Khutbah Jumat: Umat Islam Yang Satu

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor dan Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ  أَمَّا بَعْدُ

Hadirin, jamaah Jumah yang berbahagia. Marilah kita panjatkan rasa syukur yang setinggi-tingginya ke hadhirat Allah, hingga detik ini, Allah masih mengumpulkan kita ke dalam barisan orang-orang yang beriman keapda-Nya. Kita juga bersyukur kepada Allah, karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya semata, kita bisa menjalankan aktivitas sehar-hari dan diberi kesempatan untuk hidup agar bertaubat dan semakin bertakwa kepada-Nya. Semoga amal ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Allah Subahanhu Wa Ta’ala. Saudaraku kaum Muslimin yang dirahmati Allah. Pada dasarnya kita kaum Muslimin, satu dengan lainnya adalah umat yang satu dalam memperibadati-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. (Q.S. Al-Anbiya [21] : 92). Pada ayat lain Allah menyebutkan:

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

Artinya: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 52). Jika kita renungkan ayat ini, maka akan sampailah pada pandangan bahwa era saat ini merupakan era kesejagaan, sebuah kampung besar atau global village, perhimpunan persatuan seluruh manu­sia. Begitulah luasnya pan­dangan Islam yang menyebutkan universalitas kemanusiaan, seruan untuk seruan bagi manusia seluruh dunia, yang semuanya pada seruan Islam terhadap perdamaian dunia dan larangan berpecah-ebaah apalagi berperang saling bunuh. Bahwa inti yang diajarkan Islam adalah akhlak karimah, budi yang mulia, ukhuwwah Islamiyah, dan persaudaraan kemanusiaan. Apalagi sesama kaum Muslimin, maka bersatu padu, hidup berjama’ah, bergabung dalam satu Jama’ah Muslimin, merupakan syari’at utama untuk mendapatkan kekuatan dan kemenangan. Ini Sesuai dengan firman Allah di dalam ayat-Nya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu bercerai berai…..” (QS. Ali Imran [3] : 103). Juga diperkuat di dalam perintah Nabi:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْا

Artinya : “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Karena itu, hadirin yang dirahmati Allah. Jika ada saudara sesama Muslim yang terluka, terdzalimi, apalagi secara missal terjajah seperti saudara-saudara kita di bumi Palestina sana. Terlebih lebih dari 1,7 juta mereka yang terkurung dan terblokade dari darat, lautan dan udara di sepanjang Jalur Gaza oleh penjajahan Israel. Maka tidak ada cara lain kecuali kita yang berada di sekelilingnya hingga yang terjauh sekalipun berkewajiban membela dan membebaskannya. Jangan biarkan kehormatan kaum Muslimin diserang dan terus dilecehkan begitu saja. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan di dalam hadirsnya:

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ نُصْرَتَه

Artinya : “Tidaklah seseorang yang membiarkan seorang Muslim di tempat di mana kehormatannya dilanggar dan dilecehkan, kecuali Allah akan membiarkannya di tempat yang ia menginginkan pertolongan-Nya di sana. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di tempat yang kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya di tempat yang menginginkan ditolong oleh-Nya,” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Dan, ini adalah kewajiban bersama membebaskan yang tertawan dan terblokade serta memberi makan yang memerlukan. Betapa Rasul pun telah mengingatkan di dalam sabdanya:

فُكُّوا الْعَانِيَ- يَعْنِي الأَسِيرَ- وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ

Artinya: “Bebaskan orang yang sedang tertawan, berikanlah  makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan jenguklah orang sedang sakit”. (H.R. Bukhari). Allah pun mengingatkan jangan sampai kaum Muslimin menjadi pendusta agama, sebab tidak memperhatikan anak yatim dan orang miskin. Seperti banyak anak yatim kehilangan orang tuanya akibat serangan Israel di Gaza dan Palestina pada umumnya, juga mereka miskin karena semua kebutuhan serba kesulitan dan berkekurangan. Allah mengingatkan kita di dalam Surat Al-Ma’un:

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ (١) فَذَٲلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ (٢) وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ (٣)

Artinya: “Tahukah kamu [orang] yang mendustakan agama? (1) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”(3). (Q.S. Al-Ma’un [107]: 1-3). Semoga Allah mempersatukan kita kaum Muslimin di dalam rahmat-Nya.

وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين

Amin Yaa Robbal ‘Alamin. (P4/R02). 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)