Kota Kecil Deir Al-Balah, Saksi Tragedi Pengungsian Paksa Warga Gaza

Serangan udara Israel ke Rafah, Gaza Selatan memaksa warga kembali mengungsi, Kamis, 9 Mei 2024. (Foto: Asharq Al-Awsat)

Gaza, MINA – Sejak dimulainya serangan darat tentara Israel terhadap kota Rafah di Jalur Gaza selatan dan penggunaan senjata mematikan oleh Israel terhadap warga sipil, gelombang baru pengungsian ke kota Deir al-Balah di  Gaza Tengah telah dimulai. Warga Gaza mencari keamanan di tengah genosida yang sedang berlangsung.

Palestinian Information Center, melaporkan pesisir Jalan Rashid menuju Deir al-Balah menjadi saksi eksodus massal, sejak meningkatnya agresi Israel terhadap kota Rafah dan penduduknya, terutama dalam beberapa hari terakhir, dengan mobil yang membawa warga dan barang bawaan memenuhi jalan untuk mencari tempat di tengah kepadatan yang parah.

Para pengungsi membongkar tenda kayu dan nilon mereka dari pusat penampungan dan sekitarnya, mereka menuju Deir al-Balah, dalam perjalanan pengungsian yang baru; melarikan diri dari serangan Israel dan mencari keselamatan.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik, Muslim Rohingya Diusir, Rumah pun Dibakar

Kota kecil

Deir Al-Balah selama dua hari terakhir menyaksikan ribuan orang yang berada di Rafah mengungsi setelah tentara Israel melancarkan serangan darat di timur kota.

Luas Deir Al-Balah adalah 14 kilometer persegi dan terletak di tengah-tengah Jalur Gaza, dengan populasi hampir 100.000 jiwa sebelum dimulainya genosida, namun kini perkiraan menunjukkan bahwa jumlah pengungsi di dalamnya hampir setengah juta.

Mencari keamanan

Mohammed Qishta, yang tinggal di lingkungan Jneina, mengemasi barang-barangnya dan menutup rumahnya, berkata dengan sedih: “Karena khawatir kepada anak-anak dan orang yang tidak bersalah, kami terpaksa meninggalkan rumah kami untuk mencari keamanan yang hilang,” menjelaskan ia harus berangkat ke Deir al-Balah meski tahu seluruh wilayah Jalur Gaza tidak aman dan pendudukan melakukan pengeboman di seluruh wilayah secara tidak manusiawi.

Baca Juga:  Iran Selidiki Kecelakaan Helikopter yang Tewaskan Presiden Raisi

Dia mengatakan tmendirikan tendanya di pinggir laut karena kurangnya tempat kosong di dalam kota; dimana hampir tidak ada orang yang dapat menemukan tempat berpijak karena parahnya kepadatan penduduk, yang memberikan tekanan pada infrastruktur, air, dan jaringan komunikasi.

Penderitaan baru

Mohammed Abu Sha’ir, salah satu pengungsi dari Jalur Gaza utara, mengatakan, “Setelah menetap di Rafah selama berbulan-bulan sejak saya mengungsi dari utara, hari ini saya terpaksa membongkar tenda saya dan memindahkan keluarga saya ke Deir Al- Balah karena khawatir akan nyawa mereka di tengah serangan Israel di timur kota.”

Dia menjelaskan dalam sebuah pernyataan kepada Palestinian Information, dia tidak memperkirakan tentara Israel akan menyerang Rafah, terutama karena menganggapnya sebagai wilayah yang aman sejak awal perang, saat semua wilayah di Jalur Gaza tidak aman dan dapat menjadi sasaran serangan Israel.

Baca Juga:  PBNU Terima Delegasi Sekolah Tinggi Pertahanan Inggris

“Kami harus mengeluarkan banyak biaya untuk beradaptasi dengan kehidupan di Rafah, dan sekarang kami harus memulai penderitaan baru akibat pengungsian, yang akan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan uang,” yang menunjukkan bahwa semua pengungsi merasa sangat ketakutan akan invasi darat ke Rafah. []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: sri astuti

Editor: Widi Kusnadi