Lailatul Qodar, Malam Seribu Bulan

Oleh Zaenal Muttaqin (wartawan dan kepala Biro MINA Jawa Tengah)

Memasuki pertengahan bulan Ramadhan, umat Islam biasanya mulai bersiap untuk berlomba-lomba mendapatkan malam Lailatul Qadar. Apa itu Lailatul Qadar ? Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh akan keberkahan seribu bulan.

Pada saat itu, siapa yang meminta akan dikabulkan permintaannya. Tentu dengan berdoa bersungguh-sungguh, doa akan diijabah. Malam Lailatul Qadar juga dipercaya sebagian ulama sebagai waktu pertama kali Al-Quran diturunkan.

Lailatul Qadar merupakan malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Penjelasan dari para ulama, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Hal itu sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Disebutkan pula, bahwa malam Lailatul Qadar ada di malam-malam ganjil, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Beberapa penjelasan juga menyebut terjadinya Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Meski begitu ada pula pendapat bahwa Lailatul Qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.

Namun pendapat yang dianggap paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar bahwa Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun.

Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala.

Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”  (HR. Bukhari)

Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam Lailatul Qadar di antaranya adalah terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang bermalas-malasan dalam ibadah. Sebab, orang yang bersungguh-sungguh ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

Hal itu juga sebagai rahmat Allah agar kita memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut, sehingga akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak.

Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan ini. (A/B04/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)