Khutbah Jumat: Umat Islam, Umat Yang Satu

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency), Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ،

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Marilah kita sama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu dengan cara mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Tentu, kita sebagai sesama umat Islam telah sama-sama diikat oleh ikatan yang sangat kuat yakni dengan adanya kesamaan aqidah Islamiyyah. Di dalam aqidah ini, persatuan, kesatuan,ukhuwwah Islamiyyah merupakan satu prinsip yang sangat mendasar dalam agama kita. Kita umat Islam seluruh dunia sesungguhnya adalah umat yang satu. Sekalipun secara fisik tempatnya ada yang di barat, di timur, utara maupun selatan. Juga walaupun ada perbedaan tanah air kelahiran, warna kulit, bahasa dan kebudayaan. Namun semua kita pada hakikatnya adalah satu, karena yang mempersatukan kita adalah adanya aqidah, agama Islam ini.

Allah menyebutnya dengan “ummatan wahidatan”, umat yang satu, seperti di dalam firman-Nya:

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Sesungguhnya umat kamu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kamu, oleh sebab itu maka hendaklah kamu menyembah Aku”. (Q.S. Al-Anbiya [21]: 92).

Sehubungan dengan ayat ini, Imam Abu Bakar Al-Jazairi menegaskan bahwa Islam adalah millah (agama) yang satu sejak masa Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Hingga masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Alasannya karena agama ajaran para Nabi adalah satu, yakni beribadah kepada Allah saja dengan mentauhidkan-Nya, berdasarkan apa-apa yang disyariatkan pada mereka.

Imam Ibnu Katsir menguatkan penjelasan ujung ayat وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ, maksudnya adalah beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukan-Nya, walau dengan syariat yang berbeda-beda bagi Rasul-Rasul-Nya.

Sejalan dengan ayat lain yang menyebutkan:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Artinya; “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (Q.S. Al-Maidah [5]: 48).

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha dan ampunan Allah,

Sebagai tanda persatuan kita selaku umat Islam, maka Allah pun memerintahkan kaum Muslimin di seluruh dunia untuk bersatu dengan berpegang teguh kepada kitab suci Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi dasar agama Islam. Sebagaimana yang telah Allah perintahkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا…..

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali agama Allah dengan bersatu-padu dan jangan terpecah belah……”. ( Q.S. Al-Imran [3]: 103).

Maka, sebaliknya, dengan terpecah-belahnya kaum Muslimin akan mengakibatkan runtuhnya kekuatan umat Islam itu sendiri. Karenanya, perbuatan saling menghujat, saling menjatuhkan satu dengan yang lain, saling jegal untuk memperoleh kedudukan sendiri, bahkan hingga saling berseteru dan bermusuhan hanyalah menjadikan lemahnya konsolidasi Muslimin.

Allah memperingatkan di dalam ayat:

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَلَا تَنَـٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡ‌ۖ وَٱصۡبِرُوٓاْ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

Artinya; “Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Anfal [8]: 46).

Jika pun terjadi perbedaan, dan kita yakin itu bukanlah perbedaan prinsip, bukan perbedaan aqidah. Namun biasanya hanyalah masalah khilafiyah, teknis dan politis. Maka jalan terbaiknya adalah dengan segera mengembalikan perkara tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana peringatan Allah:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ‌ۖ فَإِن تَنَـٰزَعۡتُمۡ فِى شَىۡءٍ۬ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۚ ذَٲلِكَ خَيۡرٌ۬ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلاً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul [Nya], dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah [Al Qur’an] dan Rasul [sunnahnya], jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. An-Nisa [4]: 59)

Ummatan wahidah, umat yang satu, itulah sesungguhnya kita umat Islam. Sehingga perumpamaan kita dengan sesama orang beriman adalah bagaikan satu tubuh, seperti digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits:

مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الَجسَدُ الوَاحِدُ إِذَا أَشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الَجسَدِ بِالْحُمِّى وَالسَهَرِ

Artinya: “Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwwah (persaudaraan), kasih sayang dan kepedulian sesama mereka abgaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh bagian tubuh akan ikut merasakan sakit dan tidak bisa tidur.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir Radhiallahu ‘Anhu).

Maka, marilah janganlah sampai kita saling berpecah-belah sebab itu hanya akan mendatangkan fitnah dan siksaan belaka. Allah mengingatkan kita di dalam ayat:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Q.S. Ali-Imran [3]: 105).

Semoga kita tetap memegang teguh prinsip ummatan wahidah dan menghindari perpecah-belahan di antara kita umat Islam. Aamiin ya robbal ‘aalamiin. (P4/P2)

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:  يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ … اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْـجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)