Laporan Ir. Edy Wahyudi: Suasana Idul Adha di Jalur Gaza

Foto: Arsip MINA

Gaza, MINA – Gema takbir terdengar dari pengeras suara di masjid-masjid yang bersahutan sejak Kamis Subuh, atau sehari sebelum Idul Adha. Tepatnya sejak 9 Dzulhijjah atau pagi hari Arafah. Demikian  Ir. Edy Wahyudi, seorang relawan Indonesia  yang merupakan Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza, memberikan informasi terkait suasana Idul Adha di Jalur Gaza, Palestina, Jumat (31/7).

Edy menyampaikan hal ini dalam laporan pada program info terkini Gaza, Palestina, yang disiarkan Radio Silaturahim AM 720, edisi 10 Dzulhijjah 1441 H atau bertepatan pada Jumat pagi (31/7).

Dia mengatakan selanjutnya, pelaksanaan sholat Idul Adha di Gaza dilakukan di masjid-masjid, namun ada juga yang melaksanakan di tanah lapang atau jalan raya yang ditutup sementara waktu saat sholat Id berlangsung.

“Bagaimana dengan suasana ibadah kurban di Gaza Palestina? Gaza, negeri ini miskin dan diblokade darat, laut dan udara yang sudah 13 tahun lamanya,” ujar Edy.

Pengangguran mencapai 60 persen, Jalur Gaza sudah mengalami tragedi ekonomi. Kehidupan dan kemanusiaan yang dahsyat akibat blokade sampai datang krisis pandemi Corona yang sampai memperburuk keadaan.

“Akan tetapi Allah memenuhi Gaza dengan penuh keberkahan. Terbukti, puluhan sapi sudah masuk dalam daftar pemotongan kurban apalagi domba lebih banyak lagi ditambah lagi binatang kurban lainnya yaitu unta yang biasa dipotong untuk kurban di Gaza,” kata Edy.

Para relawan di Gaza aktif untuk penyembelihan hewan kurban pada tahun 1441 H ini, walau pun tidak sebanyak tahun lalu. Tahun ini tercatat ada tujuh ekor domba/kambing yang disalurkan melalui Jama’ah Muslimin (Hizbullah), kemudian yang disalurkan oleh MER-C di Gaza Palestina terdiri dari 31 domba/kambing ditambah satu ekor sapi dan satu ekor unta.

“Idul Adha atau hari raya kurban adalah hari libur keagamaan di Gaza, di mana umat Islam memperingati hari ujian iman Nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan dan ternak, serta membagikan daging kepada orang-orang yang miskin,” katanya.

Edy menambahkan, warga Gaza mempunyai kebiasaan melakukan silaturahim usai sholat Idul Adha, biasanya pada hari pertama sikaturahim dilakukan kepada keluarga terdekat seperti orangtua dan mertua, hari berikutnya baru mengunjungi kerabat lainnya.

“Saat bertemu silaturahim mereka saling mengucapkan ‘kullu am wa antum bi khoir’ yang berarti semoga sepanjang tahun ini Anda mendapatkan kebaikan. Ucapan itu dijawab dengan ‘Kullu am wa antumun toyyibin’ itulah Idul Adha dengan cita rasa Gaza,” ucap Edy. (L/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)