Krisis Pekerja Rumah Tangga Asal Ethiopia di Lebanon

Ilustrasi: pekerja rumah tangga Ethiopia di Lebanon. (Foto: Reuters)

Sepekan setelah majikan Lebanonnya mengusirnya keluar tanpa membawa koper, membayar gaji atau paspor, Sofia bersama semua pekerja rumah tangga asal Ethiopia ingin pulang, ketika Lebanon mulai repatriasi.

“Nyonya saya mengusir saya. Dia berutang gaji enam setengah bulan kepada saya,” kata Sofia, rambutnya terbungkus syal merah.

“Saya ingin kembali ke Ethiopia,” kata ibu dua anak perempuan itu, yang sudah tiga tahun tidak bertemu dengan anaknya.

Lebanon menderita krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dasawarsa, serta penguncian karena virus corona.

Sebagian keluarga Lebanon mulai membayar pembantu rumah mereka dengan mata uang lokal yang terdepresiasi, sementara keluarga yang lain tidak mampu membayar mereka sama sekali, membuat semakin banyaknya laporan tentang pekerja rumah tangga yang dibuang ke jalan.

Lebanon akan memulai penerbangan repatriasi dari bandara yang ditutup pada hari Rabu, pada awalnya untuk warga Ethiopia dan sebagian besar migran laki-laki dari Mesir.

Di luar konsulat Ethiopia pada hari Senin, 18 Mei 2020, Sofia termasuk di antara puluhan perempuan Ethiopia dan pengusaha Lebanon yang berusaha mengamankan kursi untuk penerbangan hari Rabu.

Namun, pasukan keamanan Lebanon menolak mereka di pintu dengan mengatakan kepada mereka untuk kembali dalam sembilan hari dan majikan harus membayar penerbangannya.

Di antara kerumunan, seorang majikan Lebanon bernama Eva Awad mengatakan, dia tidak bisa lagi mempertahankan pembantu rumah tangganya.

“Kami tidak dapat mendapatkan dolar lagi, jadi dia harus pulang,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia bermaksud membayar pembantunya secara penuh.

 

“Dijual”

Di dekat Awad ada seorang wanita Ethiopia menangis di sebelah kopernya. Ia mengatakan bahwa dia belum dibayar untuk setengah tahun, tidak memiliki paspor setelah diusir, dan tidak punya tempat untuk tidur.

Seorang anggota pasukan keamanan mengatakan, tempat penampungan konsulat penuh, setidaknya sampai penerbangan keluar pada hari Rabu.

Diperkirakan 250.000 pekerja rumah tangga tinggal di Lebanon, mayoritas besar berasal dari Ethiopia.

Kondisi itu dikecam oleh banyak kelompok hak asasi.

Sistem sponsor di Lebanon yang dikenal dengan nama “kafala” tidak termasuk di dalamnya pembantu rumah tangga dan pengasuh anak menurut hukum perburuhan Lebanon. Hukum itu membiarkan mereka bergantung pada majikan mereka, yang membayar upah sekitar $ 150 per bulan.

Pembantu rumah tangga diperoleh dengan bayaran tinggi dari agen perekrutan, bahkan sebelum dibayar upah. Pekerja yang tidak bahagia tidak dapat mengundurkan diri tanpa izin majikan mereka, beberapa orang menyamakan sistem ini dengan perbudakan.

Aktivis HAM mengatakan, permintaan bantuan telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama karena pekerja yang tinggal bersama majikannya telah dikurung oleh keluarga.

“Tingkat keputusasaan baru saja menembus atap. Ada peningkatan besar dalam jumlah orang yang menghubungi kami tentang gaji yang belum dibayarkan,” kata seorang pekerja kasus untuk kelompok aktivis This is Lebanon.

Dia mengatakan, sejumlah telah dikirim kembali ke agensi mereka dengan beberapa prospek untuk dipekerjakan kembali.

Dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya dua orang telah memasang iklan untuk menjual pekerja asing mereka di Facebook, memicu kemarahan dari para aktivis dan pernyataan dari
Kementerian Tenaga Kerja mengutuk perdagangan manusia itu.

Ali al-Amine, kepala sindikat agen perekrutan, mengatakan, agen-agen telah menerima semakin banyak telepon dari para pengusaha yang berjuang untuk membayar gaji dalam dolar.

“Jika orang dipekerjakan oleh negara Lebanon, pendapatan mereka dalam pound Lebanon hampir tidak cukup bagi mereka untuk menghidupi diri sendiri,” katanya.

Tetapi “jika kontraknya dalam dolar, kami memberi tahu mereka bahwa mereka perlu memberinya apa yang menjadi haknya,” katanya.

Kementerian Tenaga Merja mengatakan telah membuka hotline.

Imigrasi telah menghapuskan denda bagi mereka yang telah tinggal lebih lama lewat dari November 2019, kata seorang sumber keamanan.

Ribuan orang butuh makanan

Setelah Sofia diusir tanpa pakaian apa pun kecuali pakaian di badannya, sesama pekerja asal Ethiopia bernama Ala, 29, terlihat menangis di jalan dan membujuk majikan Lebanonnya untuk membawanya.

“Ada orang yang sangat baik, yang membayar perjalananmu dan memperlakukanmu seperti keluarga,” kata Ala.

Asosiasi Egna Legna non-pemerintah juga mengambil perempuan yang terlantar, menurut pendirinya Banchi Yimer.

Mereka sekarang akan bergabung dengan pekerja rumah tangga lepas yang berjuang untuk bertahan hidup tanpa bekerja selama pandemi.

Ketika penguncian (lockdown) dimulai, “ribuan pekerja rumah tangga dan anak-anak mereka membutuhkan bantuan medis dan makanan”, kata Yimer, yang dulu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Lebanon, sekarang di Kanada.

Dalam beberapa pekan terakhir, dia dan teman-temannya telah mengumpulkan lebih dari $ 12.000 melalui crowdfunding untuk menyediakan makanan dan sewa bagi ratusan rekan mereka.

Tetapi Yimer khawatir tentang ribuan yang tidak dapat mereka raih, sumbangan hampir habis, sementara semakin banyak orang yang datang ke pintu konsulat. (AT/RI-1/P1)

Sumber: Nahar Net

Mi’raj News Agency (MINA)