LAPORAN PBB BUKTIKAN MELUASNYA PENGGUNAAN SENJATA ISRAEL DI SUDAN SELATAN

(Foto: Press TV)
Sebuah dokumentasi foto yang dirilis PBB diduga menunjukkan senapan yang diproduksi Israel digunakan pasukan keamanan di Sudan Selatan.(Foto: Press TV)

Juba, 12 Dzulqa’dah 1436/27 Agustus 2015 (MINA) – Laporan terbaru PBB menyatakan, tentara lokal dan pejabat senior Sudan Selatan secara luas menggunakan senjata Israel, dan memperingatkan penggunaan senjata berlanjut dapat menyulut konflik berdarah di negara Afrika.

Menurut laporan yang diterbitkan sebuah panel ahli yang ditunjuk Dewan Keamanan PBB untuk mempelajari perang saudara di Sudan Selatan, pernyataan tersebut didasarkan pada foto-foto dari lapangan yang memperlihatkan senjata yang diproduksi Industri Senjata Israel (IWI).

Menurut laporan sementara, merangkum 10 pekan pertama kegiatan panel, senjata yang dimaksud adalah Ace, versi terbaru dari Senapan Serbu Galil, yang dikembangkan Industri Militer Israel (sekarang IWI), demikian harian Israel Haaretz melaporkan sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Kamis (27/8).

Laporan itu menambahkan, senjata Israel saat ini digunakan pada tingkat skala besar, dan mengklaim semua badan keamanan di Sudan Selatan, termasuk polisi setempat, anggota dinas keamanan nasional dan bahkan pengawal pejabat senior pemerintah sekarang menggunakan senapan tersebut.

Rezim Israel tidak pernah mengakui secara resmi menjual senjata ke Sudan Selatan di tengah-tengah perang sipil mematikan itu. Namun, laporan terbaru menunjukkan para pemimpin dari negara Afrika telah melakukan perjalanan ke wilayah yang diduduki pada kunjungan pameran senjata terbaru di Tel Aviv.

Data penjualan senjata ke negara-negara tertentu dirahasiakan, namun, menurut Harian Israel Times of Israel, total penjualan ke Afrika meningkat secara dramatis pada tahun-tahun saat pembentukan Sudan Selatan.

Tahun 2009 Israel menjual senjata ke Afrika hanya senilai 71 juta Dolar AS. Sementara pada 2013, mengalami peningkatan lebih dari tiga kali lipat menjadi 223 juta Dolar AS, dan mencapai 318 juta Dolar AS pada tahun 2014.

Konflik di Sudan Selatan telah mengakibatkan mengungsinya ratusan ribu warga dan menyeret bangsa yang baru didirikan pada situasi yang lebih kacau dan tidak pasti, tulis laporan tersebut.

Kekerasan berkobar di Sudan Selatan pada Desember 2013, ketika Presiden Salva Kiir menuduh pemimpin pemberontak dan mantan Wakil Presiden Riek Machar mendalangi kudeta.

Perang saudara habis-habisan itu berkobar di seluruh negeri, dimana pemberontak dan pasukan pemerintah saling meluncurkan serangan balasan di kota-kota dan desa-desa yang dikaitkan dengan lawan-lawan mereka.

Kedua belah pihak sejauh ini mengadakan beberapa putaran pembicaraan damai tetapi telah gagal untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang abadi.(T/R05/P011/R01)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0