Kisah Heroik Muslimah Sang Penjaga Masjid Al-Aqsa

Lembaga Kemanusiaan Kepalestinaan, Aqsa Working Group (AWG), menggelar kegiatan “AWG Webinar Forum” yang bertajuk ‘Kisah Heroik Muslimah Sang Penjaga Masjid Al-Aqsa’ pada Kamis (3/6) malam.

Hadir dalam Webinar tersebut murobithoh generasi pertama di Masjidil Aqsa Ustazah Ziinat Ali Uwaydah yang saat Webinar berlangsung, ia berada di pelataran Masjid Al-Aqsa.Ia mengajak para peserta Webinar untuk tour di kawasan Masjidil Aqsa.

Hadir juga Murobithoh Khadijah Khuwais.

Dalam sambutannya pada webinar ini, Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur, mengatakan, tugas Murobithin sudah tertera dalam Al-Quran, bahwasanya tugas Murobithin ini adalah tugas kita bersama. “Dalam konteks tema kita malam ini, menguatkan bagaimana kita ikut serta dalam menjaga Masjid Al-Aqsa,” kata Imaam.

Pembicara pertama, Khadijah Khuwaiz, seorang muslimah yang aktif mengikuti dan menjadi pembicara dalam seminar-seminar terkait penjagaan Masjidil Aqsa.

Ia juga aktif berbicara di media sosialnya terkait kondisi Palestina dan Masjid Al-Aqsa, salah satunya melalui platform Instagram @khadejakhwies.

Dalam webinar ini, Khadijah menceritakan bagaimana ia bisa menjadi murobithin Masjid Al-Aqsa. Ia bergabung ke dalam barisan muslimah penjaga Al-Aqsa pada tahun 2014. Namun saat ini, ia telah masuk dalam daftar blacklist yang tidak diperbolehkan berkunjung ke Masjid Al-Aqsa oleh polisi pendudukan Israel.

“Banyak kunjungan pemukim ilegal Yahudi ke sana dan kita lihat juga dibatasinya umat muslim untuk masuk ke Masjidil Aqsa. Maka kami gerakkan  semakin banyak perempuan dan menggabungkan diri dengan gerakan penjagaan Masjidil Aqsa. Karena penjagaan Masjidil Aqsa ini bukan hanya tugas para lelaki, tapi semuanya,” ujar Khadijah.

Keberadaan perempuan di Masjidil Aqsa ini, kata Khadijah, untuk menekan pemukim Zionis yang seringkali melakukan penodaan terhadap Masjidil Aqsa. Maka gerakan ini hadir dan Alhamdulillah gerakan ini bisa bertahan sampai saat ini.

“Setelah Zionis mengetahui gerakan penjagaan Masjidil Aqsa ini,  mereka mulai melakukan tindakan-tindakan seperti penodaan dan penangkapan terhadap muslimat yang menjaga Al-Aqsa.

Israel juga terus merekam semua kegiatan muslimat di kawasan Masjidil Aqsa.

Khadijah juga menceritakan bahwa Zi.onis Israel tidak hanya melakukan penangkapan saja, tapi juga melakukan tindakan lainnya seperti diisolasi dan ditelanjangi dalam satu ruangan, dan itu yang dilakukan oleh Israel.

“Pengalaman buruk itu pernah terjadi kepada saya. Saya diisolasi di suatu ruangan dan tidak boleh menggunakan jilbab/kerudung saya,” ujarnya.

“Sekarang saya terhitung jarang ke Masjidil Aqsa karena sudah di-blacklist ,” katanya

“Ini merupakan sebuah upaya melanggengkan proyek mereka untuk menguasai Al-Aqsa,” katanya menegaskan.

Ia memberikan pesan untuk para muslimah di Indonesia, bahwasanya peran muslimat sangat penting.

