Kisah Inspiratif Azwir Nazar Pemuda Pendiri Cahaya Aceh di Koran Jepang

Sebuah harian tertua di Jepang, The Tō-Ō Nippō Press meliput secara eksklusif kisah inspiratif seorang pemuda Aceh yang bernama Azwir Nazar, asal Aceh Besar. Dedikasi dan perjuangan hidup Azwir dianggap menarik dan penuh makna bukan saja bagi tanah kelahirannya, namun juga menginspirasi masyarakat dunia.

Betapa tidak, selain menjadi korban Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 silam, Azwir berhasil bangkit hingga mendapatkan beasiswa kuliah S3 bergengsi Pemerintah Turki sejak 2013 di Hacettepe University, Ankara. Strata S1-nya diselesaikan pada jurusan Tadris Bahasa Arab UIN Ar-Raniry (2007) dan S2 Komunikasi Politik Universitas Indonesia (2010) di Jakarta.

“Kami datang khusus ke Aceh untuk meliput Pak Azwir Nazar,” ujar Kepala Biro Umum Kyodo Internasional Jepang, Mr Okada yang datang ke Banda Aceh Bersama tim.

“Kami mendengar kisah pak Azwir dan Cahaya Aceh yang inspiratif dari sebuah kampung Tsunami, tentu kami sangat senang dan ingin mengabarkan kepada anak-anak dan masyarakat di Jepang,” lanjut Okada.

“Setelah 16 tahun Tsunami Aceh yang mengakibatkan lebih 220 ribu orang meninggal, seseorang yang kehilangan orang tua dan juga adik adiknya dapat membantu orang lain. Itu sangat berharga dan luar biasa. Apalagi Azwir pernah tinggal di Jakarta dan Turki. Kemudian dia mau pulang kampung membangun sebuah balai yang sederhana,” sambung Mr Kentaro Okada.

Liputan berbahasa Jepang tersebut juga menyebutkan bahwa tinggal dengan adiknya, Mushalin (23), Azwir tetap semangat untuk meraih mimpi masa depan. Azwir dikenal berprestasi dan aktif sejak di Aceh, Jakarta di berbagai organisasi pelajar, mahasiswa, dayah, kepemudaan hingga aktivis kemanusiaan.

Dia juga pernah bekerja di beberapa NGO baik lokal maupun Internasional saat rehab rekon Aceh pasca Tsunami. Sejak S1 Azwir pernah menjadi pembicara dalam Internasional Peace Conference di Korea Selatan pada Mei 2006 serta Internasional Solidarity Mission to Mindanao, Oktober 2008 di berbagai kota di Filipina.

Tak berhenti di sana, di Turki pun pria sederhana dan suka ziarah ke maqam para Nabi dan Wali ini juga menjadi Presiden Pelajar Indonesia (PPI) di Turki. Peran penting Azwir saat mengadvokasi para pelajar yang terdampak Kudeta Turki tahun 2006, telah membuatnya sangat popular baik di kalangan para pelajar Indonesia di seluruh dunia maupun masyarakat Indonesia di tanah air.

Dirikan Cahaya Aceh

Tak lantas melupakan Aceh, tanah kelahirannya. Azwir kemudian mendirikan Yayasan Cahaya Aceh sebagai spirit Tsunami. Melalui kampanye di media sosial, Cahaya Aceh kemudian membangun satu balai Edukasi dan Taman Baca gratis bagi anak anak dan warga yang ingin belajar.

“Ya Alhamdulillah sudah tiga tahun” kata Azwir.

Bersyukur banyak anak-anak muda Aceh yang terlibat dan mau berkontribusi dengan mengajar adik-adik secara sukarela. “Langkah-langkah kecil ini harus terus kita ayunkan, sehingga Cahaya Aceh dapat dirasakan manfaat dan dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.

Balai Cahaya Aceh yang berkontruksi kayu didirikan Azwir bersama teman-temannya dengan ala Aceh seperti rumah panggung. Diatas sebagai pusat belajar dan di lantai dasar juga dipakai untuk pustaka dan aktivitas pendukung. Selain anak-anak usia 5-15 tahun yang dapat belajar Al-Quran; belajar Bahasa Arab, Inggris, Turki; menari, melukis, memanah, dan lain-lain juga digunakan untuk pembinaan dan pengajian ibu-ibu dan warga. Semuanya gratis!

Harian The Tō-Ō Nippō Press yang terbit pertama sekali 6 Desember 1888 di Provinsi Amouri, Jepang juga mengulas kisah heroik Pendiri Cahaya Aceh tersebut yang memulai hidup di tenda usai selamat dari Tsunami dengan tidak berputus asa dan bangkit untuk menyalakan lilin perubahan.

“Alhamdulillah, saya bersyukur dapat kuliah hingga ke Turki dan dapat mengelilingi banyak tempat di dunia, saya ingin adik-adik kita di kampung, yang ekonominya kurang beruntung, yang yatim itu dapat memperoleh pendidikan lebih baik dan akhlak yang terpuji,” harapnya.

“Tak perlu menyalahkan keadaan, jangan putus asa dan jangan terlalu bergantung pada pemerintah. Saatnya kita berpikir apa yang dapat kita berikan untuk sesama. Mulailah dari yang kecil dan sederhana. Insya Allah akan banyak manfaat,” tutur Azwir.

“Sebagaimana semangat orang Jepang yang pantang menyerah, sebenarnya orang Aceh dulu juga begitu. Banyak berkorban, selalu berjuang. Tantangan pasti ada. Itu Namanya hidup,” sebutnya.

Liputan Eksklusif di Koran tertua di Jepang tersebut juga dimuat dalam versi lebih lengkap situs berita negeri matahari terbit tersebut yang dapat di akses di https://this.kiji.is/733697191091404800 terbitan Tokyo.(AK/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)