KONFLIK SURIAH KARENA PEREBUTAN KEKUASAAN

Pengamat politik Timur Tengah Fahri Ghofur. (Foto: Nur Hadis/MINA)
Pengamat politik Timur Tengah Fahri Ghofur. (Foto: Nur Hadis/MINA)

Bogor, 8 Rabi’ul Awwal 1437 / 19 Desember 2015 (MINA) – Pengamat politik Timur Tengah Fahri Ghofur mengatakan, konflik Suriah mencapai puncaknya saat perebutan kekuasaan antara penguasa Basyar Al-Assad dan gerakan yang mengatas namakan Islam.

Hal itu ia simpulkan saat Fahri menjadi nara sumber dalam seminar bertema Surian dan Islamic State (ISIS) di Pondok Pesantren A-Fatah Cileungsi, Bogor, Sabtu (19/12).

Ia mengatakan, intervensi Amerika Serikat dan Rusia membuat konflik Suriah semakin meruncing, hingga saat ini korban tewas di Suriah lebih 300.000 jiwa.

“Dampak konflik Suriah saat ini, yang pertama menimbulkan kekacauan politik yang menyebabkan konflik global, yang kedua semakin menguntungkan Israel, yang ketiga munculnya gerakan radikal, salah satunya ISIS,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan dinamika konflik politik di Suriah saat ini mengalami kesulitan data-data otentik tentang konflik yang sedang berjalan. Diperkirakan jumlah pengungsi Muslim Suriah sampai detik ini mencapai 75%.

Di forum yang sama, Penasehat Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Sony Sugema mengatakan, Islam berkembang bukan karena pedang, namun karena akhlak yang mulia yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam.

“Karena Islam itu rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya.

Sony mengutip Al-Quran Surat Al-Maidah (5) ayat 32, yang artinya, “Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan sia telah membunuh semua manusia. Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”

(L/nrz/fit/P011/p010/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)