Koalisi Pemerintah Israel Tanpa Netanyahu Terbentuk, Tapi Tunggu Dukungan Knesset

Pemimpin Yesh Atid Yair Lapid (kiri), pemimpin Yamina Naftali Bennett (tengah) dan pemimpin Ra'am Mansour Abbas menandatangani perjanjian koalisi pada 2 Juni 2021. (Courtesy of Ra'am)

Yerusalem, MINA – Pemimpin partai oposisi Yesh Atid, Yair Lapid, telah memberi tahu Presiden Israel bahwa ia berhasil membentuk “pemerintah perubahan”, setelah ketua partai Yamina – sekutu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu – dan partai islamis Ra’am sepakat membentuk koalisi dengannya.

Terlepas dari deklarasi Lapid, masih belum jelas bahwa calon “pemerintah perubahan” akan berhasil melewati garis finis. Mereka harus disetujui oleh 61 dari 120 kursi Knesset, Times of Israel melaporkan.

Semantara Anggota Knesset dari partai Yamina, Nir Orbach, sebelumnya pada Rabu malam mengumumkan bahwa dia dapat memilih menentang koalisi baru itu.

Ancaman Orbach akan berpotensi menghancurkan calon pemerintahan sayap kanan, tengah, sayap kiri dan partai islamis.

Kesepakatan koalisi tercapai setelah pemimpin partai Ra’am, Mansour Abbas, menempatkan dukungannya di belakang calon pemerintah baru pada Rabu malam.

Hal itu membuat Ra’am menjadi partai Islam pertama di Israel yang menjadi bagian dari koalisi yang berkuasa dalam sejarah Israel.

Di bawah ketentuan koalisi baru, Bennett akan menjabat sebagai perdana menteri hingga September 2023, ketika Lapid akan mengambil alih darinya hingga akhir masa jabatan Knesset pada November 2025.

“Saya merasa terhormat untuk memberi tahu Anda bahwa saya telah berhasil membentuk pemerintahan,” kata Lapid kepada Rivlin menurut pernyataan Yesh Atid.

“Saya mengucapkan selamat kepada Anda dan para pemimpin partai atas persetujuan Anda untuk membentuk pemerintahan. Kami berharap Knesset akan bersidang sesegera mungkin untuk meratifikasi pemerintah, sesuai kebutuhan,” kata Rivlin kepada Lapid dalam panggilan telepon di antara mereka pada Rabu malam, menurut Kantor Presiden. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)