Lebanon Minta Penangkapan Pemilik dan Kapten Kapal Pembawa Pupuk ke Pelabuhan Beirut

Kapal Rhosus. (Foto: Wikipedia, CC BY)

Beirut, MINA – Pemerintah Lebanon pada Kamis (1/10) meminta surat perintah penangkapan internasional untuk pemilik dan kapten kapal Rusia pengangkut pupuk bertahun lalu, dalam kasus ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut, kata sumber pengadilan.

Ledakan ratusan ton amonium nitrat pada 4 Agustus menewaskan lebih dari 190 orang, melukai ribuan orang, dan memporak-porandakan sebagian besar Ibu Kota.

The Rhosus, kapal kargo berbendera Moldova yang berlayar dari Georgia menuju Mozambik, diketahui secara luas telah membawa material tersebut ke Beirut pada 2013.

Fadi Sawan, hakim yang memimpin penyelidikan Lebanon atas kasus ini, “mengeluarkan dua surat perintah penangkapan untuk pemilik Rhosus … serta kapten kapal,” kata sumber pengadilan, demikian Times of Israel melaporkan.

Kapten kapal secara luas disebut bernama Boris Prokoshev, seorang warga negara Rusia.

Polisi Siprus pada Agustus lalu menanyai Igor Grechushkin, seorang warga negara Rusia yang awalnya digambarkan sebagai pemilik kapal, tetapi penyelidikan oleh Proyek Pelaporan Kejahatan dan Korupsi Terorganisir menyebut, pemilik terakhir bernama Charalambos Manoli, seorang raja perkapalan Siprus. Namun, klaim itu dibantah oleh Manoli.

Hakim memberikan nama “ke penuntut publik, yang kemudian akan merujuknya ke Interpol dan memintanya untuk mengeluarkan pemberitahuan internasional untuk penangkapan mereka,” kata sumber pengadilan.

Tidak segera jelas mengapa Lebanon menganggap kedua individu itu bertanggung jawab atas peristiwa pengangkutan pupuk yang terjadi bertahun-tahun lamanya, yaitu ketika terakhir kali keduanya bersinggungan dengan kapal dan muatannya.

Sumber pengadilan menambahkan, seruan hakim itu muncul setelah pefugas peradilan dan keamanan Lebanon bulan lalu mengunjungi Siprus untuk menanyai pemilik kapal di kediamannya.

Setelah tiba di Lebanon pada 2013, kapal Rhosus menghadapi “masalah teknis”. Pejabat keamanan Lebanon mengatakan, kapal itu disita setelah sebuah perusahaan Lebanon mengajukan gugatan terhadap pemiliknya.

Para pejabat mengatakan, otoritas pelabuhan menurunkan amonium nitrat dan menyimpannya di gudang pelabuhan rusak yang retak di dindingnya.

Rhosus kemudian tenggelam di pelabuhan Beirut beberapa tahun setelah tiba.

Lebanon telah menolak penyelidikan internasional atas bencana terburuk di negara itu, tetapi penyelidikannya dibantu oleh para ahli asing, termasuk dari FBI dan Perancis.

Sejauh ini telah ditangkap 25 orang sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung, termasuk pejabat pelabuhan dan bea cukai. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)