Khutbah pertama:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهٌ تَفَرَّدَ بِالْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ، وَتَوَحَّدَ بِالْكَمَالِ وَالْجَمَالِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ،وَخَاتَمُ الرُّسُلِ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Hari ini kita sudah berada di pekan pertama bulan Sya’ban 1442 H. Bulan yang menandai bahwa kita sedang berada di dekat pintu gerbang bulan suci Ramadhan. Artinya, beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan istimewa, bulan penuh rahmat dan ampunan.
Dalam kamus Bahasa Arab, kata Sya’ban berakar dari kata Arab “syi‘âb” yang bararti jalan di atas bukit. Makna “jalan” itu bisa dikiaskan bahwa kita sedang menapaki jalan menuju bulan istimewa, mulia lagi agung, yakni Bulan Ramadhan.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Bulan Sya’ban menjadi ajang persiapan, pemanasan, warming up untuk dapat melakukan ibadah dengan maksimal di Bulan Istimewa. Sebagaimana seorang atlet yang akan mengikuti lomba, masa persiapan adalah waktu yang krusial sebelum masuk waktu perlombaan.
Barang siapa yang melakukan persiapan maksimal, maka besar kemungkinan ia akan menang dan mendapat hasil maksimal saat perlombaan. Sebaliknya, jika persiapannya seadanya, tidak serius dalam berlatih, hanya menyisihkan waktu sesempatnya, maka besar kemungkinan ia akan lelah dan kalah dalam pertandingan.
Dengan demikian, kata kunci penting dalam hal ini adalah persiapan. Persiapan yang dimaksud adalah mempersiapkan jasmani dan rohani untuk menyongsong bulan paling sakral. Selain persiapan fisik, persiapan yang berorientasi kepada kesiapan mental sangat ditekankan.
Ma’asyiral Muslimin, Mukminin Rahimakumullah
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam memuliakan bulan Syaban, sebagaimana Allah Subhanahu wa Taala juga memuliakan bulan Sya’ban. Apa bukti Allah memuliakan bulan Sya’ban? Ada beberapa peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi pada bulan Sya’ban. Pada khutbah kali ini, khatib akan menyampaikan tiga saja peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban.
Jika sebuah peristiwa yang mulia terjadi, maka tempat dan waktunya pun secara otomatis menjadi mulia. Apa peristiwa yang mulia itu? Pada bulan Sya’ban Allah menurunkan perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana yang termaktub dalam Surat al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Para mufassir sepakat bahwa ayat ini turun di bulan Sya’ban. Dalam ayat tersebut ada tiga shalawat: shalawat yang disampaikan Allah, shalawat yang disampaikan malaikat, dan (perintah) shalawat yang diturunkan umat Rasulullah ﷺ.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala bershalawat kepada Nabi bermakna Dia memuji Nabi. Malaikat bershalawat kepad Nabi, berarti mereka sedang berdoa, sementara umat Nabi Muhammad diperintahkan bershalawat kepada Nabi artinya mengharap berkah dan syafaat.
Mengomentari ayat di atas, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban, karena dengan shalawat, kita semua akan mudah mengingat Rasulullah, menambah cinta kepadanya, dan dari cinta itu, kita memiliki keinginan kuat untuk mengikuti dan menjalankan sunnah-sunnahnya.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Peristiwa kedua, bulan Sya’ban juga bersejarah karena peristiwa perpindahan arah kiblat shalat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram di Makkah. Peristiwa peralihan kiblat ini ditandai dengan turunnya ayat 144 dalam Surat al-Baqarah:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”
Imam Al-Qurthubi Rahimahullah dalam kitab Al-Jami’ li Ahkâmil Qur’an mengutip pendapat Abu Hatim yang mengatakan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk berpindah kiblat dalam shalat pada bulan Sya’ban, tahun kedua Hijriyah.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Kiblat menjadi simbol tauhid bagi umat Islam. Peristiwa peralihan kiblat menegaskan bahwa dalam ibadah shalat, umat Islam tidak sedang menyembah ka’bah atau masjidil Aqsa, akan tetapi hanya menyembah Allah semata, taat dan patuh kepada perintah-Nya.
Jamaah Muslimin, mukminin yang dimuliakan Allah
Selanjutnya, yang ketiga, kemuliaan Bulan Syaban adalah disebut sebagai Syahrul Qurra’ (bulannya para pembaca al Qur’an). Dikisahkan dalam kitab Hilyatul Auliya, ada seorang pedagang bernama Amr bin Qais yang hidup pada zaman Imam Sufyan At-Tsauri (guru Imam Syafi’i). Tatkala masuk bulan Syaban, ia tutup tokonya dan mengalokasikan waktunya khusus untuk membaca dan tilawah Al Qur’an.
Karena saking cintanya dengan Al-Quran dan memuliakan bulan Sya’ban itu, maka ketika ia wafat, jutaan malaikat berwujud burung-burung putih, melayat dan menghadiri pemakamannya, serta berdoa untuknya.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Dalam kitab Lathaiful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al Hambali, dikisahkan: Bulan Sya’ban berkata kepada Allah: “Wahai Tuhanku, Engkau menjadikan aku di antara dua bulan yang agung, maka apa bagian untukku,” Allah menjawab: “Kujadikan untukmu (bulan) Qiraatul Qur’an (membaca Al-Quran).”
Di akhir khutbah ini, Khatib mengajak kepada jamaah Jumah semuanya, mari kita mempersiapkan diri menyongsong datangnya bulan Ramadhan.
Meski di tengah kesibukan pekerjaan, masih berjibaku dengan aktifitas-aktifitas keseharian, namun demi menyongsong bulan istimewa, mari luangkan waktu khusus, kita anggarkan sebagian dari rizki kita, dalam rangka persiapan menyambut Bulan Ramadhan.
Apa saja persiapannya, tentu dengan berlatih berpuasa, bersedekah, mengkaji ilmu, menjadwalkan waktu khusus untuk ibadah, terutama di malam harinya, agar di bulan Ramadhan nanti kita sudah terbiasa dengan amalan-amalan mulia.
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
Semoga Allah Ta‘ala menyampaikan usia kita hingga bertemu bulan Ramadhan, menyehatkan jasmani kita untuk menyongsongnya dengan penuh kesiapan, serta menguatkan rohani kita agar mampu menapaki hari-harinya dengan iman, kesabaran, dan ketaatan. Semoga bulan Ramadhan nanti benar-benar menjadi bulan perubahan dan keberkahan dalam hidup kita.
اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic