Korban Tewas Ribuan, PBB Serukan Gencatan Senjata di Libya

Tripoli, MINA – Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat (5/7) menyerukan gencatan senjata di Libya, karena jumlah korban tewas dari serangan tiga bulan di Tripoli mencapai 1.000, termasuk jumlah yang tewas dalam serangan udara yang menghantam pusat peampungan migran.

PBB mengutuk serangan Selasa (2/7) malam, di kamp penahanan Tajoura di timur Tripoli itu, dan menekankan perlunya semua pihak untuk segera mengatasi situasi buruk itu dan berkomitmen untuk gencatan senjata, menurut sebuah pernyataan bersama yang dikutip Arab News.

Komandan Khalifa Haftar, yang pasukannya menguasai Libya timur dan sebagian besar selatan negara itu, melancarkan serangan pada awal April untuk merebut ibu kota dari pasukan yang loyal kepada Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB.

Serangan udara dan pertempuran darat telah menyebabkan hampir 1.000 orang tewas dan sekitar 5.000 lainnya cedera, kata Organisasi Kesehatan Dunia PBB.

Pertempuran itu telah memaksa lebih dari 100.000 orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengancam akan menjerumuskan Libya ke dalam konflik yang lebih dalam.

Di antara yang tewas adalah 53 migran pada Selasa malam dalam serangan udara di sebuah pusat penampungan migran di pinggiran Tripoli, Tajoura, yang ditahan oleh GNA, yang menuduh pasukan Haftar melakukan penyerangan.

Seorang juru bicara Organisasi Migrasi Internasional yang bermarkas di Jenewa mengatakan, enam anak termasuk di antara migran yang terbunuh. Joel Millman mengatakan bahwa 350 migran, termasuk 20 wanita dan empat anak, masih ditahan di pusat itu, satu dari lima hanggar udara terkena serangan itu.

Kekuatan dunia telah terpecah tentang bagaimana menanggapi serangan Haftar. Amerika Serikat dan Rusia menolak untuk mengutuk orang kuat Libya itu.

Pernyataan dewan yang dirancang Inggris mengutuk serangan terhadap kamp migran, menyerukan agar kembali ke pembicaraan politik dan untuk menghormati penuh embargo senjata di Libya.

Hal itu mengikuti pertemuan tertutup pada hari Rabu (3/7) di mana para diplomat AS mengatakan, mereka perlu lebih banyak waktu untuk berkonsultasi dengan Washington mengenai teks yang diusulkan.

PBB telah menyerukan penyelidikan independen untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pusat penampungan tersebut, yang menampung sekitar 600 migran, terutama dari negara-negara Afrika.

Presiden Recep Tayyip Erdogan dari Turki – yang mendukung GNA – menyerukan diakhirinya serangan yang melanggar hukum oleh pasukan Haftar selama pertemuan dengan Perdana Menteri Libya Fayez Al-Sarraj di Istanbul pada hari Jumat (5/7), kata kepresidenan Turki.

Badan-badan PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan telah berulang kali menyuarakan keprihatinan atas nasib ribuan migran dan pengungsi yang ditahan di pusat-pusat penahanan di dekat zona tempur di ibukota.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyatakan kemarahannya atas serangan itu dan mengatakan, PBB telah berbagi koordinat pusat penahanan dengan pihak yang bertikai untuk melindungi warga sipil.

“Pembantaian di Tajoura adalah sebuah tragedi yang seharusnya tidak pernah terjadi,” kata Charlie Yaxley, juru bicara badan pengungsi PBB.

Libya telah menjadi jalur utama bagi para migran yang ingin menuju Eropa dan tetap menjadi mangsa bagi banyak milisi yang berlomba-lomba untuk menguasai kekayaan minyak negara itu.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan para migran menghadapi pelanggaran mengerikan di Libya, dan nasib mereka memburuk sejak Haftar melancarkan serangan terhadap Tripoli.

Menurut PBB, sekitar 5.700 pengungsi dan migran ditahan di pusat-pusat penahanan di Libya, 3.300 di antaranya rentan terhadap pertempuran di dan sekitar Tripoli.

Serangan kilat awal pada awal April lalu membuat Tentara Nasional Libya peimpinan Haftar berdiri sendiri menuju ibukota. Namun sejak itu mereka terhenti di pinggiran selatan, tempat garis depan dibekukan selama berbulan-bulan.

Pasukan GNA melancurkan serangan balasan mendadak akhir bulan lalu, merebut kota strategis Gharyan, basis pasokan utama untuk ofensif Haftar.

Setelah mengalami kemunduran, pasukan Haftar mengancam untuk mengintensifkan serangan terhadap saingan mereka.

Kedua belah pihak telah melancarkan serangan udara seharian sepanjang pertempuran dan masing-masing kehilangan beberapa pesawat tempurnya.

Kamp-kamp pembantu tetap yakin bahwa dengan bantuan pendukung mereka, mereka dapat memenangkan pertempuran.

GNA menerima dukungan dari Turki dan Qatar, dan Haftar didukung oleh Uni Emirat Arab, Mesir, dan menurut para ahli, sampai taraf tertentu oleh Amerika Serikat. (T/B05/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)