Lima Kiat Sukses Dakwah di Era Digital

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Di ini peran seorang dai makin tertantang. Bagaimana tidak, seorang dai dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya dihadapkan dengan teknologi masa kini. Bukan hanya itu, seorang dai juga dihadapkan dengan mad’u (obyek ) yang sudah semakin kritis memilah dan memilih pesan dakwah yang disampaikan.

Setidaknya, agar dakwah di era digital ini menjadi lebih efektif disampaikan kepada khalayak, maka ada beberapa sarana dan metode dakwah yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.

Pertama, optimalkan semua potensi. Dalam berdakwah, seorang dai harus mau dan memaksa dirinya untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada demi mengajak manusia kepada jalan kebaikan. Terkait dengan potensi dakwah ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan Ihsan (sempurna) dalam segala hal.” (HR Muslim).

Ini artinya, seorang dai dalam berdakwah harus benar-benar menguasai konten apa yang akan disampaikan. Jangan hanya sekedar meniru atau mengambil dari media tanpa melakukan chek and re-chek (tabayyun), mendalami secara benar-benar terlebih dahulu atas informasi yang akan disampaikan.

Kedua, banyak melakukan study banding berbagai sumber. Hal ini bisa dibaca dari kisah Nabiyullah Musa AS dan Nabi Khidir AS dalam Al Gur’an (QS. Al Kahfi/18 : 60-82). Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah kedua nabi mulia di atas.

Begitulah seharusnya seorang dai di era digital ini. Sudah seharusnya ia melakukan riset secara matang dari berbagai sumber, sebab obyek dakwah di era digital ini semakin majemuk dan tentu saja berasal dari latar belakang serta tingkat pendidikan yang berbeda.

Jika dakwah yang dilakukan seorang dai minim riset, maka pesan yang disampaikan terkesan seperti memakai kaca mata kuda. Cara pandang kaca mata kuda ini tentu saja akan menimbulkan efek negatif dan ragam reaksi yang sebenarnya tidak diinginkan dari pihak lain. Maka di sinilah pentingnya riset.

Seorang pendakwah, memang tugasnya bukan menyenangkan semua orang sebab hal itu sesuatu yang mustahil. Namun, seorang pendakwah hendaknya mengetahui dengan benar berbagai sudut pandang agar pesan dakwah yang disampaikannya bisa mewakili berbagai audien dakwah yang tentu saja berbeda latar belakang.

Ketiga, berhati-hatilah dengan kepentingan golongan. Jauhi sikap ta’ashub (fanatik), baik dengan pemikiran, aliran, kelompok ataupun pendapat pribadi. Allah berfirman pada Qs. Al Maidah: 8,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah dan menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Ma’idah /5:8)

Selalulah ber-husnuzhan (berbaik sangka) dan berusaha merangkul semua pihak, termasuk yang berbeda pandangan. Sebab dakwah yang santun dan inklusif akan lebih diterima oleh hati nurani, dibandingkan dakwah yang eksklusif dan penuh dengan caci-maki dan fanatisme kelompok.

Keempat, dakwah itu kerja tim. Dalam dakwah di era digital, maka seroang pendakwah perlu mengoptimalkan kerja tim (teamwork), bukan single fighter atau one man show yang akan merepotkan dan menyulitkan dirinya sendiri, baik saat mencari tema, melakukan riset maupun memperkaya sumber-sumber data yang akan disampaikan.

Jangan sekali-kali menganggap remeh kerja tim ini. Sebab dakwah perkara besar, maka seorang dai harus melakukannya dengan kemasan yang menarik, indah dan mudah diterima. Untuk bisa sukses dalam dakwah di era digital ini, maka kerja tim menjadi sebuah keharusan.

Allah Ta’ala berfirman dalam Qs. Al Anfal: 73,

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ اِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الْاَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌۗ

“Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal Ayat 73).

Jika orang-orang kafir saja dalam melakukan kerja “dakwah”nya saja mereka saling melindungi, menguatkan satu dengan lain untuk menyukseskan agendanya, lalu bagaimana mungkin seorang dai juga tidak melakukan kerja-kerja tim seperti yang mereka lakukan?

Kelima, hindari kepentingan sesaat dalam berdakwah. Tak jarang seorang dai karena sudah tenar, dia tergoda dengan kepentingan dunia yang sesaat. Jika dunia sudah menjadi tujuan dalam dakwah, maka misorientasi dakwah akan terjadi. Bukan tidak boleh berharap dunia, hanya saja fokus utama dakwah itu adalah mengharap pahala dari Allah. Nanti, biarlah Allah Ta’ala yang akan membalas segala jerih payah dari dakwah yang sudah dilakukan itu.

Kepentingan sesaat dalam dakwah itu bisa berupa popularitas, yang sering mengakibatkan seorang Da’i menjadi tokoh selebritis yang menghalalkan segala cara demi meningkatnya followers atau subscribernya, dibanding membawa misi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah.

Bila dunia menjadi tujuan dalam dakwah, maka perhatikan firman Allah Ta’ala berikut ini,

فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَاۤءَكُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

“Maka di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.” (Qs. Al Bagarah, 2:200)

Itulah di antara kiat dakwah di era digital. Semoga Allah Ta’ala senatiasa memudahkan semua urusan para dai dalam menyampaikan setiap kebenaran dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)