Kisah Relawan Kemanusiaan Ukhuwah Al-Fatah Rescue

Oleh: Kurnia MH (Jurnalis MINA)

Kisah relawan kemanusiaan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) saat ikut dalam pencarian dan pertolongan korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, bersama Basarnas dan relawan gabungan melakukan pencarian korban, bangkai pesawat dan black box.

Operasi pencarian besar-besar dilakukan Tim SAR gabungan sejumlah serpihan dan bagian tubuh korban ditemukan di kedalaman 23-27 meter sekitar Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Diantara relawan kemanusiaan yang aktif turun ke medan bencana adalah Ukhuwah Al-Fatah Rescue, yang sehari sesudah tragedi pesawat Sriwijaya jatuh itu, segera menerjunkan 10 personel.

UAR memiliki 19 cabang di wilayah Indonesia. UAR adalah sebuah organisasi swadaya masyarakat yang berpusat di Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Nanang Setiawan salah seorang relawan UAR yang memutuskan ikuti turun dalam penanganan korban pesawat Sriwijaya. Ia pun  terlibat dalam upaya evakuasi di perairan Kepulauan Seribu selama sepekan.

Menurutnya, ada ragam hambatan dalam melakukan evakuasi mulai dari faktor alam, faktor kesehatan, hingga faktor emosi relawan, perlu kesabaran para relawan kemanusiaan. “Saat itu saya mulai ke Pelabuhan Tanjung Priok, standby pada tanggal 10 Januari sampai 13 Januari,” imbuh Nanang.

Semangat kemanusiaan dalam membantu keluarga korban telah membuat para relawan bersemangat melalukan aktivitas pencarian bersama tim SAR gabungan. Hingga dibuat  bergantian setiap per-koordinasi daerah mendapat bagiannya untuk melaksanakan tugas tersebut.

Insyaallah pada hari Senin (18/1) masa pencarian korban kemungkinan akan diakhiri.

“Mau kembali untuk ambil tenda yang masih digunakan, info dari Basarnas terahir penutupan hari Senin,” kata Nanang melalui  whatsapp-nya.

“Kita mulai dibolehkan ikut bantu Basarnas evakuasi korban dari hari Kamis, dan harus tes swab terlebih dahulu jika hasil swab nya negatif baru di perbolehkan ikut evakuasi,” ujar Nanang yang sudah lama bermukim Bogor tersebut.

Ia menuturkan, “Alhamdulillah, banyak ilmu dan pengalaman yang bisa diambil dari membantu penanganan pesawat Sriwijaya. Ttidak lupa salah satunya bisa bersilaturahmi dengan Potensi SAR lain jadi banyak saudara dan teman-teman, Dan kita bisa saling melengkapi dan saling menguat menguatkan dan banyak ilmu yang di dapat serta menambah pengalaman.”

Bagaimana keluarga saat ditinggal? “Kalau keluarga Alhamdulillah istri menerima apa adanya, dalam keadaan sempit atau pun lapang, istri saya menerimanya. Bahagia bercampur sedih pokoknya rasa seperti permen,” katanya sambil tertawa.

Selain sebagai relawan kemanusiaan UAR, ia juga driver ojek online, sudah satu setengah tahun tidak kembali mengojek dikarena pendemi Covid-19.

“Kalau rizki mah dari mana saja datangnya, Alhamdulilah saya ikut di marketing Beton Readymix dan sewain pompa milik Bapak Ibnu Mas’ud,” ujarnya.

Ukhuwah Al-Fatah Rescue, menjadi bagian dalam tim pencarian pesawat Sriwijaya SJ-182. Ini sungguh suatu kemajuan besar, jika mengingat bagaimana dulu saat perintisannya dimulai hanya dengan modal “tekad dan nekad”.

Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Jabodetabek Banten Terjunkan 10 Personel

UAR Jabodetabek Banten menerjunkan 10 personel dalam membantu pencarian para korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Ketua UAR Jabodetabek Banten Endang Sudrajat mengatakan kepada MINA, Ahad (10/1): “Kami mengirimkan 10 personil untuk membantu  dan tim supporting penanganan jatuhnya pesawat Sriwijaya,” katanya.

Ia mengatakan, tim UAR sudah melakukan laporan ke posko utama pelabuhan Tanjung Priok, saat ini tim dari berbagai lembaga kemanusian sedang menunggu arahan dari tim Basarnas.

“Kita sebagai tim supporting bila diperlukan, untuk evakuasi oleh Basarnas dan tim yang sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya,” kata Endang.

Maskapai Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJY182 diduga hilang kontak saat mengudara di atas perairan Kepulauan Seribu, pada Sabtu, 9 Januari 2021. Maskapai swasta ini lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Pontianak.

Didirikan pada 2004 ketika bencana tsunami terjadi di Provinsi Aceh, oleh mendiang pemimpin wadah persatuan umat, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) H. Muhyiddin Hamidy.

UAR sudah terjun ke berbagai tempat bencana alam baik di dalam maupun di luar negeri, seperti tsunami Aceh, tsunami Pangandaran, Gunung Merapi Yogyakarta, Gempa Nepal, Gaza Palestina dan lain-lain. (AK/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)