Lebanon Buka Pembicaraan Perbatasan Laut dengan Israel

Beirut, MINA – Presiden Lebanon Michel Aoun membuka pembicaraan pentingnya perbatasan maritim dengan Israel.

Aoun mengatakan kepada seorang pejabat AS yang sedang berkunjung pada Jumat (16/10) bahwa negaranya “sangat bergantung” pada mediasi Washington mengenai sengketa perbatasan laut dengan Israel, dan berharap AS dapat membantu kedua belah pihak mengatasi kesulitan yang ada.

Komentar Aoun dikeluarkan oleh kantornya setelah pertemuannya dengan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Timur Dekat David Schenker, diplomat top Amerika untuk Timur Tengah. ABC News melaporkan.

Pernyataan kantor Aoun mengutip Schenker yang mengatakan bahwa dia berharap negosiasi akan selesai secepatnya dan mencapai hasil yang positif.

Sebelumnya, pada Rabu, Schenker menghadiri sesi pembukaan pembicaraan yang dimediasi AS antara Lebanon dan Israel di kompleks PBB di daerah perbatasan yang dikenal sebagai Ras Naqoura.

Israel dan Lebanon tidak memiliki hubungan diplomatik dan secara teknis berada dalam keadaan perang.

Mereka masing-masing mengklaim sekitar 860 kilometer persegi (330 mil persegi) Laut Mediterania berada dalam zona ekonomi eksklusif mereka sendiri.

Israel telah mengembangkan industri gas alam di tempat lain di perairan ekonominya, dan Lebanon berharap penemuan minyak dan gas di perairan teritorialnya akan membantunya mengatasi krisis ekonomi dan keuangan terburuk dalam sejarah modernnya.

Krisis ekonomi Lebanon diperburuk pandemi virus Corona serta ledakan besar-besaran di Beirut pada 4 Agustus, yang menewaskan dan melukai banyak orang serta menyebabkan kerusakan miliaran dolar.

Pemerintah Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengundurkan diri hanya beberapa hari setelah ledakan, dan lebih dari dua bulan kemudian Lebanon masih tanpa Kabinet karena perselisihan politik antara kelompok-kelompok yang bersaing.

Aoun memberi tahu Schenker bahwa pekerjaan sedang berlangsung untuk pembentukan “pemerintahan yang bersih yang berfokus pada pencapaian reformasi yang diperlukan.”

Komunitas internasional mengatakan tidak akan membantu Lebanon keluar dari krisis ekonominya sebelum melaksanakan reformasi besar, selain memerangi korupsi. (T/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)