Kuliah Online, Naik Bukit Agar Dapat Sinyal

Setiap hari, Idim Dimyati, mahasiswa dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB University, harus naik bukit di desanya. Untuk mendapatkan sinyal internet guna mengikuti perkuliahan online yang digelar kampusnya.

Mahasiswa asal Desa Sindangwangi Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak, Banten, ini harus pulang ke rumahnya karena kebijakan Partially Closed Down yang diterapkan oleh IPB University terkait merebaknya wabah COVID-19.

Anak pertama dari empat bersaudara ini harus pulang dan kembali kepada keluarganya di desa. Jarak dari desanya ke ibukota kabupaten Lebak mencapai 50 kilometer.

“Di sini aman, nyaman dan damai. Jauh dari ribuan informasi yang beredar tentang COVID-19. Ini karena sinyal internetnya tidak ada,” ujarnya sambil tertawa.

Meskipun begitu, Idim harus tetap mengikuti kuliah online. Walaupun susah sinyal, Idim punya cara tersendiri untuk mengatasinya.

Dia menjelaskan desanya dikelilingi tiga bukit, sehingga sulit akses jaringan internet. Tapi hal itu tidak memutuskan semangatnya untuk bisa terus mencari informasi dalam perkuliahan. Agar bisa mengikuti perkuliahan dengan baik, dia pun pergi ke bukit-bukit.

“Yang biasa saya kunjungi adalah bukit di sebelah barat perkampungan. Setiap hari saya ke bukit mulai dari jam 8.00 pagi hingga pulang jam 17.00 sore. Sebelum pergi biasanya saya melakukan berbagai persiapan mulai dari persiapan buku untuk bahan kuliah, bekal makan dan powerbank untuk charger smartphone,” ujarnya.

Selain jaringan di desa yang kurang mendukung, Idim juga harus waspada dengan kondisi cuaca di desanya. Menurut Idim, Ia pernah kehujanan hingga basah kuyup saat mengikuti kuliah online.

Untungnya saat itu dia tidak membawa terlalu banyak buku dan ada gubuk untuk berteduh. Selain basah diguyur hujan, kejadian lain datang yang sempat membuatnya takut adalah ada badai dengan petir besar.

Walaupun demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya surut untuk menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa. Idim tetap semangat untuk melakukan aktivitas perkuliahan. Malah Ia senang dengan perkuliahan online ini.

“Di manapun kuliahnya jika kita melakukannya dengan ikhlas, Insya Allah itu akan jadi pahala buat kita. Untuk naik ke bukit, saya harus menempuh perjalanan selama 30 menit dari rumah dengan berjalan kaki. Kuliah online ada hikmahnya buat saya. Saya jadi bisa banyak belajar langsung dari alam, banyak hal menarik yang saya alami,” imbuhnya.

Awalnya Idim gundah dengan kebijakan kuliah online yang diterapkan IPB University. Idim merasa dia akan banyak tertinggal informasi, tapi ternyata setelah seiringnya waktu dan setelah konsultasi dengan dosen, semuanya berjalan baik.

“Alhamdulillah dosen memaklumi dan men-support semua kondisi mahasiswanya. Dosen juga mencoba menerapkan berbagai metode untuk memudahkan jalannya perkuliahan. Bahkan dosen meminta saya untuk mengirimkan alamat lengkap tempat tinggal saya untuk memberi bahan kuliah dan bahan tugas pada saya,” imbuhnya.

“Alhamdulillah setelah beberapa hari kuliah berjalan pihak kampus juga membuat kebijakan memberikan bantuan biaya 150.000 rupiah/bulan untuk mahasiswa membeli paket data internet. Sejak saat itu saya tidak risau lagi akan kekurangan kuota data,” ujar penerima beasiswa Afirmasi Dikti 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) ini.

Aktivitas Idim ini menjadi perhatian warga desa. Dukungan dari warga pun muncul. Salah satu petani yang bernama Rois memberikan semangat kepada Idim.

“Jangan pernah menyerah dek, kita memang orang kampung. Jangan merasa kita orang kampung kita tidak bisa bersaing dengan orang-orang kota. Buktikan kalau orang kampung juga bisa pintar dan maju. Kamu harapan kami, manfaaatkan kesempatan dengan baik dan terus berusaha,” ujarnya saat menghampiri Idim di gubuk di atas bukit.

Idim sudah merindukan momen diskusi dan tatap muka langsung dengan dosen dan kawan-kawannya. Ia berharap masalah COVID-19 segera berakhir dan ia pun bisa melakukan aktivitas seperti semula di kampus. (Release dari IPB University).

(R/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)