Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Korban Tewas Gempa Myanmar Meningkat Lebih dari 3.085 Orang

Rudi Hendrik Editor : Ali Farkhan Tsani - 27 detik yang lalu

27 detik yang lalu

0 Views

Kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa 7,7 skala Richter di Myanmar, Jumat, 28 Maret 2025. (Gambar: video The New York Times)

Naypyidaw, MINA – Jumlah korban tewas akibat gempa Myanmar telah meningkat menjadi lebih dari 3.085 hingga Kamis (3/4) karena lebih banyak jenazah yang hilang ditemukan, di tengah gencatan senjata sementara yang dideklarasikan untuk memfasilitasi operasi penyelamatan yang sedang berlangsung di berbagai wilayah.

Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mematikan melanda Myanmar pada Jumat (28/3), menyebabkan kerusakan berat dan korban jiwa di negara tersebut dan negara tetangga Thailand. Press TV melaporkan.

Untuk memudahkan operasi bantuan yang sedang berlangsung di berbagai wilayah negara tersebut, junta militer yang berkuasa di Myanmar mengumumkan gencatan senjata sementara pekan ini di negara yang dilanda perang tersebut.

Junta militer mengumumkan dalam sebuah pernyataan singkat bahwa lebih dari 4.715 orang telah terluka, sementara 341 orang masih hilang.

Baca Juga: Beberapa Mahasiswa Columbia Rantai Diri di Gerbang Universitas Tuntut Pembebasan Mahmoud Khalil

Episentrum gempa bumi berada di dekat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.

Gempa tersebut merobohkan dan merusak ribuan bangunan, infrastruktur penting, jembatan, jalan raya, bandara, dan rel kereta api di seluruh negeri.

Telekomunikasi terputus dan berita tentang lebih banyak korban diperkirakan akan datang dari banyak tempat terpencil yang sulit dijangkau.

Pada Senin (31/3), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan permohonan cepat untuk bantuan darurat senilai $8 juta dari negara-negara dunia.

Baca Juga: Hungaria Keluar dari ICC

“Dengan infrastruktur yang terganggu dan jumlah pasien yang melonjak, akses ke perawatan kesehatan menjadi hampir mustahil di banyak daerah yang paling parah terkena dampak,” kata WHO.

“Ribuan orang sangat membutuhkan perawatan trauma, intervensi bedah, dan pengobatan untuk wabah penyakit,” tambah WHO. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Angkatan Bersenjata Yaman Tembak Jatuh Drone MQ-9 AS, Kedua dalam 72 Jam

Rekomendasi untuk Anda