Lebih 50 Ribu Muslim I’tikaf di Masjidil Haram

Makkah, 26 Ramadhan 1437/1 Juli 2016 (MINA) – Lebih dari 50.000 umat Muslim laki-laki dan perempuan melakukan itikaf di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

“Selama masa i’tikaf jamaah tidak akan pergi keluar dari masjid untuk tujuan duniawi, kecuali untuk kebutuhan penting, dan mengabdikan seluruh waktu mereka untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak shalat serta memohon ampunan dan berkah dari Allah,” kata seorang ulama setempat.

Media setempat Saudi Gazette melaporkan, yang melakukan itikaf termasuk orang tua, pemuda, orang kaya dan orang miskin, melalui waktu dalam suasana yang benar-benar spiritual penuh dengan iman kepada Allah. Setiap  mereka mencoba untuk lebih dekat dengan Allah melalui shalat, ibadah dan pengagungan nama-Nya.

Beberapa di antaranya mulai i’tikaf pada hari Kamis dan Jumat untuk mendapatkan tempat di dalam masjid.

Pihak Kerajaan Saudi untuk Urusan Dua Masjid Suci telah mengalokasikan dua tempat khusus untuk i’tikaf keluarga Raja, yaitu di lantai dua Ruang Raja Abdullah dan lantai bawah tanah Ruang Raja Fahd.

Seorang pejabat kerajaan yang duduk i’tikaf di ruang keluarga Kerajaan menolak untuk berbicara kepada pers.

Umat yang melakukan ibadah umumnya ingin ibadah semata-mata untuk mencapai keridhaan dan pahala Allah dan tidak untuk mendapatkan nama atau ketenaran.

Salah satu dari mereka hanya memperkenalkan diri sebagai staf dari sebuah perusahaan di Provinsi Barat Saudi.

“Selama 20 tahun terakhir saya secara khusus menyediakan waktu sekitar 15 hari dari cuti tahunan saya untuk beri’tikaf di Masjidil Haram, mencurahkan waktu saya dalam ibadah,” kata seorang jamaah, yang lebih suka untuk menjaga nama keluarganya dengan tanpa nama.

Ia melakukan umrah bersama isteri dan anak-anaknya dan kemudian membawa mereka kembali ke rumah. Setelah itu ia kembali ke Masjidil Haram untuk beri’tikaf.

Ia hanya membawa tas untuk menyimpan pakaiannya selain Al-Qur’an.

“Ini adalah tempat saya untuk I’tikaf. Saya tidak akan pergi keluar kecuali untuk hal-hal penting. Saya akan meninggalkan masjid ini nanti pada malam sebelum Idul Fitri, insya-Allah,” jelasnya.

“Saya merasa sangat senang dapat beri’tikaf di masjid ini dan menghabiskan waktu dalam dengan shalat, ibadah lainnya dan taqarrub,” imbuhnya.

Lainnya, seorang pria muda berumur kisaran 30 tahun, yang juga menolak untuk memberikan namanya. Dia mengatakan pengalaman i’tikafnya mulai tahun lalu dan ia juga mengijinkan waktu penuh untuk istrinya beri’tikaf juga di bagian perempuan.

“Kami hanya bertemu ketika keluar untuk keperluan makanan dan kemudian kita kembali ke dalam masjid,” ujarnya.

“Pernikahan kami berlangsung bulan Sya’ban lalu dan bulan berikutnya yaitu Ramadhan ini saya melakukan i’tikaf atas dorongan isteri saya. Alhamdulillah, dengan karunia Allah, saya berada di sini untuk i’tikaf. Saya sangat senang dan saya akan terus beribadah di sini sepanjang akhir Ramadhan ini, mengingat kenikmatan spiritual yang saya terima dengan melakukan hal ini,” ujar lelaki muda, kali ini menyebut nama Ahmad.

“Saat saya hendak i’tikaf awalnya saya agak sakit. Namun, bismillah tetap saya penuhi untuk i’tikaf, dan alhamdulillah malah sehat dan terus sampai selesai Ramadhan. Mereka yang telah merasakan ibadah ini tentu tidak akan melewatkannya, karena mereka akan mengabaikan semua kesulitan,” kata Ahmad.

Ada juga Ahmed Saleem yang mengatakan bahwa ia tinggal di Masjidil Haram dari tanggal 15 Ramadhan.

“Selama 25 tahun terakhir saya telah melakukan I’tikaf di masjid,” ujarnya yang kali ini ia i’tikaf bersama dengan kedua puteranya.

Ketua Imam Besar Masjdil Haram Syaikh Abdul Rahman As-Sudais, telah memberi instruksi khusus kepada seluruh petugas Masjidil Haram untuk mengurus umat Muslim yang melakukan i’tikaf di masjid dan memastikan mereka dalam suasana spiritual.

Tahun ini pengurus masjid telah mengalokasikan lebih dari 2.000 loker untuk peserta itikaf. Dia mengatakan dua tempat dialokasikan untuk itikaf yang dapat menampung sekitar 100.000 jamaah.

“Kami menyediakan jamaah di sini dengan bimbingan yang diperlukan melalui tausiyah-tausiyah, untuk mendorong mereka menghabiskan waktu mereka secara total ibadah dan menghindari gangguan. Kami juga mendistribusikan pamflet tentang cara melakukan i’tikaf yang sempurna. Kami juga melakukan inspeksi keliling untuk mengetahui praktik-praktik yang salah dan memperbaikinya segera,” tambah Syaikh As-Sudais. (T/P4/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

http://saudigazette.com.sa/saudi-arabia/50000-performing-itikaf-holy-haram/