KEKUASAAN adalah amanah, bukan mainan. Jabatan adalah titipan, bukan warisan. Kursi kepemimpinan sejatinya bukan milik siapa pun, melainkan hanya singgah sejenak di tangan seorang hamba. Namun betapa banyak pemimpin hari ini yang melupakan hakikat itu. Mereka memperlakukan jabatan seperti milik pribadi, seolah kursi itu bisa dibawa mati.
Lihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana rakusnya sebagian penguasa. Sogok sana sogok sini, demi mempertahankan kursi. Harta sudah berlimpah, rumah mewah berdiri, rekening penuh, tapi masih saja haus. Tamak pada dunia, hingga lupa bahwa liang lahat tak membutuhkan jabatan, tak butuh istana, bahkan tak butuh emas permata.
Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ditanya tentang empat perkara, salah satunya tentang kepemimpinannya; apakah ia menunaikan amanah atau mengkhianatinya.” (HR. Tirmidzi). Pertanyaan itu pasti menanti. Namun, banyak pemimpin yang justru sibuk memperindah dunia, bukan mempersiapkan jawaban untuk Rabb semesta alam.
Kursi yang diperebutkan, kursi yang mereka korbankan segala harga diri dan moral untuk meraihnya, hanyalah sementara. Sungguh, kursi itu tidak akan menyelamatkan di hari ketika tidak ada perlindungan selain perlindungan Allah. Sejarah membuktikan, para penguasa lalim berakhir hina, terjungkal, ditinggalkan rakyatnya, bahkan dikutuk dalam catatan sejarah.
Baca Juga: Ketika Sains Membenarkan Al-Qur’an: 7 Fakta Dunia Akan Berakhir
Para pemimpin, lihatlah kain kafan itu! Ia tanpa saku, tanpa lencana jabatan, tanpa tanda kehormatan. Di dalam kubur yang sempit, tak ada kursi empuk, tak ada gelar kebesaran. Hanya amal yang menemani. Tidakkah para pemimpin malu pada Allah, ketika dunia yang dikejar justru menjadi saksi atas kezhaliman dan kerakusan yang dilakukan?
Rakyat menangis, negeri porak-poranda, sementara sebagian pemimpin sibuk mengisi perut dan menumpuk harta. Mereka lupa bahwa air mata rakyat akan menjadi doa yang menembus langit, sementara sogokan yang mereka tabur hanya akan menjadi bara api di akhirat. Betapa bodoh jika menukar ridha Allah dengan kesenangan dunia yang fana.
Tamaknya pemimpin pada dunia ibarat api yang membakar kain kering. Tak akan pernah padam. Semakin diberi, semakin haus. Mereka mengira dengan memperbanyak harta dan memperpanjang kekuasaan, hidup akan aman. Padahal Allah telah berfirman,
“وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ كَلَّا ۖ لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ”
“Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira hartanya dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam neraka Huthamah.” (Qs. Al-Humazah: 1–4)
Baca Juga: Zuhud, Seni Mengatur Dunia untuk Meraih Surga
Wahai para pemimpin yang rakus, apakah kalian tidak gentar dengan firman ini? Dunia yang kalian kejar tidak akan menyelamatkan, justru menjadi bencana. Setiap rupiah yang diperoleh dari jalan kotor akan berubah menjadi api. Setiap sogokan yang diterima akan menjadi belenggu. Setiap pengkhianatan terhadap rakyat akan menjadi saksi di hadapan Allah.
Kekuasaan sejati bukanlah mempertahankan kursi dengan segala cara, melainkan menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab. Rakyat tidak butuh penguasa yang kaya, rakyat butuh pemimpin yang adil. Rakyat tidak butuh penguasa yang tamak, rakyat butuh pemimpin yang sederhana, yang merasakan lapar ketika rakyat lapar, yang menangis ketika rakyat menderita.
Kepada umat, janganlah hati kalian lemah. Meski pemimpin rakus bergentayangan, meski kursi kekuasaan dipenuhi intrik dan sogokan, yakinlah bahwa Allah Maha Melihat. Umat harus tetap kuat, bersatu, dan menjaga iman. Jangan terperdaya dengan janji palsu penguasa tamak. Doa rakyat lebih tajam dari pedang, dan doa orang tertindas tidak ada hijab di sisi Allah.
Sejarah Islam penuh dengan teladan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tidur di atas pasir, padahal beliau penguasa dua pertiga dunia. Umar bin Abdul Aziz memadamkan lampu negara ketika membicarakan urusan keluarga, padahal beliau khalifah agung. Mereka tidak haus pada kursi, sebab mereka tahu kursi tak akan dibawa mati.
Baca Juga: Syirik Tersembunyi: Musuh Iman yang Tak Terlihat tapi Mematikan
Hari ini, kita merindukan pemimpin yang takut pada Allah, bukan takut kehilangan kursi. Kita rindu pemimpin yang lebih memilih jujur meski miskin, daripada kaya dari hasil sogokan. Kita rindu pemimpin yang tangannya bersih, hatinya bening, dan lisannya tidak berbohong. Wahai para pemimpin, tidakkah kalian malu jika kelak sejarah menuliskan kalian sebagai pengkhianat amanah?
Ingatlah, kursi itu akan ditinggalkan. Jabatan itu akan sirna. Dunia itu akan hancur. Hanya amal yang kekal. Wahai pemimpin, sebelum ajal menjemput, bertaubatlah. Jangan tunggu rakyat bangkit melawan, jangan tunggu ajal datang menjemput tiba-tiba. Ingatlah, kursi tak akan dibawa mati, tetapi amanah akan dibawa menghadap Ilahi.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Karakteristik Hizbullah