Hari Raya Idul Fitri, hari yang dinanti-nanti. Beberapa daerah di Indonesia terutama di Jawa menggunakan istilah Lebaran untuk Idul Fitri.
Lebaran artinya usai, sudah, menandakan berakhirnya waktu puasa.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai lebaran dapat, nilai-nilai ibadah puasa tidak berlanjut alias lubaran (bubaran).
Lebaran ke tempat wisata, boleh-boleh saja. Tapi ingat jangan sampai bercampur lelaki perempuan, berpacaran, nambah dosa. Itu maknanya lebaran tapi imannya bisa lubaran.
Baca Juga: Suasana Idul Fitri di Berbagai Negeri Muslim
Lebaran tiba, makan foya-foya, tidak peduli sekitarnya, itu pun mengandung makna telah lubaran pula hakikat menahan diri Puasa sebulan penuh, dan lupa solidaritas sesama.
Ya, lebaran baju baru, makanan baru, uang baru dan semua serba baru. Tak terasa pamer segala yang baru itu.
Tentu yang terbaik adalah iman yang terbarukan, karena telah diperbaharui dengan berbagai amalan kebajikan.
Pepatah Arab mengatakan:
Baca Juga: Land Day Palestina, Sebuah Tuntutan Keadilan, Seruan bagi Dunia
لَيْسَ عِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ, بَلْ عِيْدُ لِمَنْ تَقْوَاهُ يَزِيْدُ
Artinya: “Bukanlah ‘Ied itu untuk yang berpakaian baru semata. Namun sebenarnya ‘Ied itu yang bertambah takwanya”.
Inilah lebaran waktu untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama. Jangan sampai perasaan saling menghormati dan menyayangi yang tercipta selama Ramadhan, bubaran begitu saja. Persaudaraan antar umat Islam harus tetap dijaga, tidak hanya di hari raya, tetapi sepanjang tahun.
Selamat berlebaran Hari Raya Idul Fitri 1446 H, mohon maaf lahir dan batin, minal aidin walfaizin, taqobbalallahu minna waminkum. Aamiin. []
Baca Juga: Indahnya Merayakan Idul Fitri di Dukuh Sambungkasih, Ketika Maaf Menjadi Bahasa Universal
Mi’raj News Agency (MINA)