Lanjutkan Jual Senjata ke Saudi, Inggris Tuai Kritikan

Ilustrasi: warga Yaman berdiri di atas reruntuhan yang hancur oleh serangan udara koalisi pimpinan Arab Aaudi. (FOTO: dok. Cfr.org)

London, MINA – Pemerintah Inggris dikritik oleh para aktivis hak asasi manusia karena melanjutkan penjualan senjata ke Arab Saudi, yang telah melakukan operasi militer udara mematikan di Yaman.

Tahun lalu, Pengadilan Banding London menghentikan penjualan senjata, dengan mengatakan ekspor tidak dapat dimulai lagi sampai penilaian dilakukan untuk memastikan apakah pemerintah Saudi melanggar hukum kemanusiaan internasional atau tidak.

Pemerintah Inggris mengatakan, pihaknya melakukan peninjauan tentang bagaimana senjata itu digunakan dan hanya menemukan “insiden terisolasi” di mana undang-undang itu dilanggar, tetapi tidak ada pola yang membuktikan Pemerintah Riyadh telah menargetkan warga sipil, demikian yang dikutip dari TRT World.

“Ada ratusan insiden – berapa ratus insiden yang terisolasi sebelum pemerintah melihat sebuah pola,” Andrew Smith, koordinator media dari

Kampanye Melawan Perdagangan Senjata (CAAT) yang membawa pemerintah ke pengadilan tahun lalu.

Ribuan orang, termasuk wanita dan anak-anak, telah terbunuh sejak koalisi pimpinan Arab Saudi memasuki konflik Yaman pada 2015 melawan pemberontak Houthi.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan, sekitar 60 persen dari korban dapat ditelusuri kembali ke pengeboman yang dilakukan oleh jet Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Serangan udara tanpa henti telah melanda sekolah, pasar dan rumah menewaskan ratusan warga sipil.

Dalam lima tahun terakhir, perusahaan-perusahaan yang berbasis di Inggris seperti BAE Systems telah menjual lebih dari 6 miliar dolar AS senjata, termasuk jet dan senjata ke Saudi.

Terlepas dari keunggulan kekuatan udara Saudi, operasi militernya hanya berdampak kecil pada milisi Houthi yang telah menguasai kota-kota dan instalasi utama Yaman.

Namun, senjata dan amunisi yang dibuat di negara-negara Barat telah menciptakan krisis kemanusiaan bagi orang-orang biasa di Yaman, negara termiskin di dunia Arab. (T/RI-1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)