Kondisi Pernikahan di Gaza Saat COVID-19 Datang (Oleh: Hana Adli, Gaza)

Di saat pihak berwenang Hamas melaporkan dua kasus pertama virus corona di gerbang masuk Jalur Gaza yang diblokade awal bulan ini, ada pengumuman bahwa banyak bisnis akan ditutup tanpa batas waktu, termasuk restoran, kafe, dan ruang pernikahan.

Langkah-langkah tersebut diambil dalam upaya memperlambat potensi penyebaran virus yang sangat menular, yang telah membanjiri sistem kesehatan di seluruh dunia. Pihak berwenang sejak itu melaporkan tujuh infeksi lagi, sehingga jumlah total kasus di Gaza menjadi sembilan kasus

Para ahli mengatakan, wabah bisa menjadi bencana besar bagi Gaza, tempat dua juta warga Palestina tinggal di jalur pantai berpenduduk padat, yang telah berada di bawah blokade Israel-Mesir selama lebih dari 12 tahun dan menderita kekurangan pasokan medis, serta barang-barang kebutuhan pokok dan listrik.

Pada waktu pengumuman itu, langsung menimbulkan dilema bagi Nabil Al-Hajeen, hanya dua hari sebelum dia melangsungkan pernikahan dengan Fatma.

Mohamed Abu Ali mengadakan pesta pernikahannya di rumah. (Foto: Ashraf Amra/Al Jazeera)

Perampingan atau tunda?

“Itu mengejutkan bagi saya dan pengantinku,” kata Nabil kepada Al Jazeera. “Saya sudah menghabiskan lima bulan merencanakan pernikahan saya, sulit untuk membatalkan atau menunda itu.”

Dengan ditutupnya ruangan-ruangan pesta pernikahan, pasangan ini mempertimbangkan untuk menunda pernikahan. Namun, mereka akhirnya memutuskan untuk menikah pada tanggal yang direncanakan di rumah keluarga Nabil di Gaza City, meskipun itu berarti secara drastis mengurangi jumlah tamu pada upacara tersebut dari sekitar 400 menjadi sekitar 25 anggota keluarga wanita dari mempelai pria dan wanita saja.

“Kami tidak tahu kapan larangan ini akan berakhir, jadi kami memutuskan untuk mengadakan pesta di rumah,” kata Fatma.

Dalam beberapa tahun terakhir, pernikahan di Gaza biasanya mempertemukan lusinan atau ratusan kerabat, tetangga, dan teman-teman mempelai pria dan wanita yang menghadiri upacara di aula pernikahan, yang dihiasi dengan dekorasi warna-warni dan lampu yang terang.

Namun, untuk pernikahan rumah Nabil dan Fatma, saudara perempuan Nabil menyiapkan hidangan tradisional somaqia Palestina untuk pesta dan menghiasi lounge dengan bunga plastik dan balon. Mereka juga memasang lampu disko kelap-kelip untuk menciptakan kembali suasana tempat pesta pernikahan yang khas.

Kosha pernikahan, tempat pengantin pria dan wanita duduk selama resepsi, berdiri di tengah-tengah ruang tunggu dan juga dihiasi dengan balon.

“Seperti pesta pernikahan pada masa Intifada tahun 1980-an dan 1990-an, ketika calon pengantin pria berusaha menikah dengan pesta-pesta kecil,” kata saudara perempuan Nabil, Huda.

Di tengah kekhawatiran akan infeksi atau kemungkinan menyebarkan virus, beberapa kerabat memutuskan untuk tidak hadir, sementara sebagian melakukan beberapa tindakan pencegahan.

“Meskipun itu hanya sejumlah kecil tamu, kami takut, sehingga tidak ada ciuman dan pelukan untuk memberi selamat kepada kami seperti biasa,” kata Huda.

Pernikahan di Gaza biasanya dibayar oleh pengantin pria dan biayanya bisa mahal: makan siang untuk para tamu, menyewa ruang pernikahan, transportasi dan kue, semua harus dibayar.

Tingkat pengangguran di Gaza mencapai 47 persen tahun lalu, menurut Bank Dunia, sementara pengangguran kaum muda bahkan diperkirakan lebih tinggi, biaya pernikahan tipikal tidak terjangkau oleh banyak pria muda.

Menurut Biro Statistik Pusat Palestina, berdasarkan tingkat konsumsi, 54 persen populasi di Gaza hidup dalam kemiskinan, sementara 36 persen berada dalam kemiskinan ekstrim.

Fatma mengatakan, dia marah karena menyadari bahwa dia tidak akan dapat mengadakan pesta di aula pernikahan. Namun, dia juga merasa lega bahwa kehidupan pernikahannya tidak akan dimulai dengan segunung utang.

“Saya banyak menangis karena saya tidak bisa melakukan pesta saya di aula pernikahan, tetapi saya sekarang sangat senang dengan pesta yang sangat ceria yang kami adakan, yang juga telah mengurangi biaya pada suami saya sehingga kami akan hidup dengan lebih sedikit utang.”

