Kopdar One Day Khatam Quran Giat Istimewa Rajut Silaturahim dan Perbaiki Bacaan Al-Quran

Kota Bekasi, MINA – Acara kopi darat peserta One Day Khatam Quran (ODKQ) yang digelar admin grup WhatsApp ODKQ merupakan kegiatan istimewa untuk merajut silaturahim dan dalam rangka memperbaiki bacaan Al-Quran para peserta.

Hal itu dikatakan oleh Imaam Yakhsyallah Mansur saat menyampaikan tausiyah pada acara yang bertajuk “Taklim Niabah dan Silaturahim Peserta One Day Khatam Quran Bersama Imamul Muslimin KH.Yakhsyallah Mansur, MA”, yang dihadiri ratusan jamaah taklim rutin Niabah Bekasi dan para peserta grup ODKQ di Masjid Baitul Muttaqien, Jalan Pangeran Jayakarta, Harapan Mulia, Kota Bekasi, Ahad (9/2).

“Istimewa karena untuk pertama kalinya acara kopdar ini digelar bersama saya, pada hari ini, Ahad, tanggal 15 Jumadil Akhir 1440 H/9-2-2020,” kata Imaam Yakhsyallah, mengapreasi kegiatan itu.

Menurutnya, acara seperti itu penting disamping untuk saling bersilaturahim sesama peserta, juga dalam rangka untuk memperbaiki bacaan Al-Quran para peserta One Day Khatam Quran. Hal itu penting untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membaca Al-Quran.

Imaam Yakhsyallah mengungkapkan, ada dua kesalahan dalam membaca Quran, pertama bila membacanya salah maka artinya pun akan salah. Kedua, kesalahan membaca karena tidak memahami ilmu tajwid.

“Maka penting kopi darat ini,” tegasnya.

Dalam tausiyahnya, ia juga menyampaikan, sekurang-kurangnya orang yang membaca Al-Quran ada tiga kategori. Pertama, orang yang lancar dalam membaca Al-Quran 30 juz keseluruhannya, mulai dari surat Al-Fatihah sampai Surat An-Naas. Ada juga orang yang hanya lancarnya membaca surat Al-Ikhlas, atau Surat Yasin saja.

Maka tujuan bergabung di grup ODKQ adalah supaya bacaan Al-Qurannya menjadi lancar karena sering mengulang-ulang bacaannya.

Menurutnya, banyak orang lulusan luar negeri bahkan orang Arab sekalipun yang bahasa komunikasinya dengan menggunakan bahasa Arab dengan lancar, tetapi tidak lancar dalam membaca Al-Quran karena mereka tidak pernah atau jarang membacanya.

Kedua, kategori orang yang membaca Al-Quran dengan mengikuti sesuai aturan ilmu tajwid.

Ketiga, kategori orang yang membaca Al-Quran dan mengetahui kalimat yang gharib.

Gharib berasal dari kata “gharaba” yang berarti “asing”. Sedangkan menurut istilah, hukum bacaan gharib bisa dikatakan merupakan bacaan yang tidak biasa di dalam Al-Quran karena samar, baik dari segi huruf, lafaz, maupun maknanya.

Tentu saja karena bacaan ini asing atau tidak biasanya, maka akan dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam membaca Al-Quran, jadi sangatlah penting untuk dipelajari dan diketahui sebagai bentuk adab dan tata krama dalam membaca Al-Quran.

Imaam Yakhsyallah mencontohkan bacaan gharib yang terdapat dalam Surat Hud ayat 41. Dalam ayat itu ada kata bertuliskan “majroha“. Namun, cara membaca yang benar adalah dengan mengganti bacaan “ro” menjadi “re” (agak ditekan dan disamarkan), sehingga terdengar seolah dibaca “majreha”.

Untuk itu, Imaam Yakhsyallah merekomendasikan dan menganjurkan kepada peserta ODKQ untuk menggunakan mushaf Al-Quran terbitan Menara Kudus.

“Karena mushaf ini dilengkapi dengan catatan-catatan cara membaca pada bagian bacaan yang gharib,” kata Imaam Yaksyallah yang pernah bertemu lansung dan berguru kepada Kyai Sya’roni Ahmadi Qudus, seorang pentashih yang ikut menandatangani Surat Tanda Tashih mushaf terbitan Menara Qudus, tertanggal 17 Mei 1974 M di Jakarta.

Sementara itu, Sumanto selaku admin ODKQ menyatakan bersyukur karena kurang dari dua tahun sejak pertama digulirkan program tersebut, yang awalnya hanya dilaksanakan di lingkungan terdekat dengan membentuk grup WhatsApp dengan anggota terbatas 30 orang, kini sudah melesat pesat mencapai grup ke-13 dan akan dibuka pendaftaran grup ke-14.

“Alhamdulillah dalam kurun kurang dari dua tahun sejak pertama digulirkan, terus berkembang dan pesertanya kini mencapai 390 orang yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Banten dan beberapa wilayah di Indonesia, bahkan peserta yang mengikuti sampai di luar negeri seperti Malaysia, Saudi, dan Afrika, lintas benua, lintas profesi dan latar belakang,” kata Sumanto.

Untuk menggawangi ODKQ ini, Sumanto tidak bekerja sendirian, tetapi dibantu oleh Penasihat ODKQ Ustaz Sohidun Ihsan dan Tim Admin yang terdiri Sumanto, Empud Saefudin, Andi Rahman, Abdul Khalim Anas, Muhammad Yasin, Wahyu Muslimin dan Ngaidudin. (L/RS5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)