Kuatkan Pangan Lokal, Prof. Edi Santosa Ajak Masyarakat Lakukan Revolusi Meja Makan

(Foto: IPB University)

Bogor, MINA – Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH), Fakultas Pertanian (Faperta) Prof Dr Edi Santosa, menegaskan, pentingnya peran pangan lokal untuk ketahanan pangan selama masa pandemi COVID-19.

Sebagaimana keterangan tertulis yang diterima MINA, Senin (19/10), Prof Edi juga mengajak masyarakat untuk melakukan revolusi meja makan dalam mendukung penguatan pangan lokal.

Menurutnya, jumlah pangan lokal ini tersedia dalam jumlah banyak dan jenisnya beragam di tiap wilayah.

Selain itu pengetahuan lokal tentang pangan sudah ada di masyarakat Indonesia.

“Pengetahuan ini harus ditransformasikan ke dalam kearifan lokal di masyarakat. Sehingga masyarakat terbiasa untuk mengkonsumsi pangan lokal wilayahnya,” ujar Prof Edi.

Kelangkaan pangan menjadi isu yang sering muncul di masa pandemi COVID-19.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dikhawatirkan akan menganggu sistem rantai pasok pangan.

Meskipun hingga saat ini ketersediaan pangan masih cukup untuk masyarakat, isu kelangkaan pangan perlu disikapi dengan serius oleh berbagai pihak.

Prof Edi menegaskan perlu adanya upaya strategis untuk menghindari kelangkaan bahan makanan selama masa pandemi.

“Meskipun tidak banyak keluhan yang beredar di masyarakat, kebutuhan pangan selama masa pandemi harus dipersiapkan dengan baik. Fenomena yang muncul saat ini adalah masyarakat secara sadar melakukan diversifikasi pangan selama masa isolasi wilayah,” ungkapnya.

Prof Edi mengatakan, secara alamiah masyarakat melakukan diversifikasi beras dengan menggunakan pangan lokal yang tersedia di wilayahnya masing-masing

Dia juga mengungkap strategi revolusi meja makan untuk menguatkan pangan lokal di masyarakat.

Cara pertama adalah membangun memori individual dan memori kolektif.

Memori individual dibangun dari kebiasaan makan sehari-hari seperti saat kecil dulu pernah makan nasi jagung, papeda, sup bubur garut dan lainnya.

Sedangkan memori kolektif adalah kesadaran dan tanggung yang dibangun di masyarakat. Misalnya dengan menerapkan pembelajaran tentang pangan lokal di institusi pendidikan atau institusi sosial.

Sebagai contoh, lanjut Prof Edi, masyarakat Jepang rutin membuat perayaan dengan mengkonsumsi pangan lokal yang ada di wilayahnya. Mereka bisa mengkonsumsi ubi jalar atau gandum yang dijadikan ketan. Masyarakat secara beramai memukulkan alunya untuk membuat makanan lokal dalam sebuah upacara perayaan.

“Hal ini contoh transformasi kearifan lokal dijadikan sebagai pangan lokal. Akhirnya saat pasar stabil, para petani akan menanam bahan pangan lokal hingga meningkatkan perekonomian mereka,”ujarnya.

Menurut Prof Edi, Revolusi Meja Makan adalah diversifikasi pangan yang harus dimulai dari rumah tangga.

Saat ini, keragaman menu makanan di Indonesia masih rendah meskipun bahan pangan sangat beragam.

Sebagai contoh, menu sarapan pagi orang Jepang, jenisnya sangat beragam dengan mengkonsumsi 21 jenis makanan, 20 jenis saat makan siang dan makan malamnya ada 34 jenis menu.

Sedangkan orang Indonesia rata-rata hanya mengkonsumsi 8 jenis menu makanan pada saat sarapan, 15 jenis pada saat makan siang dan makan malam juga hanya 8 jenis makanan.

Berikutnya adalah upaya untuk mengenalkan pangan lokal secara masif melalui berbagai metode.

Kemajuan teknologi informasi bisa digunakan untuk mempopulerkan pangan lokal kepada masyarakat.

Selain itu, penting juga untuk mentransformasikan potensi wisata dengan pangan lokal yang khas di daerahnya.

Indonesia memilki banyak sekali destinasi wisata yang bisa digunakan sebagai media untuk mengenalkan bahan pangan lokal. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan potensi pangan lokal.

Strategi terakhir Revolusi Meja Makan adalah pentingnya kepeloporan oleh tokoh sosial.

Misalnya dulu Pak SBY suka sekali nasi tiwul. Pak Harto dan keluarga juga sangat suka makanan dari bahan sukun. Kita juga mengenal Pak Soekarno yang sangat suka nasi jagung dan Pak Jokowi gemar makanan lentho dari singkong.

“Hal ini akan menunjukkan pangan lokal tidak identik dengan pangan sengsara. Sehingga pangan lokal akan dikenal dan dikosumsi oleh masyarakat luas,” pungkas Prof Edi. (R/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)