Korban Covid-19 Israel Meningkat, PM Minta Pekerja Palestina Pulang

Tel Aviv, MINA – Mengingat jumlah orang Israel yang terinfeksi virus corona atau Covid-19, Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh Selasa (24/3) meminta semua pekerja Palestina untuk kembali ke rumah (Pulang) dan mengkarantina diri mereka selama 14 hari.

“Para pekerja harus kembali ke rumah, untuk keselamatan mereka sendiri dan untuk mengantisipasi pembatasan gerak di Israel mengatasi penyakit mematikan tersebut,” kata Shtayyeh, demikian keterangan WAFA melaporkan dikutip MINA, Rabu (25/3).

Shtayyeh mengatakan, para pekerja yang menunjukkan tanda-tanda gejala virus corona, harus melapor ke pusat kesehatan terdekat tempat tinggal mereka dan mematuhi instruksi dari otoritas setempat.

Seruan oleh Perdana Menteri Palestina juga datang ketika Israel terus mendeportasi pekerja yang menunjukkan tanda-tanda sakit dan sering meninggalkan mereka di pos pemeriksaan Tepi Barat.

Issam Abu Bakar, Gubernur distrik Tepi Barat utara, mengatakan, Israel mengusir tiga pekerja ke Tepi Barat yang dipecat oleh majikannya setelah mereka jatuh sakit dan mengalami demam tinggi.

Para pekerja itu dibiarkan di pos pemeriksaan militer Israel dekat Tulkarm dalam kondisi yang sangat lemah, kemudian mereka dijemput oleh ambulans Palestina dan dibawa ke pusat karantina kota itu.

Pekerja lainnya ditinggalkan di pos pemeriksaan Tepi Barat setelah dia jatuh sakit. Hasil tes menunjukan ia tidak memiliki indikasi terpapar virus corona.

Pendudukan Israel mengatakan akan memungkinkan ribuan pekerja Palestina, terutama bidang konstruksi, untuk tetap di Israel setidaknya selama dua bulan untuk menjaga pekerjaan tetap berjalan.

Namun, para pekerja telah mengeluhkan sebab kondisi kesehatan yang tidak baik dan perlakuan buruk oleh majikan mereka mendorong Otoritas Palestina untuk meminta mereka kembali ke rumah jika menginginkannya.

Otoritas Palestina tidak akan mengizinkan pekerja Palestina untuk kembali ke Tepi Barat setelah mereka pindah kerja dan tinggal di Israel. Israel telah melaporkan lebih dari 2000 kasus coronavirus dan lima kematian.(T/R3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)