Mohamed Abu Ali merayakan pernikahannya di jalan bersama teman-temannya di Gaza, Palestina. (Foto: Ashraf Amra/Al Jazeera)

Studio sterilisasi

Penutupan ruang pernikahan di Gaza juga tidak mencegah pengantin baru untuk pergi ke studio fotografi Asma Awni Nassar di Gaza City barat, tempat pengantin baru telah membuat janji agar potret pernikahan mereka diabadikan.

“Saya menerima lebih banyak calon pengantin pria dan wanita untuk sesi foto di studio saya, mendokumentasikan hari istimewa mereka. Mereka tidak membatalkan pesta pernikahan dan kebanyakan dari mereka merayakannya dengan anggota keluarga di rumah mereka,” kata manajer studio Asma Awni Nassar.

Bahkan sebelum kasus pertama dilaporkan di Gaza, beberapa pengantin pria telah memutuskan untuk memajukan tanggal pernikahan mereka di tengah kekhawatiran kemungkinan wabah masuk wilayah itu. Setelah ruang pernikahan ditutup, sejumlah pasangan memutuskan untuk mengadakan pernikahan di rumah.

Asma telah melarang kru filmnya mengunjungi rumah keluarga pengantin untuk merekam video pesta pernikahan, seperti yang diminta oleh mempelai pria, membatasi pekerjaan hanya untuk sesi foto di studio saja, di mana timnya mengenakan masker, sarung tangan dan mensterilkan peralatan dan lokasi.

Dia mencatat bahwa terjadi peningkatan sekitar 50 persen jumlah pasangan yang datang ke studio setiap hari sejak ruang pernikahan ditutup.

Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada Al Jazeera, mereka telah menerima ratusan telepon dari calon pengantin pria dan pemilik aula pernikahan untuk memeriksa dalam keadaan apa mereka bisa mengadakan pernikahan.

“Kami melakukan tur berkala di aula dan restoran untuk memastikan implementasi keputusan. Kami juga mengirim patroli ke rumah-rumah untuk mencegah pertemuan besar dan menekankan perlunya jumlah kecil di pesta-pesta ini,” kata Kolonel Ayman Al-Batniji kepada Al Jazeera.

Demikian pula yang dialami oleh Mohamed Abu Ali.

Pembatasan terhadap perayaan membuatnya memutuskan untuk mengadakan pesta pernikahannya di rumah keluarga di Khan Younis, Gaza selatan, tetapi pembatasan membuatnya merasa sedikit gelisah.

“Pemerintah bahkan melarang pesta pria, yang seharusnya diadakan sehari sebelum pernikahan,” katanya kepada Al Jazeera. “Juga rumah itu sangat kecil untuk pesta pernikahan, tetapi tidak ada pilihan lain.”

“Teman-teman merayakan bersama saya di jalan sebelum pergi ke rumah pengantin wanita untuk membawanya ke pesta di rumah kami, tetapi tetangga dan kerabat takut untuk bergabung,” tambahnya.

“Kami takut bahwa polisi akan datang ke rumah kami untuk melarang pernikahan di rumah” katanya.

 

“Lebih baik menunda”

Di saat pernikahan terus berlanjut di rumah-rumah pribadi, beberapa keluarga di Gaza lebih memilih membujuk pasangannya untuk menunggu dan mengadakan upacara tradisional ketika ruang pernikahan dibuka kembali.

Setelah satu setengah tahun persiapan, Malak Nasser dan calon suaminya, Ismael, akan menikah pada 27 Maret di salah satu ruang pernikahan paling bertingkat di Gaza City.

Awal bulan ini, khawatir bahwa ruang pernikahan akan segera ditutup di Gaza, Malak mencoba untuk memajukan tanggal pernikahannya. Namun, baik aula dan banyak lainnya, sudah penuh dipesan.

Kehabisan pilihan, Malak dan Ismael berusaha meyakinkan keluarganya untuk mengadakan pesta pernikahan kecil di rumah, tetapi keluarga mereka tidak mendukung gagasan itu.

Ibu Malak, Sanaa (55), bersikeras bahwa pernikahannya ditunda.

“Saya menyetujui upacara sebelumnya, tetapi tidak ada aula yang tersedia,” katanya kepada Al Jazeera. “Saya menolak mengadakan pesta kecil di rumah karena Malak adalah pengantin pertama dan kegembiraan pertama saya dari empat anakku. Jika kita tidak berbagi kebahagiaan kita dengan kerabat dan teman, maka ini tidak bisa disebut pernikahan.”

“Kami telah mempersiapkan acara keluarga khusus ini selama setahun. Kami telah merancang gaun dan pakaian khusus untuk perayaan ini dan menghabiskan banyak uang untuk merayakannya, jadi lebih baik menunda dan merayakan hari besar ini setelah akhir situasi darurat virus corona,” tambahnya. (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: Al Jazeera

 

Mi’raj News Agency (MINA)