Lebanon – Israel Lanjutkan Pembicaraan Tak Langsung tentang Perbatasan Laut

(Foto: Alarabiya)

Beirut, MINA – Putaran kedua pembicaraan tidak langsung soal proses penetapan dan penegasan (demarkasi) perbatasan laut Lebanon-Israel dilanjutkan di markas Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) di Ras Al- Naqoura, selatan Lebanon, Rabu (28/10).

Pembicaraan tersebut digelar di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui mediasi Amerika Serikat, demikian dilansir dari UNA-OIC.

Kedua delegasi membahas demarkasi perbatasan laut, di mana pihak Lebanon membawa peta dan dokumen yang menunjukkan titik-titik perselisihan dengan Israel.

Delegasi negosiasi Lebanon terdiri dari Wakil Kepala Staf Operasi Brigadir Jenderal Bassam Yassin, sebagai ketua delegasi; Kolonel Marinir Mazen Basbous; Pakar perbatasan laut Najib Msihi; dan Anggota Dewan di Administrasi Perminyakan Lebanon, Wissam Chbat.

Deputi Koordinator Khusus Lebanon, di Kantor Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon (UNSCOL) Ján Kubiš, menjadi moderator negosiasi di hadapan Duta Besar Mediator Amerika Serikat John Desrocher.

Lebanon – yang terakhir kali melakukan konflik militer dengan Israel pada 2006 – bersikeras bahwa negosiasi tersebut murni teknis dan tidak melibatkan normalisasi politik lunak dengan Israel.

Sementara dari delegasi Israel, sama dengan putaran pertama pembicaraan, dipimpin Direktur Jenderal Kementerian Energi Israel Udi Adiri, didampingi oleh kepala staf menteri energi Mor Halutz, dan Aviv Ayash, penasihat internasional menteri tersebut.

Wakil Penasihat Keamanan Nasional Israel Reuven Azar; Deputi Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri untuk PBB dan Organisasi Internasional Alon Bar; dan Brigadir Jenderal Oren Setter, Kepala Divisi Strategis militer Israel, juga hadir.

Mereka bergabung pada Rabu ini bersama Haim Srebro, seorang ahli tentang perbatasan internasional dan mantan Kepala Survei Departemen Pemetaan Kementerian Perumahan Israel.

Lebanon dan Israel telah menyatakan batas yang tumpang tindih di Laut Mediterania timur, dan penyelesaian sengketa akan memungkinkan mereka untuk mengeksploitasi ladang gas alam lepas pantai.

Putaran pertama pembicaraan diadakan pada 14 Oktober 2020. AS dan PBB mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa pertemuan itu “produktif.”(T/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)