LAPORAN : LEBIH DARI 1,7 JUTA PEMUKIM ILEGAL ISRAEL HIDUP DI BAWAH KEMISKINAN

Tel-Aviv, 2 Rabi’ul Awwal 1437/13 Desember 2015 (MINA) – Lebih dari 1,7 juta pemukim ilegal Israel, atau 22 persen dari total jumlah penduduk wilayah Palestina yang diduduki, hidup di bawah garis kemiskinan tahun lalu, sebuah laporan baru menunjukkan.

Laporan tahunan yang diterbitkan Lembaga Asuransi Nasional Israel pekan ini, menemukan bahwa sejumlah 1.709.300 penduduk di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk 776.500 anak-anak, hidup dalam kemiskinan pada tahun 2014, menunjukkan tren meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Menurut laporan itu, seorang individu dengan pendapatan bulanan kurang dari 3.077 Shekel Israel Baru (NIS) atau sekitar 11 juta rupiah, dianggap miskin, sebagaimana setiap pasangan berpenghasilan kurang dari 4.923 NIS (sekitar 17,7 juta rupiah) per bulan.

Penulis laporan itu, Daniel Gottlieb, mengatakan peningkatan kemiskinan kemungkinan besar disebabkan oleh kebijakan rezim mengurangi pemberian tunjangan anak-anak pada tahun 2013, demikian laporan Al-Ray yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Ahad (13/12).

“Ada kenaikan lanjutan pada harga jual dan sewa perumahan serta tingkat keparahan dan kedalaman kemiskinan, sebagian karena penurunan tunjangan anak, yang dipengaruhi untuk pertama kalinya pada tahun 2014,” tulis Gottlieb dalam laporan tersebut.

Organisasi non-pemerintah (LSM) yang cepat untuk bereaksi terhadap laporan tersebut, tajam mengkritik kebijakan ekonominya otoritas Tel Aviv saat ini.

“Angka-angka dalam laporan cukup mengagetkan seperti biasa namun tidak mengejutkan. Orang miskin di Israel yang bukan dari objek yang cukup menarik bagi rezim,” kata Presiden Persahabatan Kristen dan Yahudi International Rabbi Yechiel Eckstein.

“Penderitaan ratusan ribu orang tua, anak-anak, dan keluarga yang telah runtuh di bawah beban [kemiskinan]” adalah rasa malu dan “ancaman nyata” atas situasi sosial,” tambah Eckstein.

Israel memiliki angka kemiskinan tertinggi kedua dalam Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Hanya Meksiko memiliki tingkat lebih buruk dari Israel pada daftar itu.(T/R05/P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)