“Perlu diketahui Masjidil Aqsa adalah milik kaum muslimin. Seandainya Anda ada di sini, Anda akan merasa terpanggil untuk menjaga Masjidil Aqsa kita. Maka peran muslimat sangat penting, bisa dikatakan muslimat itu menteri dalam negeri. Dan saya bersuara berpartisipasi untuk menyuarakan pembelaan terhadap Masjidil Aqsa,” kata Khadijah.

Ia memaparkan, situasi dan kondisi Masjidil Aqsa sekarang sungguh sangat memprihatinkan. “Kalau bukan kita yang peduli siapa lagi? Mudah-mudahan kita semua bisa semangat dan tersemangati untuk bisa menjadi penjaga Masjidil Aqsa,” ujarnya.

Ustazah Ziinat Ali Uwaydah

Sementara pembicara kedua dari Masjidil Aqsa adalah Ustazah Ziinat Ali Uwaydah, merupakan muslimah generasi pertama dalam gerakan muslimah penjagaan Masjidil Aqsa. Ia juga beberapa kali masuk dalam blacklist Israel yang tidak diperbolehkan masuk ke Masjid Al-Aqsa.

Sejak 2011 beliau berkiprah menjadi guru di halaqah-halaqah ilmu di pelataran Masjidil Aqsa, di mana para muslimah biasa mengaji di waktu pagi, dan biasanya waktu itulah para pemukim ilegal Zionis masuk ke Masjidil Aqsa.

Maka kehadiran para muslimah selain menimba ilmu, juga menghalau pemukim ilegal yang menodai Masjidil Aqsa.

“Takbir yang diucapkan oleh para muslimah ini membuat pemukim ilegal Israel ketakutan,” tuturnya.

“Sejak tahun 2011 sampai saat ini, saya pernah mengalami penahanan dan pencekalan, paling lama 6 bulan, paling cepat 3 bulan. Tahun 2012 saya ditahan Israel di bulan Ramadhan dan itu paling lama,” ujarnya.

Tapi hal itu, kata Ustazah Ziinat, tidak menghalangi semangatnya menjaga Masjidil Aqsa.

Ia terus membuat halaqah di pelataran Masjidil Aqsa, belajar ilmu, membaca Al-Quran, dan menjaga Masjid Al-Aqsa dari penodaan pemukim dan polisi Israel.

Ustazah Ziinat juga mennyatakan,  penjagaan yang dilakukan oleh muslimah ini semakin banyak, dan tidak akan pernah berhenti.

“Kami akan menyebar dari pintu ke pintu (pintu Masjid/Mushola di kawasan Masjidil Aqsa) untuk menjaga masjid dari penodaan kaum Zionis. Kami memiliki syiar, sebuah slogan dalam bahasa Arab, yang menandakan bahwa keberadaan muslimah para murobithoh, akan selalu ada,” tegasnya.

Saat Webinar berlangsung, ustazah Ziinat berada di Masjid Qibli dan dengan semangat memperlihatkan kawasan Masjid Al-Aqsa.

Para peserta dibuat kagum dan terharu dengan aksi ustazah tersebut.

Ia juga mengajak para peserta Webinar untuk tour ‘virtual’ di pelataran Masjidil Aqsa, sehingga membuat para peserta seolah-olah hadir dan merasakan suasana di sana secara langsung.

“Satu sampai dua jam tadi kita mengelilingi Masjidil Aqsa, saya berharap apa yang kita lihat menjadi penyemangat dan kita harus yakin bahwa kita dapat mengunjungi Masjidil Aqsa dan membebaskannya,” ujar Ustazah Ziinat.

“Kami menunggu antum semua,” ujar Ustazah Ziinat mengakhiri Webinar AWG Forum yang bertajuk ‘Kisah Heroik Muslimah Sang Penjaga Masjid Al-Aqsa’.

Semoga dengan cerita yang disampaikan dua murabithoh penjaga Masjidil Aqsa melalui Webinar tersebut, dapat memotivasi kita sebagai umat Islam terutama kaum Muslimah untuk terus melanjutkan perjuangan dalam pembebasan Masjidil Aqsa dan bumi Palestina dari cengkraman Zionis. (A/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)