Kontroversi Perlawanan Kaepernick Bela Kulit Hitam

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Amerika Serikat (AS) memiliki masalah rasisme yang terstruktural dan tak terbantahkan. Pergerakan aktivis Black Lives Matter mengatakan, karena itulah pemain gelandang football Amerika Colin Kaepernick melawan diskriminasi rasial itu.

Sebanyak dua kali sudah, Kaepernick melakukan protes diam ketika ia menolak berdiri saat lagu kebangsaan AS dinyanyikan sebelum pertandingan NFL (National Football League). Tindakan itu memprotes tentang pembunuhan polisi terhadap laki-laki kulit hitam bersenjata di negara itu yang dianggap menindas warga kulit hitam dan kulit berwarna.

Kaepernick didukung oleh timnya, San Francisco 49ers, tetapi ia menghadapi rentetan cemoohan dan kritik, termasuk komentar calon presiden dari Partai Republik Donald Trump.

Trump menyuruh Kaepernick untuk menemukan negara yang bekerja lebih baik dari Amerika Serikat untuk dia.

Tapi Opal Tometi, salah seorang pendiri Black Lives Matter mengatakan, mengabaikan isu rasisme secara luas adalah naif.

“Beberapa orang bodoh memilih untuk bersembunyi di balik hak mereka dan mengakui bahwa rasisme tidak masalah,” kata Tometi kepada wartawan Al Jazeera. “Tak bisa dipungkiri bahwa ada penindasan sistematis terhadap orang kulit berwarna di Amerika Serikat.”

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada 2015, pria muda berkulit hitam sembilan kali lebih mungkin untuk dibunuh oleh polisi dibandingkan dengan orang Amerika lainnya.

Warga Amerika non-kulit putih hanya 37 persen dari populasi Amerika Serikat. Lebih dari 47 persen dari semua orang yang tewas oleh polisi berstatus masyarakat minoritas.

Survei lain mengungkapkan, warga Afrika-Amerika tiga kali lebih mungkin untuk diburu dibandingkan orang kulit putih.

“Kita sudah bisa melihat reaksi yang Kaepernick terima dari kebencian lewat e-mail, ancaman kematian, dan orang-orang membakar jersey dan patungnya,” kata  Tometi.

Ia juga mengungkapkan, bahwa ada pemain lain yang mencoba untuk mengikuti jejak Kaepernick yang kini sedang diganggu agar tunduk oleh elit kulit putih yang berkuasa.

“Kita melihat upaya luas untuk membungkam suara mereka (warga kulit hitam). Ini mengganggu, tidak etis dan anti-demokrasi,” tambahnya.

KAREEM ABDUL-JABAR
Kareem Abdul-Jabar, pencetak angka terbanyak dalam sejarah NBA, mendukung aksi protes Colin Kaepernick. (Foto: AP)

Bukan yang Pertama

Kaepernick bukanlah atlet pertama yang berbicara menentang diskriminasi ras di AS.

Namun, tindakan Kaepernick juga menarik kritik dari mantan atlet, di antaranya mantan pemain Pittsburgh Steelers, yaitu Hines Ward, yang tidak setuju dengan cara yang dipilih Kaepernick.

“Jika Anda ingin membuat sebuah titik atau mengambil sikap, langsung saja ke akar penyebab itu. Jangan tidak menghormati seluruh negara atau organisasi yang membayar jutaan dolar,” kata Ward.

Kaepernick mendapat sekutu dari Kareem Abdul-Jabbar, pencetak angka terbanyak sepanjang masa di NBA. Abdul-Jabbar menyebut tindakan pemain NFL itu “sangat patriotik”.

“Apa yang harus ditakuti orang Amerika bukanlah pilihan Kaepernick untuk tetap duduk selama lagu kebangsaan, tapi itu hampir 50 tahun setelah (Muhammad) Ali dilarang bertinju karena pendiriannya, Tommie Smith dan John Carlos mengangkat tinjunya yang disebabkan (mereka) diusir oleh publik dan banyak mendapat ancaman pembunuhan. Kami masih perlu untuk memperhatikan ketidakadilan ras yang sama,” tulis Abdul-Jabbar dalam sebuah artikel terbaru.

Pelari Olimpiade Tommie Smith dan John Carlos juga pernah mengangkat tinju mereka sebagai simbol salam Black Power dalam upacara menyerahan medali pada tahun 1968.

Pada Desember 2014, pemain St Louis Rams memasuki stadion untuk pertandingan kandang NFL dengan mengangkat tangan mereka, referensi untuk kalimat “Angkat tangan, jangan tembak”, slogan yang diadopsi oleh demonstran dalam demonstrasi menentang penembakan terhadap seorang remaja kulit hitam yang tidak bersenjata di Ferguson, Missouri dua tahun lalu.

Mendorong Perubahan Positif

Seorang aktivis bernama Alicia Strong menyatakan tidak setuju dengan cara Kaepernick melakukan protes, tetapi ia membenarkannya dalam hal berbicara dan tidak tinggal diam.

“Saya pikir atlet dan selebriti harus menggunakan ketenaran mereka untuk mendorong perubahan positif,” kata Strong. “Saya mengasumsikan dia ingin melakukan sesuatu yang akan membuatnya disiarkan, hal yang ia butuhkan untuk menyebarkan pesannya. Ini bekerja. Namun, saya tidak setuju dengan metode ini, karena saya merasa cara pesannya tersesat.”

Menurut Strong, apa yang dilakukan Kaepernick adalah kontroversial dan menyinggung banyak pihak. Fokus pesannya justeru bergeser ke arah pembahasan “keabsahan” duduk saat lagu kebangsaan dinyanyikan sebagai bentuk perlawanan kepada ketidakadilan.

Pada bulan Juli 2016, ribuan orang melakukan protes di seluruh AS setelah pembunuhan polisi terhadap laki-laki kulit hitam selama lima hari berturut-turut.

Setelah Alton Sterling, seorang ayah 37 tahun dari lima anak, dibunuh oleh polisi kulit putih di Louisiana, Presiden AS Barack Obama menyebutnya sebagai “minggu yang sangat sulit”.

Kematiannya mengikuti sehari setelah pembunuhan polisi terhadap seorang pemuda kulit hitam, Philando Castile, yang bekerja di sebuah sekolah lokal yang melayani makanan untuk anak-anak di Minnesota.

Pembunuhan Castile difilmkan oleh pacarnya Berlian Reynolds dan langsung menyiarkannya di Facebook.

“Orang-orang di AS harus mulai lebih mendengarkan satu sama lain,” tambah Strong. “Pada subjek kebrutalan polisi, jembatan harus dibangun antara pasukan polisi dan masyarakat yang mereka layani. Masyarakat tidak bisa berfungsi dengan baik jika orang kulit berwarna dirasakan sebagai ancaman dan petugas dianggap berbahaya.” (P001/R02)

Sumber: tulisan Faraz Ghani di Al Jazeera

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)