“LINDUNGI buruh, lindungi buruh.” Kalimat lirih itulah yang menjadi pesan terakhir aktivis disabilitas dan tokoh pergerakan mahasiswa era 1990-an, Fikri Thalib, sebelum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (29/8/2025) pukul 17.05 WIB.
Sejak kecil, Fikri Thalib harus menghadapi kenyataan berat. Penyakit polio merenggut kekuatan kakinya dan menempatkannya di kursi roda sepanjang hidup. Namun, kekurangan itu tak pernah menjadi penghalang untuk terus bergerak, berjuang, dan menginspirasi banyak orang.
Semangatnya mulai terlihat sejak ia masih mahasiswa. Fikri aktif dalam berbagai gerakan, terutama perjuangan untuk kesejahteraan kaum buruh. Baginya, kursi roda bukanlah batasan, melainkan kendaraan perjuangan. Dari kampus hingga jalanan, ia selalu hadir, menyuarakan suara mereka yang sering tak terdengar.
Demi mobilitas, Fikri bahkan memodifikasi sendiri mobil yang digunakannya. Gas, rem, hingga kopling, semua ia ubah agar bisa dikendalikan dengan tangan. Dengan ketekunan itu, ia tetap mampu berkeliling ke berbagai daerah, bertemu para aktivis, berdiskusi, dan menyalakan api perjuangan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Ketika Nabi Sulaiman Memperbarui Masjidil Aqsa
Kepribadiannya dikenal teguh dan mandiri. Ia tak suka bergantung pada orang lain. Hidupnya dijalani dengan sederhana, namun penuh idealisme. Kata “menyerah” seolah tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Justru keterbatasan itulah yang menguatkan dirinya untuk selalu berdiri di garis depan perjuangan, meski tanpa bisa benar-benar berdiri secara fisik.
Tokoh nasional Anies Baswedan mengenang almarhum Fikri Thalib, saat-saat terakhir pertemuan mereka berdua.
“Siang tadi, saya sempat menjenguknya di rumah sakit. Kondisinya memang lemah, namun wajahnya tetap menyimpan keteguhan yang sama seperti dulu.” kenang Anies.
Beberapa waktu sebelumnya, Anies Baswedan pun datang menjenguk, tepat menjelang salat Jumat. Kehadiran sahabat dan kawan seperjuangan adalah penguat di tengah sakit yang dideritanya.
Baca Juga: Fenomena Riya’ Digital: Bahaya Pamer Ibadah dan Gaya Hidup di Media Sosial
Malam sebelumnya, dalam keadaan setengah sadar, Fikri masih sempat berucap lirih. Kalimat itu sederhana, namun sarat makna, seakan menjadi pesan terakhir yang ingin ia titipkan. Kata-kata yang lahir dari ketulusan seorang pejuang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang banyak.
Fikri Thalib bukan hanya sosok aktivis. Ia adalah simbol bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa membatasi kekuatan jiwa. Dari kursi roda, ia menyalakan semangat yang akan terus hidup di hati mereka yang mengenalnya. Semangat untuk berjuang, untuk mandiri, dan untuk tidak pernah berhenti berharap pada perubahan yang lebih baik.
Almarhum wafat pada usia 63 tahun, setelah sepanjang hidupnya konsisten memperjuangkan hak-hak buruh serta membela kemerdekaan Palestina. Jenazah disemayamkan di Masjid Silaturahim, Cibubur, Jakarta Timur, dan dimakamkan Sabtu (30/8) di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan, usai Salat Zhuhur.
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, turut menyampaikan belasungkawa mendalam. Ia menegaskan bahwa meski hidup dengan keterbatasan fisik akibat polio sejak kecil, semangat perjuangan Fikri justru melampaui banyak orang.
Baca Juga: Tadabur Rekayasa Jalan Raya, Ikhtiar Menuju Keselamatan Berkendara
“Saya mengenal almarhum ketika sama-sama aktif di gerakan mahasiswa. Meski beliau harus menggunakan kursi roda, semangatnya luar biasa. Bahkan ia sering hadir ke Yogyakarta dengan mobil yang dimodifikasi sendiri untuk menyampaikan pesan perjuangan,” kata Anies di Cibubur, Sabtu (30/8).
Menurut Anies, Fikri adalah aktivis yang konsisten membela Palestina dan demokrasi sejak usia muda.
“Hari-hari ini kita bisa bersaksi, almarhum telah mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan keringatnya untuk Palestina sejak usia belia hingga akhir hayat,” ujarnya.
Anies juga mengisahkan kunjungannya ke RSPAD sehari sebelum Fikri wafat. “Dalam kondisi lemah, beliau masih menggenggam tangan saya dengan kepalan dan jempol teracung, tanda semangat yang tidak pernah padam,” kenangnya.
Baca Juga: Bersaudara Karena Allah
Selain aktif di gerakan mahasiswa, Fikri juga tercatat sebagai anggota MPR RI periode 1998–1999, bagian dari parlemen pasca-Reformasi.
Bagi rekan seperjuangan, Fikri adalah teladan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tetap berada di garis depan perjuangan rakyat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 7 Alasan Rakyat Palestina Yakin Indonesia Bantu Perjuangannya