Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lamine Yamal dan ‘Kembalinya’ Islam ke Spanyol

Redaksi Editor : Arif R - Jumat, 17 Juli 2026 - 11:49 WIB

Jumat, 17 Juli 2026 - 11:49 WIB

857 Views ㅤ

Lamine Yamal, pemain Timnas Spanyol di Piala dunia 2026. (Superlive)

ADA  sebuah pemandangan yang mungkin membuat sejarah tersenyum kecil. Pada perhelatan Piala Dunia 2026, di stadion sepak bola modern, ribuan orang meneriakkan nama seorang anak muda bernama Lamine Yamal. Ia memakai seragam Spanyol, membawa harapan La Roja, dan menjadi kebanggaan negeri yang ratusan tahun lalu pernah menghapus jejak kekuasaan Islam dari tanahnya.

Dulu, Spanyol mengenal Islam melalui suara azan dari menara-menara Andalusia, melalui perpustakaan besar, para ilmuwan, dokter, filsuf, dan arsitek yang membangun peradaban. Hari ini, suara itu datang dari tempat yang berbeda: dari gemuruh stadion, dari kaki seorang pemain muda yang menggiring bola melewati lawan, dari seorang Muslim yang membuat jutaan orang Spanyol berdiri dan bertepuk tangan.

Tidak ada pasukan yang menyeberangi selat Gibraltar. Tidak ada bendera baru yang dikibarkan di istana kerajaan. Tidak ada kerajaan lama yang ingin bangkit kembali. Yang datang hanyalah seorang anak. Dan mungkin justru itu yang membuat sejarah menjadi lebih menarik.

Berabad-abad lalu, Al-Andalus menjadi salah satu pusat peradaban dunia. Kota seperti Cordoba dan Granada menjadi simbol bahwa Islam, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan pernah menjadi bagian besar dari sejarah Eropa.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Namun sejarah juga mengenal bab yang pahit. Setelah jatuhnya Granada pada 1492, dunia Muslim di Spanyol mengalami tekanan panjang. Banyak Muslim dipaksa meninggalkan identitasnya, dan komunitas Morisco akhirnya terusir dari tanah yang pernah menjadi rumah mereka.

Seolah-olah sejarah berkata “Cerita ini sudah selesai” tetapi sejarah manusia di Spanyol sedang berganti bab.
Kini, ratusan tahun kemudian, wajah-wajah dengan akar Afrika Utara dan dunia Muslim kembali terlihat di ruang publik Spanyol. Bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai warga, seniman, akademisi, pengusaha, dan atlet.

Salah satu wajah paling mencolok dari bab baru itu adalah Lamine Yamal. Lahir di Esplugues de Llobregat, Catalonia, pada 13 Juli 2007, dari ayah keturunan Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa, ia tumbuh di lingkungan Rocafonda, Mataro.

Bakat sepak bolanya kemudian membawanya ke akademi muda FC Barcelona, La Masia, sebelum menjadi salah satu pemain termuda yang bersinar untuk klub tersebut dan tim nasional Spanyol. Ia bukan datang ke Spanyol sebagai penakluk, melainkan lahir dari Spanyol yang baru, sebuah negeri yang dibentuk oleh percampuran sejarah, migrasi, dan generasi yang membawa banyak akar budaya dalam satu identitas.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Lamine Yamal tidak datang membawa klaim atas masa lalu. Ia tidak meminta Spanyol kembali menjadi Andalusia. Ia hanya bermain sepak bola. Tetapi justru dalam kesederhanaan itu terdapat pesan besar bahwa sebuah bangsa yang dulu mengusir sebagian sejarahnya kini menemukan bahwa sejarah itu bisa kembali melalui anak-anak yang lahir dan tumbuh di dalamnya.

Dulu, sebagian orang takut pada identitas Muslim sebagai sesuatu yang asing. Kini, ketika tim nasional membutuhkan bakat terbaik untuk mengharumkan nama negara, identitas itu tiba-tiba menjadi bagian dari kebanggaan nasional.

Dulu pertanyaannya mungkin: “Apakah mereka benar-benar bagian dari Spanyol?”
Kini pertanyaannya berubah: “Bagaimana mungkin Spanyol bermain tanpa mereka?”

Sepak bola memiliki cara unik untuk membongkar prasangka. Gol tidak bertanya siapa nenek moyang pencetaknya. Assist tidak meminta pemeriksaan silsilah. Stadion hanya mengenal satu bahasa, kemenangan.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Dan ketika seorang Muslim muda mencetak sejarah dengan kostum Spanyol, sejarah lama seperti sedang berbisik, “Tenang, saya tidak kembali untuk mengambil apa yang dulu hilang. Saya hanya ingin ikut membangun apa yang sekarang ada.”

Tentu saja bukan dalam arti politik. Alhambra tidak akan kembali menjadi istana kerajaan Muslim, dan Spanyol modern bukanlah Andalusia abad pertengahan. Tetapi mungkin ada makna simbolis yang lebih dalam. Alhambra selama ini berdiri sebagai monumen masa lalu: indah, megah, tetapi juga menjadi pengingat tentang sebuah peradaban yang pernah pergi.

Kini generasi baru keturunan Muslim kembali berjalan di tanah yang sama. Mereka tidak datang membawa kunci istana. Mereka datang membawa cerita baru. Mungkin inilah cara sejarah bekerja: bukan dengan mengulang masa lalu, tetapi dengan memperbaiki hubungan manusia dengan masa lalu.

Alhambra tidak menemukan kembali tuannya dalam bentuk kerajaan yang hilang. Ia menemukan kembali “tuannya” dalam bentuk generasi yang memahami bahwa sebuah bangunan, sebuah negeri, dan sebuah budaya tidak pernah hanya milik satu kelompok saja.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Masa depan Spanyol mungkin bukan tentang memilih antara warisan Katolik atau warisan Andalusia. Bukan tentang menentukan siapa yang lebih berhak memiliki sejarah. Masa depan mungkin justru tentang menerima bahwa semuanya sudah menjadi bagian dari cerita panjang.

Lamine Yamal bukan simbol penaklukan kembali. Ia adalah simbol bahwa sebuah bangsa bisa berubah. Islam tidak kembali ke Spanyol sebagai masa lalu yang diulang, Ia hadir kembali sebagai salah satu warna dalam Spanyol yang baru.

Setelah berabad-abad diam, dinding-dinding Alhambra tidak sedang menunggu pasukan datang. Mereka hanya menunggu generasi baru yang mengerti bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, sejarah juga tentang siapa yang akhirnya kembali menjadi bagian dari cerita. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

 

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
MINA Sport
MINA Sport
MINA Sport
Info MINA