Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan dan Kesatuan Umat

Oleh: Imaamul Muslimin, Syaikh Yakhsyallah Mansur

Khutbah ke-1:

اَلْحَمْدُ ِللهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ  فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ، وَقَالَ اَيْضًا. يَآأَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumuah yang di Muliakan Allah

Puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Ramadhan 1433. Sebentar lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita. Sudahkah kita memetik buah Ramadhan? Atau jangan-jangan kita hanya mendapat lapar, haus dan lelah saja saja? Maka, kita perlu mengoreksi diri sendiri sebagai bahan introspeksi dan evaluasi.

Ketahuilah wahai jamaah Jumuah semuanya, yang menjadi standar kebaikan amal seseorang adalah pada penutupnya, Awal memang penting, proses juga menjadi bagian tak terpisahkan, tapi tetap penutup dari proses tersebut akan menjadi penentu, apakah dia termasuk orang-orang yang sukses atau dia akan menjadi orang yang gagal dan merugi.

Dalam ibadah, khususnya di bulan Ramadhan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi WaSallam tidak hanya beribadah untuk dirinya sendiri. Beliau memikirkan keluarganya. Beliau bangunkan istrinya, beliau bangunkan putrinya, beliau bangunkan menantunya, juga cucu-cucunya, sambil beliau mengencangkan ikat pinggangnya, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah di sisa-sisa Ramadhan.

Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu anha menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di sepuluh hari terakhir, beliau menghidupkan malam, demi untuk mendapatkan hasil yang paling sempurna. Beliau tinggalkan rumahnya, beliau jauhi tempat tidurnya, beliau ajak keluarganya untuk datang ke rumah Allah ‘Azza wa Jalla, untuk beri’tikaf dan bermunajad di sana.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Taala dalam Qur’an, surah Az-Zuhkruf [43] ayat 67:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ (الزخرف [٤٣]: ٦٧)

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 67)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Yakni semua sahabat dan teman yang didasari bukan karena Allah, kelak di hari kiamat berbalik menjadi permusuhan. Kecuali apa yang berdasarkan karena Allah Azza wa Jalla maka hal itu akan tetap kekal berkat kekekalan Allah.”

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa setiap persahabatan akan menjadi permusuhan kecuali orang-orang yang bertaqwa.

Selanjutnya Ibnu Katsir menukilkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi WaSallam:

لَوْ أَنَّ رَجُلَيْنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ أَحَدُهُمَا بِالْمَشْرِقِ وَالْآخَرُ بِالْمَغْرِبِ لَجَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ هَذَا الَّذِى أَحْبَبْتَهُ فِي (إبن عساكر)

“Seandainya dua orang yang mencintai karena Allah salah satunya di belahan timur dan yang lain di belahan barat, pasti Allah akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat, lalu Allah berkata, “Inilah orang yang engkau cintai karena Aku.” (H.R. Ibnu Asakir)

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah

Taqwa sebagai tujuan seseorang berpuasa, memiliki ciri-ciri dan sifat yang khas antara lain: menjadi manusia yang gemar menolong dengan tenaga dan hartanya, bersedekah, baik pada waktu lapang maupun sempit, dapat menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, serta memiliki semangat persaudaraan antar sesama umat.

Persaudaraan yang dimaksud adalah mampu menjalin ikatan ukhuwah dengan sesama kaum Muslimin dalam satu kesatuan umat dalam satu kesatuan Jama’ah yang dipimpin oleh seorang Imaam. Mereka patuh menjalankan pertintah-perintah Imaam sepanjang perintahnya sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, serta mereka menasihati Imaam apabila perintahnya tidak sesuai dengan kedua sumber hukum Islam tersebut.

Persaudaraan dan kasih sayang sesama umat Islam adalah aplikasi dari sifat Allah Ar-Rahim, yang tertanam ke dalam hati sanubari seorang Mukmin. Umat Islam merasa satu satu iman, satu aqidah, satu jama’ah, bagai tubuh yang satu (kal jasadil wahid).

Persaudaraan muncul sebagai buah dari taqwa ini akan menyadarkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan umat dalam bingkai Al-Jama’ah jama’ah sehingga hilang permusuhan di antara mereka. Karena orang yang bertaqwa tidak menjadikan sesama umat Islam sebagai musuh baik di dunia maupun di akhirat.

