalitas (kaaffaah). Seraya menghiasi dakwah kita dengan mengedepankan sikap hikmah dan nasihat yang baik. Sebagaimana Allah mengingatkan:

أدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: ”Berdakwalah ke jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik”. (QS An-Nahl [16]: 125).

Begitulah, mengingat kedudukan ukhuwah Islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan.

Semoga ukhuwah Islamiyah tetap terjaga dalam ridha Allah. Aamiin. (A/RS2/RI-1)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.