Konjen RI di Jeddah: Pelaku Bisnis Indonesia Punya Peluang Besar di Pasar Saudi

Konsul Jendral RI di Jedda Eko Hartanto (tengah) bersama Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia.

Jeddah, MINA – Konsul Jendral RI di Jeddah Eko Hartono mengatakan para pelaku bisnis Indonesia termasuk UMKM memiliki peluang besar di Arab Saudi untuk memasarkan produk-produknya.

“Karena peluangnya sangat besar (memasarkan produk-produk), ada musim Haji dengan jumlah jamaah Indonesia sekitar 200.000 orang lebih, kemudian ada umrah 1,2 juta orang setiap tahun, belum lagi dari jamaah yang lainnya. Itu peluang bisnis yang sangat besar bagi kita untuk memasarkan produk kita baik dari UMKM dan sebagainya,” ujar Eko dalam wawancara khusus dengan Tim wartawan MINA secara daring pada Selasa (24/11) malam.

Di samping itu, Eko menambahkan, terdapat pula diaspora Indonesia yang sudah lama bermukim di sana menjadi para importir produk-produk Indonesia.

Kemudian ada banyak restoran-restoran Indonesia yang juga  menyerap produk bumbu-bumbu dari  Indonesia.

KJRI Jeddah sendiri sangat mendukung para pelaku usaha untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut dengan sering melakukan bimbingan melalui seminar dan pelatihan.

“Pada intinya kita sangat mendukung kalau ada teman-teman UMKM di Indonesia ataupun  diaspora Indonesia yang ada di sini untuk berbisnis,” kata Eko.

“Kemudian bagaimana kita meningkatkan kapasitas mereka supaya bisa berbisnis adalah dengan pelatihan-pelatihan baik untuk  teman-teman diaspora yang ada di sini, maupun pengusaha di Indonesia, supaya para UMKM kita bisa meningkatkan perdagangan mereka, bisa menjual lebih banyak barang di wilayah ini,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, memang terdapat kesulitan atau tantangan bagi para pelaku usaha untuk memasukkan produk ke Saudi karena pengawasannya yang cukup ketat terutama produk makanan, minuman dan obat-obatan.

“Untuk itu para pelaku usaha harus belajar banyak dalam meningkatkan kualitas produk mereka, bukan hanya dari halalnya tapi juga proses produksinya mulai dari teknis, tanggal produksi, kadaluwarsa, kemudian labeling, sertifikasi higienis, ISO dan sebagainya,” ujarnya. (L/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)