Puasa Ramadhan yang dimulai dan diakhiri dalam waktu yang sama, akan sangat efektif dalam mewujudkan kesatuan umat. Dalam rangka mewujudkan kesatuan umat, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa mathla’ (tempat terlihatnya bulan) tidak diperhitungkan. Apabila penduduk suatu negeri melihat bulan, semua negeri wajib memulai dan mengakhiri puasa mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi WaSallam:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ (متفق عليه)

“Berpuasalah kalian setelah melihat bulan dan berbukalah kalian setelah melihatnya.” (Muttafaq Alaih)

Hadis ini ditujukan secara umum kepada seluruh umat Islam. Maka siapa saja melihat bulan di tempat mana saja, maka penglihatannya dipandang sebagai penglihatan seluruh umat.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah

Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi puasa memiliki beberapa hikmah di antaranya: membiasakan seseorang berkasih sayang yang menyebabkan ia rela berkorban dan bersedekah untuk membantu orang lain, terutama yang serba kekurangan.  Dengan puasa itu, dia telah merasakan bagaimana penderitaan orang lapar. Apabila perasaan ini telah tumbuh, maka akan muncul semangat persaudaraan yang kuat di antara sesama orang yang beragama.

Dari kasih sayang dan rasa persaudaraan itu, timbullah sinergitas, kerja sama yang solid antar sesama umat, sehingga permasalahan-permasalahan dapat diatasi, berbagai ancaman dan infiltrasi dari luar akan bisa diantisipasi.

Kesatuan umat dalam sebuah kepemimpinan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah solusi dari segala permasalahan umat, termasuk masalah Palestina, dan negeri-negeri Muslim minorotas lainnya yang tertindas.

Orang kafir mampu menjajah, menindas dan menguasai umat Islam, itu bukan semata-mata karena mereka kuat, tetapi karena kaum Muslimin sendiri yang terpecah-belah, tidak bisa menjaga persaudaraan, hilangnya kasih sayang, sehingga terjadi berbagai macam fitnah dan umat menjadi lemah.

Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah menjadi diperintahkan Allah itu, (untuk saling melindungi) niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Q.S. Al-Anfal [8] : 73).

Mafhum ayat di atas adalah, jika Muslimin mampu bersatu, bekerja sama dan bersinergi, niscaya tidak akan terjadi fitnah di muka bumi. Orang-orang Kafir tidak akan dapat berbuat dzalim dan menyebar fitnah jika saja umat Islam bersatu.

Hal inilah yang harus disadari oleh kaum Muslimin, persatuan dan kesatuan serta kembalinya umat Islam kepada ajaran Al-Quran dan Sunnah adalah kunci dan solusi dari segala problematika yang dihadapi umat saat ini dan masa yang akan datang.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu alahi Wasalam juga berpesan kepada sahabat Khudzaifah bin Al-Yaman Radliallahu ‘Anhu, ketika umat Islam menghadapi fitnah dan perpecahan umat? Beliau bersabda:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

 “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam  mereka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Semoga dengan semangat Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kaum Muslimin, menumbuhkan rasa kasih sayang dalam jiwa umat Islam, mempersatukan yang tercerai-berai, sehingga kaum Muslimin mampu mengamalkan pola hidup berjamaah, di bawah seorang Imaam yang ditaati.

Semoga dengan persatuan kaum Muslimin sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu alahi Wasalam dan para sahabatnya, umat Islam bisa mengatasi segala permasalahan, kedzaliman di muka bumi ini segera sirna, kebenaran dan keadilan bisa tegak di muka bumi ini.

Marilah di Jumat terakhir bulan Ramadhan ini, kita memanjatkan doa agar umat Islam dapat Bersatu dalam Al-Jama’ah, dan untuk saudara-saudara kita yang masih mengalami penindasan, penjajahan, kiranya Allah segera memenangkan mereka, membebaskan kaum Muslimin dari segala bentuk kedzaliman, penindasan dan penjajahan sehingga kaum Muslimin kembali jaya, mampu mengamalkan syariat-syariat Allah denga aman dan nyaman.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ،  فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(A/P2/R1)

Mi’raj News Agencu (MINA)