Lebih 200 Tentara Anak Dibebaskan di Sudan Selatan

Anak-anak di Sudan Selatan dipaksa oleh kelompok-kelompok bersenjata untuk menjadi tentara (Foto: Istimewa)

Juba, MINA – Sebanyak 207 tentara anak laki-laki dan perempuan dilepaskan oleh kelompok-kelompok bersenjata di Sudan Selatan, yang sebelumnya merekrut mereka, kata PBB.

Pelepasan ini merupakan bagian dari serangkaian pelepasan yang direncanakan dengan target  1.000 anak  dalam beberapa bulan mendatang, The Asian Independent melaporkan, Jumat (20/4).

Prajurit anak yang dibebaskan pekan ini berasal dari Bakiwiri, sebuah komunitas pedesaan di negara bagian Equatoria Barat. Anak-anak tersebut terdiri 112 laki-laki dan 95 perempuan yang berasal dari Gerakan Pembebasan Nasional Sudan Selatan dan Oposisi Tentara Pembebasan Rakyat Sudan.

Langkah itu, difasilitasi oleh Badan Anak Internasional PBB (UNICEF), menyusul pembebasan 300 anak-anak oleh kelompok-kelompok bersenjata pada awal Februari, badan PBB melaporkan, Rabu (18/4).

“Tidak boleh ada anak yang harus mengambil senjata dan bertarung,” kata Mahimbo Mdoe, kepala program UNICEF di negara tersebut.

Untuk setiap anak yang dibebaskan, hari ini menandai dimulainya kehidupan baru.

“Kami bangga mendukung anak-anak ini ketika mereka kembali ke keluarga mereka dan mulai membangun masa depan yang lebih cerah,” kata Mdoe.

Namun para pejabat mencatat bahwa sekitar 19.000 anak masih berada dalam kelompok bersenjata di Sudan Selatan, yang melanggar hukum internasional.

Para tentara anak yang dibebaskan pekan ini akan menjalani pemeriksaan medis dan menerima konseling serta dukungan psikososial sebagai bagian dari program reintegrasi, menurut UNICEF.

Setelah pulang, mereka juga akan memiliki akses ke pelatihan kejuruan serta layanan pendidikan khusus di sekolah dan pusat pembelajaran yang dipercepat.

Keluarga mereka juga akan diberikan bantuan makanan selama tiga bulan untuk mendukung reintegrasi, menurut PBB.

PBB memperingatkan, terjadinya konflik yang berlama-lama di negara termuda di dunia ini, risiko bahwa anak-anak masih berada di tangan milisi akan digunakan dalam pertempuran.

“Selama perekrutan dan penggunaan anak-anak oleh kelompok-kelompok bersenjata terus berlanjut, kelompok-kelompok ini gagal dalam komitmen mereka untuk menegakkan hak-hak anak di bawah hukum internasional,” kata UNICEF menekankan.

Ketika perundingan perdamaian dilanjutkan, badan PBB telah meminta semua pihak yang terlibat konflik untuk mengakhiri penggunaan anak-anak dan segera melepaskan semua anak di jajaran mereka.

Sejak memperoleh kemerdekaan pada tahun 2011, Sudan Selatan telah menghabiskan sebagian besar periode intervensi dan terjebak dalam konflik akibat pertentangan politik antara Presiden Salva Kiir dan mantan Wakil Presiden Riek Machar yang meletus menjadi perang pada akhir 2013. (T/B05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)