Lebanon, Israel Tolak Pindahkan Pembicaraan Perbatasan Maritim ke Eropa

Beirut, MINA – Lebanon dan Israel telah menolak upaya untuk memindahkan pembicaraan demarkasi perbatasan maritim kedua negara ke Eropa, sementara perbedaan pendapat antara kedua fihak masih ada.

Upaya itu dilakukan setelah pembicaraan tidak langsung terhenti pada akhir November ketika negosiasi menemui jalan buntu, MEMO melaporkan, Jumat (8/1).

Negosiator dari kedua negara berusaha untuk menyelesaikan perselisihan tentang perbatasan laut mereka yang telah menghambat eksplorasi hidrokarbon di daerah yang berpotensi kaya gas.

Pertemuan pendahuluan untuk menolak kemungkinan perpindahan terjadi di Ain El-Tineh awal pekan ini, media lokal Naharnet melaporkan.

Setelah pertemuan itu, Anggota Parlemen Lebanon Yassine Jaber mengatakan kepada wartawan: “Yang penting adalah bahwa kami telah mengembalikan negosiasi ke Naqoura, setelah mereka mencoba untuk memindahkan pembicaraan ke Jenewa atau Paris.”

“Adalah hal yang baik bahwa kami mempertahankan negosiasi di Naqoura dan perlu bagi komite militer untuk meluangkan waktu¬† mempersiapkan arsipnya,” tambah Jaber.

Pada bulan Desember, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan penyesalan bahwa negosiasi telah macet dan menawarkan untuk menengahi pembicaraan membantu memulai kembali dialog.

Pembicaraan tidak langsung antara Israel dan Lebanon dimulai pada Oktober setelah diplomasi AS yang tenang membawa negara-negara, yang secara teknis berperang itu, ke meja perundingan.

Kedua negara telah menyelesaikan tiga putaran negosiasi sebelum pembicaraan terhenti ketika Israel menuduh Lebanon tidak konsisten.

Pada saat itu, Menteri Energi Israel Yuval Steinitz men-tweet: “Lebanon telah mengubah posisi di demarkasi perbatasan laut dengan Israel tujuh kali.”

“Pendirian Lebanon saat ini tidak hanya bertentangan dengan sikap sebelumnya tetapi juga menentang posisinya di perbatasan laut dengan Suriah yang mencakup pulau-pulau Lebanon yang dekat dengan perbatasan,” ujar Steinitz.

“Setiap negara yang berusaha untuk sejahtera di kawasan kita dan ingin mengembangkan sumber daya alam dengan aman, harus mematuhi prinsip stabilitas dan menyelesaikan sengketa atas dasar apa yang Israel dan Lebanon serahkan kepada PBB,” menekankan bahwa “setiap penyimpangan dari itu akan mengarah pada jalan buntu dan mengkhianati aspirasi masyarakat di kawasan itu. ”

Sebagai tanggapan, Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan perselisihan antara kedua negara dapat diselesaikan dan menyatakan keinginan untuk melanjutkan negosiasi.

Masih belum jelas apakah, atau kapan, negosiasi akan dilanjutkan. (T/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)